
“Pakai lipstik sekarang!” perintah Angga.
Alisha mengernyitkan dahinya. “Untuk apa pakai lipstik?”
“Ikuti saja perintahku! Jangan banyak tanya!”
Alisha bergegas ke depan cermin. Dia lalu mengeluarkan lipstik dan memakainya. Kemudian menghampiri Angga setelahnya.
“Sudah,” ucap Alisha yang membuat Angga meletakkan gawainya.
“Itu terlalu tipis. Pakai yang tebal.” Angga kembali memainkan gawainya, sementara Alisha mau tidak mau harus kembali memakai lipstik.
Alisha merasa lipstiknya sudah tebal, dia pun menunjukkannya ke Angga. “Bagaimana dengan ini?” tanyanya.
“Sudah bagus. Now, buka ikat rambutmu!”
“Gerah kak,” tolak Alisha.
Air muka Angga tampak mengerikan setelah penolakan Alisha itu. “Urai rambutmu sekarang kalau kamu tidak mau kejadian di dapur tadi terulang!”
No, dia tidak boleh menyentuh bibirku lagi. Alisha cepat-cepat melepaskan ikat rambutnya.
“Cium pipiku!”
“Hah? Untuk apa?”
“Sudah dari tadi kubilang, jangan banyak tanya!”
Dengan sangat terpaksa Alisha mengecup pipi Angga. Alisha pikir hanya itu saja. Ternyata hal yang tak dia duga terjadi. Angga juga menyuruhnya untuk mengecup dada.
Hal yang paling tidak Alisha duga adalah saat Angga tiba-tiba menodai bibirnya. Seperti sebelum-sebelumnya, Alisha tentu saja meronta.
Angga yang awalnya hanya ingin terlihat telah memadu kasih dengan Alisha enggan untuk melepaskannya. Tanpa sadar, dia sudah kecanduan menikmati bibir istri yang dibencinya itu.
Setelah puas, Angga melepaskan pagutannya. “Tadi kakak bilang tidak akan menciumku kalau aku menuruti perintah kakak,” protes Alisha.
“Saya menciummu supaya malam pertama kita terlihat nyata. Jadi mama benar-benar percaya kalau kita bercinta.”
“Tapi jangan lama-lama juga kali kak. Gara-gara kakak cium terus, bibirku jadi memble.”
Siapa suruh bibirmu manis. “Sekarang buka bajumu!”
“Hah? Harus buka baju juga?”
“Ya iyalah, cepat buka! Sebelum mama menelepon ini.”
Alisha terpaksa membuka bajunya. Di saat yang sama, Angga juga membuka bajunya. Alisha jadi terbelalak melihat lelaki di hadapannya itu.
Jadi kak Angga punya tato? Kenapa dia bisa berubah jadi begini ya? Padahal dulu kak Angga lelaki yang bersih dari tato.
“Kenapa menatapku begitu? Biasa saja dong melihat bodyku yang bagus ini.” Kepedean beut. Yang kulihat kan tatomu kak, bukan bodymu. Iyyuhh.
“Itu juga buka!” tunjuk Angga pada penutup buah dada Alisha.
“Talinya bisa kelihatan mama nanti. Lagian harus adil dong, jangan cuma saya bertelan-jang dada.” Angga menjelaskan terlebih dahulu sebelum Alisha bertanya lagi.
“Tidak boleh di depan lelaki lain, tapi boleh di depan suamimu. Dan kebetulan, saya adalah suamimu. Cepat buka!”
“Tidak mau kak.”
“Tidak mau ya? Kalau begitu biar kubukakan.” Angga mendekat ke Alisha.
“Eeehh, jangan! Jangan mendekat kak! Biar saya yang buka sendiri.”
Alisha membuka penutup dua everestnya secara perlahan karena malu. Angga menelan salivanya saat memandangi keindahan itu. Jangan nafsu Angga! Kontrol dirimu!
Alisha yang menyadari tatapan Angga, langsung menutupi dua gunung emasnya.
“Jangan dilihat terus kak!” ujarnya kesal.
Angga malah semakin dekat dengannya. Mau apa lagi makhluk kejam ini? Jangan sampai dia berbuat yang macam-macam lagi ke aku.
Alisha bergeser ke belakang. “Jangan menghindar terus! Saya cuma mau buat rambutmu berantakan.”
“Biar saya saja.” Dengan cepat Alisha mengabuk rambutnya agar terlihat berantakan.
Di saat yang sama, gawai Angga berdering. Untung saja aku bertindak cepat. Mama ternyata serius dengan ucapannya tadi.
“Pura-pura tidur, cepat!”
Angga pun mengangkat panggilan video dari mamanya. “Kenapa ma?” tanyanya.
“Kamu lupa ya? Mama kan sudah bilang tadi. Mama akan menelepon lagi,” ucap bu Salsa sembari tersenyum malu.
“Astaghfirullah. Maaf ma saya lupa,” balas Angga dengan sedikit berbisik.
Bu Salsa ikut berbisik. “Kenapa bisik-bisik?”
Angga menggaruk kepalanya sambil memasang ekspresi malu. “Alisha sudah tidur ma, mungkin capek.”
“Mama paham kok. Silakan dilanjutkan lagi malam pertamanya. Semoga kalian bisa cepat punya anak ya.”
“Aamiin.” Jangan sampai saya punya anak dari perempuan sombong dan licik seperti Alisha.
Bu Salsa langsung memutuskan panggilannya. Setelahnya, dengan langkah seribu dia menghampiri suaminya yang sedang fokus di depan laptop. “Ada informasi penting pa.”
Pak Sean berhenti mengetik. Dia sangat penasaran ingin mengetahui penyebab istrinya jadi begitu senang. “Apa ma?”
“Sebentar lagi kita akan punya cucu pa.”
“Hah? Jangan ngadi-ngadi ma!”
“Serius pa, tadi aku hubungi Angga. Muka sama dadanya ada bekas lipstik pa.”
“Agresif juga ya si Alisha.” Pak Sean tertawa terbahak-bahak setelah mengucapkan itu.
“Ihh, papa malah ketawa. Bagus dong kalau menantu kita agresif. Kita bisa cepat dapat cucu.”
“Iya deh, iya. Jangan ngambek dong ma!” Pak Sean kini sibuk membujuk bu Salsa yang tengah meradang karena ucapannya.