
Angga tiba di mansion Anabel, dia yang sudah sangat bergairah langsung memeluk kekasihnya itu. “Yang istri siapa yang dikunjungi siapa,” canda Anabel.
“Dia kunikahi cuma untuk balas dendam. Satu-satunya perempuan yang ada di hatiku ya cuma kamu.”
“Janji ya sayang! Kamu tidak akan pernah jatuh cinta sama perempuan itu.”
“Iya janji, lagian dia tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan kamu. Seperti langit dan bumi, kamu terlalu sempurna untuk disandingkan dengan perempuan yang sangat biasa sepertinya.”
“So sweet sekali.”
“Of course.” Angga langsung mencium Anabel secara bertubi-tubi di berbagai titik. “Aku nginap di sini ya sayang,” lanjutnya seraya melucuti pakaian Anabel.
“Yakin malam ini mau nginap di sini? Istrimu pasti menunggu di rumah untuk malam pertama denganmu.” Anabel terkekeh sembari melepaskan pakaian Angga.
“Malam pertama dengan perempuan licik itu? Tidak sudi aku.”
Angga menindih tubuh Anabel, dan mulai melakukan aktivitas panas yang sudah sering dia lakukan dengan Anabel.
Lenguhan demi lenguhan lolos dari mulut mereka. Hingga tibalah pada puncak percintaan. Angga yang benar-benar puas akhirnya mengecup dahi Anabel, sebelum berbaring lemas di samping kekasihnya itu.
Mereka berdua kini tidur dalam keadaan bugil dan saling berpelukan di balik selimut. Tiba-tiba gawai Angga berdering.
Panggilan pertama dia gubris, dia lebih memilih terus memeluk Anabel daripada harus meladeni si penelepon yang entah siapa itu.
Tiga menit berlalu, tapi si penelepon tak kunjung berhenti mengusiknya dengan panggilan-panggilan itu.
“Angkat dong yang! Daripada bunyi terus, mengganggu telinga saja,” suruh Anabel.
Barulah Angga bangun untuk mengambil gawainya. “Siapa sih yang telepon malam-malam begini? Bikin kesal saja,” umpatnya.
Angga melihat nama si penelepon yang tertera di layar gawainya. “What? Mama? Kenapa dia menelepon malam-malam?”
Dia yang penasaran segera menerima panggilan itu. “Iya, kenapa ma?”
“Angga, kamu dimana sekarang?”
“Di rumah ma. Tumben telepon malam-malam begini?”
“Mama cuma mau pastikan kamu sudah buatkan cucu untuk kami. Kamu serius kan ada di rumah? Jangan sampai masih keluyuran dengan teman-teman bertatomu itu.”
“Kita video call dulu,” tutur bu Salsa yang berhasil membuat anak brengseknya itu ketakutan. Tamatlah riwayatku kalau mama tau kebenarannya.
“Tapi nanti saja ya, HP mama lowbat. Nanti mama hubungi lagi,” lanjut bu Salsa yang akhirnya membuat detak jantung Angga kembali normal seperti sedia kala.
“Saya harus pulang sekarang. Harus sampai di rumah sebelum mama menelepon lagi,” ucap Angga seraya mengenakan kembali pakaiannya.
Untung saja dia tidak membuangnya ke sembarang arah tadi. Jadi tidak butuh waktu lama baginya untuk berpenampilan rapi kembali.
“Belum apa-apa, kamu sudah menjilat ludahmu sendiri yang. Entah akan seperti apa kamu nantinya.”
“Ini kulakukan karena terpaksa sayang. Semua ini juga demi kebaikan kamu. Kalau sampai mama tahu saya tidak di rumah sama Alisha, dia pasti bakal marah besar. Kalau mama marah, saya tidak dikasih warisan. Memangnya kamu mau punya suami melarat?”
“Tidak mau lah sayang. Okay, kali ini kumaklumi. Tapi lain kali jangan seperti ini lagi ya sayang,” ucap Anabel sembari menunjukkan mimik sedihnya.
“Pasti dong sayang. Apa sih yang tidak buat kamu?”
“Cium dulu sebelum pergi,” rengek Anabel. Angga pun mengecup pipi perempuan cantik itu.
Setelah itu, dia ke garasi. Dengan cepat, dia melajukan mobilnya kembali ke rumah. Semoga mama tidak cepat menelepon.
Beberapa menit berlalu, Angga sudah tiba di rumah. Alhamdulillah, mama belum menelepon. Dia langsung ke kamar dan mendapati Alisha sudah tidur.
Angga kemudian mengguncang tubuh Alisha yang sudah melanglang buana di dunia mimpinya. “Bangun, cepat bangun!”
“Apa lagi kak? Parenya sudah kuhabiskan sendiri. So please, biarkan aku tidur.”
“Mama tadi menelepon,” ungkap Angga.
“Terus?” tanya Alisha benar-benar kesal. Hanya karena mau bercerita, kak Angga sampai mengganggu tidurku.
“Mama memastikan saya tidur di rumah, karena dia mau kita malam pertama. Dia sudah tidak sabar mau punya cucu. So, kita harus terlihat mesra.”
Mendengar itu, Alisha yang tadinya ngantuk berat langsung melek. “Kalau tidak mau dilapor ya jangan berbuat kasar ke aku. Sesimple itu kok kak.”
“Kamu jangan besar kepala di depanku. Kalau kamu terus sok keras, saya tidak akan segan-segan berbuat yang lebih kejam dari yang tadi.”
Sorot tajam Angga membuat Alisha bergidik. Lelaki yang baru saja menikahinya tadi benar-benar seperti seekor serigala sekarang. Alisha yang ketakutan pun mengangguk pelan.