
Alisha membuka netranya perlahan. Plafon berwarna putih, hal pertama yang ditangkap netra sendunya itu. Dengan begitu, ia tahu betul bahwa ia tengah berada di rumah sakit.
Ia melirik ke samping. Didapatinya Devan juga berada di situ. Lelaki yang selalu baik padanya itu tampak sibuk menghubungi seseorang. Hingga tak sadar, bahwa Alisha yang sudah siuman tengah menatapnya.
Alisha membuka mulut. “Devan ....” ujarnya lirih.
Spontan, Devan memandangi Alisha.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga Sha.”
“Kenapa menyelamatkanku Van? Aku sengaja lompat di danau itu, biar bisa lenyap dari dunia yang kejam ini.” Lagi, bulir-bulir kesedihan menggelinding di parasnya.
“Jangan bicara seperti itu Sha, tidak baik. Lain kali kalau ada masalah, cerita ke aku. Jangan bertindak gegabah lagi ya.”
Sementara di perjalanan menuju rumah sakit, Miland dan Angga saling membesarkan suara.
“Cepat hapus videonya dari sosmed!” bentak Angga.
“Santai saja, tidak usah menggonggong begitu. Believe in me, video senonohmu ini pasti akan kulenyapkan dengan cepat. Tunggu sebentar lagi!”
“Sorry, sorry, I am just afraid kalau video itu terlanjur dinonton banyak orang.”
“Memangnya kenapa kalau dinonton banyak orang? Kamu malu?”
“Ya, malu lah Miland. Kalau ngomong ngotak dikit dong!”
“Makanya, kalau tidak mau malu jangan berbuat hal yang memalukan. Sudah punya istri, tapi masih gatal ke perempuan lain. Ngotak dikit dong sebelum bertindak!”
Umpatan demi umpatan silih berganti keluar dari mulut dua mafia itu. Hingga tak terasa, mereka sudah tiba di area rumah sakit. Mereka cepat-cepat keluar dari mobil, dan bergegas mencari ruangan Alisha.
“Hey, Angga. Kamu kok di sini sih? Kenapa tidak menemani Alisha di ruangan?” tegur Amanda saat mendapati suami dari adiknya itu berjalan tak jauh darinya.
Raut kekhawatiran tergambar jelas di wajah Amanda. Ia yang baru saja mengata-ngatai Alisha, amat menyesali perbuatannya itu. Karena merasa bahwa ia lah penyebab sang adik memutuskan untuk mengakhiri hidup.
“Anu ....” jawab Angga dengan menggaruk kepalanya cepat.
Mereka bertiga pun mengayunkan kaki dengan cepat ke ruangan Alisha. Tak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan ruangan yang dicari.
Amanda lalu membuka pintu ruangan tempat Alisha dirawat, kemudian masuk dengan langkah pelan. Diikuti Miland, juga Angga yang diselimuti rasa bersalah pada sang istri.
“Suruh mereka keluar Van! Aku tidak mau ketemu dengan lelaki biadab itu.” Alisha menunjuk ke arah Angga. “Aku juga tidak mau melihat kak Amanda. Dia jahat,” lanjutnya dengan histeris.
“Kalian berdua tolong keluar dulu! Aku akan panggil kalian masuk kalau kondisi Alisha sudah mau ditemui,” perintah Devan.
Amanda mengangguk, tanpa sepatah kata pun ia keluar. Berbeda dengan Angga yang masih mematung di tempat.
“Kamu juga keluar!” hardik abdi negara yang sedari tadi membersamai istri lelaki jahat itu.
“Apa hakmu menyuruhku keluar? Note this Devan, Alisha sudah jadi istriku. Apa kamu tidak malu mengurusi istri orang? Cihhh, lelaki murahan!”
“Kamu itu yang murahan, main celup sembarangan. Never forget this Angga, Alisha itu sahabatku sejak SMA. So, aku berhak berada di sampingnya di saat-saat terpuruknya. Satu lagi, aku menyuruhmu keluar karena perintah Alisha sendiri. So, silakan keluar! Pintunya ada di sebelah sana,” ejek Devan.
“Jangan sok jagoan di hadapanku!” Saking emosinya, Angga menarik kera baju Devan dengan kasar.
Devan berdiri, dan dengan cepat melepaskan genggaman tangan Angga. “Kamu menantangku ya? Hati-hati bung! Kamu sedang berhadapan dengan seorang polisi.”
“Sok sekali kamu. Kamu pikir orang sepertiku takut dengan polisi ingusan sepertimu? Cihhh, kalau bukan karena kamu sahabatnya Alisha, kamu pasti kubuat babak belur di sini.”
“Uhhh, takut.” Devan tertawa lepas kemudian.
“Aku yang bonyok atau kamu?” lanjutnya dengan nada serius.
Suasana kini kian memanas, sorot kemarahan terpancar amat jelas dari netra kedua lelaki gagah itu.
“Ini KTPnya,” tutur Miland seraya menyerahkan kartu identitas milik Alisha.
Miland kemudian menarik Angga. “Ayo keluar! Jangan buat keributan di sini,” imbuhnya.