
“Morning kak,” ujar Anabel lalu membalas dekapan Angga.
Angga membelai rambut Anabel. “Kamu sudah bangun sayang?”
“Temani aku ke rumah sakit ya.”
“Mau apa ke rumah sakit?”
“Check kesehatan sayang. Akhir-akhir ini, kepalaku sering pusing. Aku juga mual terus.”
“Iya, nanti kuantar.”
“Tidak sekalian bawa Alisha untuk check juga?”
“Dia sudah diperiksa dokter kemarin.”
“Kata dokter, dia sakit apa?” tanya Anabel penasaran.
Angga memutar otak. Kalau kuceritakan yang sebenarnya, Anabel bisa saja keceplosan membocorkan kalau Alisha tidak hamil. Rencanaku mendapat warisan akan gagal. Kalau begitu, lebih baik kebenarannya kusembunyikan saja dari dia.
“Kata dokter Alisha hamil.”
“Hamil anak siapa? Jangan bilang itu anak kamu yang!”
Angga membisu. “Alisha benar hamil anak kamu yang?” tanya Alisha tidak sabaran.
Seperti tadi, Angga tetap tidak bicara. Tapi kali ini, dia mengangguk. Anabel benar-benar shock karenanya.
Kepala Anabel tiba-tiba sakit lagi. Dia memegangi kepalanya, dan tak lama setelahnya dia terjatuh. Hingga tak sadarkan diri lagi.
Angga langsung membawanya ke rumah sakit. “Dia sakit apa dok?” tanyanya cemas.
“Tidak sakit pak. Istri bapak ini hamil muda. Oh ya, ini vitamin untuk penambah darah. Kalau yang ini untuk mengurangi rasa mual.”
“Terima kasih dok.”
Anabel mulai sadarkan diri. “Aku sakit apa kak?” tanyanya lirih.
“Kenapa kamu hamil di saat seperti ini Bel? Kamu pasti sengaja kan stop konsumsi pil KBnya?”
Anabel membisu, matanya mulai berkaca-kaca. “Kalau sampai kita ketahuan, orang tuaku pasti marah besar. Kita tidak akan dapat apa-apa lagi.”
“Biarkan saja yang. Kita kan masih bisa hidup mewah, walau tanpa harta orang tuamu. Kita bisa mulai semuanya dari awal lagi. Kamu berbisnis dan aku lanjutkan jadi model setelah melahirkan. Banyak juga kok job untuk model yang sedang hamil.”
“Kamu belum tahu ayahku sekejam apa Bel. Kita berdua bisa dilenyapkan. Lagian, pelakor dan tukang selingkuh tidak akan bisa hidup bahagia. Yang ada, kariermu akan redup.”
“Sekejam apa pun orang tua, tidak akan ada tega membunuh anaknya. Bukan aku yang pelakor dalam hubungan kita, tapi Alisha. Gara-gara dia, hubungan kita jadi tidak jelas begini.”
“Gara-gara Alisha kamu bilang? Dulu kamu kuajak nikah, demi apa? Demi memperjelas hubungan kita, tapi kamu lebih mementingkan kariermu. Sekarang, aku sudah punya istri. Kamu malah sengaja mau hamil. Apa sebenarnya yang kamu mau Bel?”
“Setelah kamu menikah dengan Alisha, aku jadi takut kamu lebih mencintai dia. Aku baru sadar, keputusanku selama ini salah. Semua ini kulakukan karena takut kehilangan kamu kak.”
Angga diam saja. “Kenapa kamu diam saja yang? Kamu cinta kan sama Alisha? Selama ini kamu selalu bilang tidak mencintainya, tapi kamu juga selalu mengkhawatirkannya.”
“Aku peduli hanya karena Alisha cinta pertamaku. Makanya tidak mudah untuk menghilangkan rasa peduliku ke dia.”
“Mulai hari ini aku akan tinggal di rumah kamu.”
“Bagaimana dengan Alisha?”
“Alisha lagi, Alisha lagi. Pokoknya aku akan tinggal di rumah kamu.”
“Ta-”
“Tidak ada tapi-tapian kak. Kalau kakak tidak mau, lebih baik aku mati saja.”
“Okay, kamu boleh tinggal di rumah.”
Angga dan Anabel kembali ke rumah. Angga menyetir mobil dengan pikiran yang berlarian. Aku harus lebih mementingkan Anabel daripada Alisha. Dia yang menemaniku selama ini, ditambah lagi dia benar mengandung anakku.