Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Semua Sama



Di saat mereka berdua bersiap meninggalkan rumah Alisha, tiba-tiba Rembulan datang. Rupanya sahabat Alisha itu merasa terusik kala mendengar tangis sahabat nya.


“Itu suara Alisha kan?” tanya Rembulan.


“Iya,” balas Murad dengan ekspresi datar.


“Kenapa dia menangis?” Rembulan meraih tangan Murad yang bersiap untuk pergi.


Murad melepaskan tangan nya cepat. “Tanya saja sendiri! Dasar perempuan, semuanya sama saja. Sama-sama suka bikin orang lain bingung.”


“Eh, malah pergi. Aku belum selesai ngomong ini.”


“Ngomong sana sama Alisha. Malas aku ngomong sama kamu.” Murad menepuk-nepuk tangan nya yang disentuh Alisha tadi.


“Sok banget tuh laki. Ganteng juga nggak. Sok-sokan membersihkan tangan nya. Memangnya dia pikir tangan ku ini bervirus apa, iyyuhhh.”


Rembulan langsung menekan bell dan bergegas masuk saat Alisha membukakan pintu. Sementara di luar, Murad yang kesal bergegas mengemudikan mobil.


“Murad, Murad. Kapan sih kamu mau berubah?” tanya Miland setelah mereka berada di dalam mobil berpengharum itu.


“Berubah? Aku bukan Power Ranger yang bisa berubah bro. Tunggu, tunggu, berubah apa dulu?”


“Kamu terlalu keras ke semua perempuan. Kalau sikap mu itu terus kamu pertahankan, aku yakin kamu akan jadi bujang lapuk bro.”


“It is okay. Aku memang belum mau menikah. Mending kelamaan single, daripada menikah dengan perempuan yang rata-rata sifat nya seperti si Rembulan itu.”


“Bukan rata-rata, tapi semua. Kayaknya sudah fitrahnya perempuan bersifat cerewet. Atau jangan-jangan kamu belok ya setelah dimanfaatkan mantan pacar mu dulu?”


Miland tertawa pelan.


“Aku masih normal, bro.”


Di dalam rumah Alisha. “Kamu kenapa Sha? Kalau ada masalah, cerita ke aku. Jangan dipendam sendiri!”


Tak menjawab, Alisha hanya menyodorkan surat yang dibawa Murad tadi. Kertas yang bertuliskan tinta hitam itu kini Rembulan baca.


“Iya.” Alisha mengelap air mata.


“Jadi, kamu setuju?” tanya Rembulan yang dibalas gelengan kepala oleh Alisha.


“Keputusan yang tepat. Jangan mau menikah dengan Miland! Dia kan mafia seperti Angga, hidup mu pasti tidak akan tenang lagi kalau jadi istri nya Sha.”


“Tapi aku bingung, Lan.” Perlahan, tangis Alisha semakin menjadi.


“Bingung kenapa? Nggak usah bingung kali! Aku kalau jadi kamu pasti juga menolak keinginan Angga.”


“Melaksanakan wasiat dari orang meninggal itu hukumnya wajib, Lan. Apalagi kak Angga kan suami ku.”


“You don’t need to marry him, Sha. Lagian kak Angga dulu juga sering nyakitin kamu kok. Ngapain kamu masih nurut gitu?”


“Dia memang kejam Lan. Tapi bagaimanapun, dia meninggal karena menyelamatkan aku.” Air mata Alisha masih terus berderai.


“Shalat istikharah saja Sha. Biar Allah yang memilihkan keputusan terbaik buat kamu.”


“Iya, pasti Lan. Malam ini kamu nginap di sini ya.”


“Okay, kapan pun kamu minta.”


Pagi hingga malam, Rembulan memfokuskan diri mendengar semua keluh kesah Alisha. Kehadiran nya benar-benar membuat mood Alisha jadi lebih baik.


Tak terasa, awan gelap di langit perlahan melipir. Rembulan yang tadinya tertutupi awan gelap kini terang benderang. Persis seperti perasaan sedih Alisha yang kian menepi setelah bercurhat ria pada sahabat nya, Rembulan.


Paginya, Alisha meminta Rembulan untuk menemani nya berbelanja. Sialnya, sebuah mobil tiba-tiba melaju kencang ke arah mereka yang tengah berdiri di tepi jalan.


Beruntung ada mobil lain yang tampak tak asing di mata Alisha menyelamatkan mereka. Mobil itu menabrak bagian belakang mobil yang melaju dengan sangat kencang tadi.


“Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Rembulan sigap pada Alisha yang mematung karena shock.