
Atas bantuan Miland, Angga bisa tahu keberadaan Nila. Dia melajukan mobil menuju salah satu rumah sakit yang ada di Hokkaido. Dia juga sudah mengantongi posisi ruangan milik wanita pengkhianat itu.
Angga berpura-pura menjadi pasien untuk bisa bertemu dengannya. Beruntung Nila tidak mengenalinya, jadi Nila memintanya berbaring untuk diperiksa seperti pasien yang lain.
Saat Nila berbalik, Angga segera menyuntik Nila. Suntikan itu berisi cairan mematikan yang sangat langka.
Dibutuhkan biaya yang sangat besar untuk membuat cairan itu. Makanya sangat jarang mafia yang menggunakannya untuk melumpuhkan target.
Ada harga ada barang. Begitulah gambaran cairan itu, harganya mahal tapi efeknya sangat membantu para pemiliknya.
Saking luar biasanya, keberadaan cairan itu tidak dapat dideteksi oleh para dokter.
Korban yang disuntik dengan cairan itu, justru terdeteksi sebagai orang yang terkena serangan jantung. Otomatis tidak ada yang tahu, bahwa itu sebenarnya kasus pembunuhan.
Di depan mata Angga, Nila terjatuh tak sadarkan diri. Melihat Nila terkulai di lantai, Angga bergegas melarikan diri dari rumah sakit itu.
Dia mengendara di atas kecepatan normal. Mobil yang dia gunakan saat ini, langsung dia bawa ke markas Yakuza.
“Terima kasih untuk bantuanmu. Kalau suatu saat nanti kamu butuh bantuan, segera hubungi aku. Jangan lupa juga mampir di markasku kalau ke Indonesia,” ungkap Angga sebelum kembali ke hotel.
“Sama-sama. Saya pasti ke markasmu kalau ada kunjungan ke Indonesia.” Yakuza memberikan salam hormat ala orang Jepang pada Angga.
Di perjalanan menuju hotel, adegan di rumah sakit tadi terngiang-ngiang di kepala Angga. Dia masih begitu ingat bagaimana Nila tergeletak di depannya tadi.
Angga meraih gawainya, kemudian menghubungi Murad. “Alisha mana?”
“Dia ada di kamar bos. Bagaimana dengan Nila?”
“Nanti saja bahasnya. Pastikan dulu Alisha tidak kemana-mana!”
“Baik bos.” Angga lalu menghampiri Alisha.
Alisha yang merasa lapar, malah mengajak Murad untuk keluar mencari kedai ramen halal di sekitaran situ.
“Bos bilang jangan kemana-mana dulu!” cegah Murad.
“Tahan saja dulu rasa laparmu itu. Daripada bos mengamuk nanti, kita berdua juga yang kena batunya. Apa kamu tidak takut kalau dia marah?”
“Takut.”
“Makanya kamu di sini saja! Duduk yang manis, tunggu dia pulang.”
“Memangnya bagaimana cara duduk yang manis?” tanya Alisha setengah bercanda.
“Serius mau tahu?” tanya Murad yang justru membuat Alisha penasaran. Saking penasarannya, Alisha mengangguk cepat.
“Duduk di situ sambil pakai lingerie. Kamu pasti manis sekali di mata bos. Kamu akan dikunyah seperti permen karet.” Murad tertawa keras, lalu meninggalkan Alisha sendiri di kamar.
Kenapa dia pergi? Apa dia pikir aku akan mengikuti ide nyelenehnya itu? Duduk menunggu kak Angga dengan memakai lingerie? Iyyuhh. Tidak akan pernah.
Tak lama setelahnya, Angga tiba di hotel. Dia bergegas mendatangi Alisha. Seperti sebelumnya, Angga yang tampak sangat ketakutan langsung memeluk perempuan itu.
Alisha yang kini berada di dalam dekapan Angga, mengelus-elus belakang lelaki yang tengah ketakutan itu.
Dari ekspresinya, kak Angga pasti sudah menghabisi Nila. Kalau sedang begini, dia seperti anak kecil yang butuh pelukan ibunya.
“Aku sangat lelah Alisha.”
“Iya, kalau lelah istirahat kak. Kakak tenang saja, tidak ada polisi di sini. Kakak sudah aman kok, tidak ada yang membuntuti kakak.”
“Aku takut tertangkap.” Angga menyandarkan kepalanya di bahu Alisha.
“Kalau takut tertangkap, jangan membunuh
kak.” Alisha terus mengelus belakang suaminya itu.
“Aku mau tidur sambil peluk kamu.” Angga membaringkan Alisha di sampingnya, lalu tertidur sambil memeluk sang istri.