
Masalah satu beres, tapi masalah lain muncul. Tiba-tiba saja, Anabel menghubunginya. “Sayang, aku sudah di bandara sekarang. Aku ke rumah kamu ya. I miss you so much sayang. Kita lewati malam ini bersama ya.”
“Jangan sekarang sayang. Lain kali saja, kalau sikonnya sudah bagus. Kalau sekarang bukan waktu yang tepat, Alisha lagi sakit soalnya.”
“Oh, jadi kamu lebih memilih Alisha daripada aku?”
“Bukan begitu sayang, ta-”
“Tapi kamu sudah jatuh cinta dengan Alisha. Iya kan? Mengaku saja lah kak!”
“No. Aku cuma cinta sama kamu.”
“Baguslah kalau begitu, aku ke situ sekarang.”
Alisha langsung memutuskan panggilan teleponnya. Dia mengarahkan supir taxi ke rumah Angga.
Angga yang frustasi menggaruk kepalanya. Bagaimana ini? Alisha pasti akan marah besar kalau Anabel datang. Apalagi dokter sudah bilang dia hamil. Dia pasti berpikir aku main serong saat dia mengandung anakku. Aish, ribetnya.
Kali ini, Angga meremas rambutnya. Mencari solusi untuk masalah yang tengah dia hadapi. Kenapa juga aku memikirkan Alisha. Tujuanku menikahinya kan memang untuk menyiksanya lahir dan batin. Lagian dia juga tidak hamil beneran kan.
Beberapa menit berlalu. Anabel sudah tiba di depan rumah Angga. Dia yang sudah tidak sabar ingin memadu kasih, langsung mendatangi Angga di kamar.
Anabel segera meletakkan kopernya dan langsung menerkam Angga dengan buas. Mereka berdua kini saling berpagutan satu sama lain.
“Aku bawa wine terbaik dari Prancis sayang,” ungkap Alisha setelah ciuman panas itu.
“My favorite wine. Kamu memang paling mengerti aku sayang.”
Angga dan Anabel kemudian meneguk wine tersebut. Menikmati tegukan demi tegukan. Mereka sangat menikmati, hingga jadi setengah sadar karenanya.
Gerah pun melanda dua pasangan ini. Gerah yang melanda, menyebabkan mereka melepas pakaian masing-masing.
Suara lenguhan terus keluar dari mulut mereka. Lagi dan lagi, tanpa memikirkan perasaan Alisha sebagai istri sah di rumah tersebut.
Erangan penuh kenikmatan mereka itu terdengar di rungu Alisha. Seperti yang Angga prediksikan, Alisha benar-benar sedih dan kecewa mendengarnya.
Baru saja hamil anaknya, dia sudah bercampur lagi dengan kak Anabel. Kukira kak Angga mulai luluh dengan kehamilanku ini. Ternyata aku salah, kak Angga yang dulu kukenal, tidak akan pernah kembali. Dia sudah jadi iblis sekarang.
Setelah agak lama, suara mesra Angga dan Anabel akhirnya tidak terdengar lagi. Rupanya mereka sudah tertidur pulas, dengan posisi saling memeluk tanpa busana.
Subuhnya, Alisha dan mbok Murni melaksanakan shalat subuh bersama. Setelah itu, mbok ke dapur dan Alisha kembali ke kamar.
Tenaga Alisha belum begitu pulih, jadi dia memutuskan untuk berbaring saja di kamar tamu itu. Belum melakukan aktivitas yang lain, karena fisiknya yang belum bersahabat.
Di pagi hari, Angga yang sudah sadar dari mabuknya langsung ke kamar Alisha. Dia ingin memastikan istrinya itu baik-baik saja. “Sudah mendingan?” tanyanya.
Alisha mencium bau alkohol yang menyengat dari tubuh Angga. Aku lagi sakit karena hamil anaknya. Dia malah enak-enakan mabuk-mabukan dengan kak Anabel. The real manusia tanpa hati.
Alisha bergeming, dia berbalik untuk membelakangi Angga. Alisha sungguh muak berurusan dengan Angga.
“Kalau ditanya ya jawab,” tukas Angga dengan suara meninggi setelah mendapat perlakuan begitu dari Alisha.
“Aku tidak pernah baik-baik saja semenjak menikah denganmu kak. Menjadi istrimu membuat hidupku jadi sangat rumit. Tiap hari, ada saja masalah yang menghampiri.”
“Hidupmu jadi seperti ini karena salahmu sendiri Alisha. Semua yang menimpamu setelah menjadi istriku juga karena kejahatanmu yang dulu ke aku. Ternyata benar kata orang, karma pasti selalu berlaku adil.”
Kamu tidak akan berkata seperti ini, kalau tahu keadaan yang sebenarnya kak. “You are right kak. Jadi berhentilah berpura-pura peduli padaku. Karena faktanya, kamu justru akan semakin senang kan kalau aku menderita?”
Alisha tidak dapat lagi menahan sesak di dadanya. Air mata kini membanjiri parasnya. Suara tangis juga berkali-kali lolos dari mulutnya.
Angga yang tidak tahan dengan suasana memilukan itu, beranjak menuju kamarnya. Di sana, dia langsung memeluk Anabel yang masih terlelap.