
Rembulan menyampaikan kekagumannya pada Anabel. “Aku fans banget sama kakak. Sudah cantik, model, pintar bisnis lagi.”
Anabel mengernyitkan dahinya. “Bisnis?”
“Iya, bisnis. Kata Alisha, kakak dan suaminya menjalankan bisnis. Makanya kakak sering ke sini.”
Angga jadi makin kesal. Apa lagi yang direncanakan Alisha?
“Kak Anabel memang bisnis cairan Lan. Seperti toner, hand body, sama parfum. Iya kan kak?”
“Iya,” jawab Anabel asal.
“ Kalau sama suamiku itu bisnis parfum. Terus yang paling laku itu, yang tempat parfumnya mahal. Padahal harga isinya sebenarnya murahan. Eh, maksudku harganya murah. Suamiku saja suka sekali pakai parfum murah itu. Sampai tiap hari dipakai, padahal aku tidak suka baunya.”
“Tidak boleh begitu kak Angga. Kalau istri tidak suka, jangan dipakai!” pinta Rembulan sewot.
Alisha tersenyum manis sekali. Ini nih yang kusuka dari Rembulan, polosnya natural. Kak Angga dan kak Anabel pasti kena mental. Ha ha ha, serunya.
Anabel yang merasa tersindir, tak tinggal diam. “Seharusnya sih Alisha yang belajar memahami suaminya. Kalau suami suka sesuatu, istri juga harus belajar menyukainya.”
“Aku selalu belajar memahami semua keinginan kak Angga. Seperti aku berharap kak Angga juga bisa melakukan hal yang sama ke aku. Tapi sampai kapan pun, itu hanya akan jadi harapan. Soalnya kak Angga keras kepala.” Alisha tertawa lepas untuk menutupi gundahnya.
Setelah itu, Alisha mengambil gelasnya. “Kita ke samping yuk Lan! Kak Anabel dan kak Angga lagi sibuk bahas bisnis. Kita pasti mengganggu mereka.”
Alisha berjalan keluar tanpa berbalik lagi. “Kenapa tidak bilang dari tadi kalau kakak terganggu? Aku jadi tidak enakan kalau begini,” tukas Rembulan lalu menyusul Alisha yang sudah jauh darinya.
Apa maksud Alisha bilang begitu ya? Mungkin karena dia masih stress kali ya, dengan kejadian kemarin?
“Yang, ke kamar yuk! Istrimu dan temannya sudah keluar,” ajak Anabel.
“Bagaimana kalau mereka masuk lagi? Bisa ketahuan kita sama temannya Alisha itu. Kariermu bisa hancur nanti.”
“Cuma sebentar yang. Ayo dong yang, sudah berapa hari kita tidak melakukannya.”
“Ya sudah, ayo! Tapi cuma sebentar kan?”
Anabel dan Angga beranjak dari ruang tamu mewah itu. Mereka beralih ke kamar, untuk melakukan aktivitas panasnya.
“Rumahmu keren sekali Sha, ada danaunya.”
“Bukan rumahku Lan, rumah suamiku.”
“Rumah suamimu kan rumahmu juga,” balas Rembulan sewot.
“Iya, aku paham Lan. Coba pikir baik-baik! Kalau kak Angga sudah tidak jadi suamiku, otomatis rumahnya bukan rumahku lagi kan?”
“Hush, kalau bicara ya dipikir-pikir dulu Sha.”
“Faktanya memang begitu kan Lan?”
“Iya, tapi kamu baru nikah. Masa’ pembahasanmu perceraian sih,” balas Rembulan sambil menepuk jidatnya.
“Wajar sih Lan. Aku dan kak Angga kan menikah karena dijodohkan. Apalagi kak Angga sering kubully dulu di sekolah.”
“Kamu membully kak Angga?” tanya Rembulan memastikan.
“Iya. Kenapa ekspresimu begitu?”
“Ya aneh, masa’ kamu dulunya pembully sih? Parahnya yang kamu bully laki-laki. Dan sekarang, lelaki yang kamu bully jadi suamimu. Rumit sekali, ini pasti karma yang harus kamu bayar.”
“Lambemu nak.”
“Aku jadi penasran Sha. Sehebat apa sih kamu dulu? Bisa-bisanya kamu membully suamimu yang kekar dan tatoan itu.”
“Waktu masih SMA, kak Angga orangnya culun Lan. Fisiknya lembek, kayak cewek. Makanya gampang dibully.”
“Tapi dia bukan kaum pelangi kan?”
“Bukan lah, cuma fisiknya yang lembek. Aslinya dia normal kok.”