Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Dua Hati Yang Terluka



Di saat Angga meninggalkan Indonesia untuk kembali ke Jepang, Alisha justru melakukan sebaliknya. Ia kembali ke Indonesia dengan perasaan bahagia bersama Devan. Sama sekali tidak peduli pada perasaan Angga yang ditinggalkan nya.


Keberangkatan yang sama, membuat mereka juga tiba bersamaan di tempat tujuan. Di Indonesia, Alisha merasa amat senang karena bisa bebas dari belenggu Angga. Berbeda dengan Angga yang terluka hebat saat mengetahui Alisha kabur dari markas.


“Dikasih hati minta jantung. Alisha, Alisha, ternyata selama ini kamu manut karena merencanakan pelarian ya. Belum tahu saja kamu karakter sebenarnya yang bersembunyi di balik topeng Devan seperti apa.”


Meski sedang terbakar cemburu, Angga tak langsung melakukan pengejaran. Ia yang lelah lebih memilih untuk beristirahat sejenak, sebelum melakukan aksi perebutan Alisha dari tangan Devan.


Sementara Alisha, ia memegangi kepala nya yang pusing. Sesekali ia juga menutup mulut saat rasa mual menyerang. Melihat itu, Devan membawa nya ke dokter untuk diperiksa.


Di dalam ruangan yang amat bersih dan berpenyejuk udara itu, Alisha disambut hangat oleh perempuan muda yang memakai masker.


Entah kenapa, Alisha merasa tak asing dengan wajah di balik masker itu. Perasaan itu kian membuncah ketika dokter itu menanyakan tentang keluhan nya.


Usai menyimak keluhan Alisha, si dokter langsung mengeluarkan test pack dan memberikan nya pada Alisha. “Coba tes ini dulu! Toilet nya ada di sana,” perintah dokter itu.


Dengan pemikiran yang masih mengambang, Alisha melangkah ke toilet. Melakukan perintah dokter yang dipilihkan Devan itu.


Betapa terkejutnya Alisha saat mendapati dua garis biru terpapar di test pack itu. Baru saja ia membangun harapan setinggi mungkin untuk bisa menikah dengan Devan. Kini harapan itu diporak porandakan oleh hasil test yang muncul.


Alisha keluar dari toilet, ia berjalan seraya menunduk lesu saat menghampiri dokter tadi. Paras nya semakin kalut kala memberikan hasil tes itu. Hancur sudah harapan nya untuk bisa menjadi istri Devan.


“Kok nangis sih? Ibu seharusnya bahagia dengan kehamilan ini,” ungkap dokter di hapadan Alisha itu. Senyum manis turut menghiasi wajah nya saat mengatakan itu.


Tangis Alisha kini pecah, menggema kuat di


ruangan itu. Menyebabkan Devan yang khawatir bergegas masuk.


“Kenapa menangis?”


Tak berkata apa-apa, Alisha memperlihatkan hasil test pack itu sebagai jawaban untuk pertanyaan Devan barusan.


Devan menganga seketika, bilah bambu seakan menancap kuat di hati nya kala melihat dua garis biru di test pack itu.


Bagaimana tidak? Perempuan yang ia rebut dari lelaki yang ia anggap jahat, kini telah mengandung anak lelaki jahat itu.


Diam seribu bahasa, tindakan Devan saat mengetahui kehamilan Alisha. Meski begitu, ia tetap mengikutsertakan Alisha ke sebuah gedung yang agak jauh dari keramaian.


Ia lalu mengarahkan Alisha ke sebuah kamar yang identik dengan warna pink. “Istirahat dulu! Kamu pasti capek kan kelamaan di jet,” ungkap Devan sebelum keluar dari kamar itu.


Devan berjalan ke taman yang ada di depan gedung itu. Tak lama setelah ia duduk, dokter yang menangani Alisha tadi menghampiri nya. Sang dokter mengungkapkan beberapa kata yang berhasil mengubah paradigma Devan.