Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Karena Ulah Alisha



Jiwa usil Alisha menggebu-gebu kala melihat Angga. Dia mengambil make up, kemudian merias wajah Angga. Dalam hitungan menit, wajah suaminya yang gagah itu telah dia sulap menjadi wanita cantik.


Tak lupa Alisha memotretnya, lalu mengunggahnya di status WhatsApp dengan caption Anggi. Foto itu otomatis dilihat oleh kontaknya.


Beragam reaksi orang saat melihatnya. Ada yang risih, seperti Amanda. “Alisha terlalu kekanak-kanakan. Sok harmonis,” ucap perempuan yang tak lain adalah kakak Alisha.


Ada juga yang tertawa sampai cekikikan, seperti mbok Murni. “Nyonya Alisha ada-ada saja,” tuturnya.


“Apa yang lucu mbok?” tanya Anabel sangat penasaran.


“Ini, nyonya Alisha make up-in tuan Angga.”


“Mana coba, lihat.” Anabel merampas gawai mbok Murni.


“Make up ini. Alisha pasti pakai alat-alat make upku. Aish, menjengkelkan sekali perempuan itu. Awas saja kalau aku balik nanti, kukasih pelajaran dia.”


“Jangan marah-marah terus nyonya. Nanti anaknya jadi pemarah,” saran mbok Murni.


“Biarkan saja anakku pemarah, yang penting tidak ngadi-ngadi kayak nyonya kesayanganmu itu.”


Mbok Murni mengelus dada. Dikasih tahu malah ngamuk.


Usai mendandani Angga, Alisha meletakkan kembali alat-alat make up Anabel ke tempat semula. Kelamaan menatap Angga tidur, mengakibatkan Alisha jadi mengantuk. Dia pun tidur di samping Angga.


Saat Angga dan Alisha tertidur lelap, seseorang datang mengetuk pintu kamar itu. “Ada tamu tuan,” teriak pak satpam dari luar.


Angga duduk dan mengucek matanya. “Siapa pak?”


“Katanya, namanya Miland dan Murad.”


“Cuma dua orang itu yang datang?”


“Banyak orang, tuan.”


“Terima kasih infonya, nanti saya turun.”


“Iya, tuan.”


Angga melihat ke samping. Ternyata Alisha di sini juga. Dia manis sekali kalau tidur. Beda jauh kalau lagi melek, cerewetnya minta ampun.


Angga turun ke bawah tanpa bercermin terlebih dulu. Para anggota yang melihatnya, berlatih menahan tawa.


Angga memasang ekspresi garang, tapi Murad dan yang lain masih menahan tawa. “Kalian kenapa senyum-senyum terus? Apa yang lucu?” bentaknya.


“Cuci muka dulu bos,” sahut Murad.


Angga bergegas mencuci muka. Dia menatap ke cermin di depan, dan akhirnya sadar akan akar masalahnya. Angga berteriak begitu keras, sampai semua yang ada di rumah itu bisa mendengarnya. “Alisha, berani-beraninya kau.”


Alisha bergegas ke bawah, dia menyangka Angga sedang memanggilnya. “Kak Angga mana?” tanyanya pada Murad.


Murad menunjuk ke arah Angga yang mendekat ke Alisha. “Kamu apakan mukaku tadi, hah?”


Alisha tertunduk ketakutan. “Maaf kak, cuma iseng. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi.”


“Sana buat minum!”


“Untuk berapa orang kak?”


“Hitung sendiri Alisha! Kamu kan bisa menghitung. Apa gunanya pengetahuan dasarmu itu kalau tidak untuk dipakai?” Angga menepuk jidatnya kemudian.


Selepas menghitung, Alisha bergegas ke dapur. “Awas keasinan. Tamumu kali ini mafia. Jangan coba macam-macam ke mereka!”


“Apa dia pernah buat minuman asin?” tanya Miland.


“Iya, dia suka sekali mengerjaiku.”


“Asyik ya punya adik begitu. Sudah cantik, lucu lagi.”


Spontan, Murad dan yang lain berdehem. “Kalian kenapa? Memang benar kan yang kubilang? Adiknya Angga cantik dan lucu.”


“Dia bukan adikku,” balas Angga cepat.


“Bukan adik? Pasti keponakanmu kan?” tebak Miland lagi.


“Dia istriku.”


“Hah? Istrimu? Maaf bro, malam itu lampunya rada redup.”


“It is okay. Kalian datang ke sini pasti mau bahas markas yang sudah ketahuan kan?”


“Iya bos,” jawab Murad.