Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Model



Para mafia asal Italia itu harus kembali, karena mereka memiliki banyak kesibukan yang harus diselesaikan.


Mereka pun pamit pada Angga. “Thanks a lot for your nice service.”


“You are welcome brother.” Angga kemudian mengantar para mafia itu pergi.


Tak lama setelah kepergian mafia luar negeri itu, Anabel datang. Kedatangannya di markas tersembunyi itu menimbulkan tanda tanya besar di benak Alisha.


Apa Anabel anggota mafia juga? Bagaimana bisa model papan atas sepertinya bisa berkomplotan dengan mafia? Entahlah, itu bukan urusanmu Alisha.


Alisha memukul kepalanya untuk menepis semua praduga yang berenang di kepalanya. Dia yang sangat senang bisa melihat Anabel secara langsung, bergegas mendekati perempuan populer itu.


Alisha memastikan terlebih dahulu. “Kakak yang model terkenal itu ya?”


“Iya, kenapa?” balas Anabel judes.


Ternyata sikap aslinya beda dengan yang dia tampakkan di TV. Kalau di TV, dia ramah sekali. Giliran bertemu langsung, ternyata jutek sekali.


“Teman saya ada yang fans sekali ke kakak. Kalau tidak keberatan, boleh tidak saya foto sama kakak? Mau saya perlihatkan ke dia kak.”


“Boleh, tapi satu kali saja ya.”


“Iya kak. Iya,” balas Alisha dengan raut muka bahagia. “Nila, tolong foto kami!” lanjutnya.


Nila kelihatan canggung melakukannya.


Sepertinya Alisha belum tahu kalau Anabel ini pacar suaminya. Anabel juga pasti belum tahu kalau Alisha ini istrinya bos. Beginilah resiko jika punya pacar tapi dipaksa orang tua menikahi perempuan lain.


Sebisa mungkin, Nila berusaha tampak tenang. “Sudah,” ucapnya seraya mengembalikan gawai Alisha.


“Terima kasih Nila.”


“Sama-sama, Alisha.”


“Terima kasih kak Anabel.” Ucapan terima kasih dari Alisha hanya ditanggapi gumaman oleh Anabel. It is okay dia judes, yang penting sudah ada fotonya di aku.


Anabel yang memanggil nama Angga tanpa mengatakan bos membuat Alisha berpikir lebih jauh lagi. Sebenarnya ada hubungan apa kak Anabel dengan kak Angga? Mereka sepertinya sangat akrab. Bukan hubungan antara bos dan bawahan seperti yang lain.


“Bos Angga pergi mengantar mafia dari Italia,” balas Nila.


Angga yang pergi mengantar ternyata sudah kembali. Dia langsung menyahuti kekasihnya itu. “Aku di sini sayang.”


Alisha tersentak mendengar sahutan Angga. Sayang? Apa mereka sepasang kekasih?


Anabel berlari mendekati Angga. “I miss you so bad sayang,” tuturnya lalu mendekap lelaki cool itu.


Alisha menguatkan diri. Jadi kak Anabel pacarnya kak Angga? Berarti benar dugaanku selama ini. Kak Angga memilih menikahiku karena mau balas dendam.


“Baru juga ditinggal sebentar, kamu sudah bilang miss. Kita kan sudah ketemu tadi sayang,” balas Angga sembari mengusap rambut Anabel.


Alisha bergeming, Jadi waktu aku setengah mati menghabiskan pare pedas itu. Dia justru bersenang-senang dengan kak Anabel. Asli, ternyata kak Angga sejahat itu ke aku. Kak Anabel juga sama brengseknya, dia sudah tahu kak Angga suami dari perempuan lain. Tapi masih saja mau menjalin hubungan dengannya.


Kemesraan Angga dan Alisha semakin membuncah. Mereka langsung menautkan bibir tanpa menghiraukan orang-orang yang ada di situ. Terutama Alisha yang sudah resmi menjadi istri Angga tadi pagi.


Alisha mengelus dada. Tidak ada yang bisa diharapkan lagi dari pernikahanku dengan kak Angga. Sudah sangat jelas tujuan dia menikahiku. Tak ada tujuan lain selain untuk membalaskan dendamnya atas sikapku waktu masih sekolah dulu.


Alisha jadi frustasi menyaksikan itu semua. Terlebih saat menautkan semua rentetan kejadian yang telah dia alami setelah sehari menjadi istri Angga. Tampak jelas, Angga selalu saja sengaja untuk menyusahkannya.


Hancur sudah impian Alisha untuk melunakkan hati Angga. Karena sejatinya, dendam belaka lah yang menyatukan mereka dalam ikatan pernikahan.


Tentunya tidak akan ada cinta untuk Alisha, karena cinta Angga sudah dimiliki seutuhnya oleh Anabel. Yang akan dia terima hanyalah pembalasan dendam dari Angga.


Kamu pasti terluka kan Alisha. Begitulah perasaanku waktu kamu lebih memilih Devan dulu.


Tanpa rasa malu, Angga dan Anabel terus saja bermesraan. Mereka baru berhenti dari aktivitas panas itu saat gawai Angga berdering.


Dengan terpaksa, Angga melepaskan pagutannya dari Anabel. “Aku angkat telepon dulu ya sayang.”


Anabel mengangguk dengan raut wajah seperti anak kecil. Alisha jadi risih menatapnya. Di depan kak Angga dia bersikap seperti anjing yang penurut. Tapi ke orang lain, dia seperti serigala yang lapar.