Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Ternyata Tidak Hamil



Malam semakin larut, udara di luar juga semakin menusuk. Tapi Devan tak kunjung keluar untuk mengajak mereka masuk kembali. Pertanda Alisha belum membukakan pintu maafnya.


Miland yang jenuh, berdiri dari duduk panjangnya. “Kita pulang saja dulu, besok baru ke sini lagi. Percuma juga kita di sini lama-lama, coz Alisha belum mau ketemu kalian.”


“I can’t back bro. Aku mau di sini saja, menunggui Alisha.”


“Lebih baik kamu pulang, bro. Temui Anabelmu itu, minta putus. Di dalam kan sudah ada Devan yang menemani Alisha. Dia pasti akan baik-baik saja bersama Devan.”


“Yang suaminya siapa yang menjaganya siapa,” balas Angga dengan ekspresi kesalnya.


“Yang suaminya siapa yang menolongnya siapa,” timpal Miland dan berhasil membungkam mulut Angga.


“Benar katamu, sebaiknya kita pulang saja dulu. Besok baru ke sini lagi, mudah-mudahan Alisha sudah mau menerima kita besok.” Amanda lalu bergegas ke parkiran usai mengeluarkan pendapatnya itu.


Miland juga menarik Angga, memaksanya untuk pulang. Mereka akhirnya ke parkiran, mengemudikan mobil ke kediaman masing-masing.


“Bagaimana kondisi adikmu?” tanya bu Renata pada Amanda yang baru saja tiba di rumah.


“Dia sudah siuman ma. Sebaiknya mama ke sana temani dia.”


Sebenarnya masih ada hal yang ingin ditanyakan bu Renata pada Amanda. Tapi putri sulungnya itu sudah terlanjur melangkah jauh darinya.


Perasaan was-was akan ditanya alasannya meninggalkan Alisha di rumah sakit, terpaksa membuat Amanda bersikap seperti itu ke ibunya sendiri.


Sejurus kemudian, pak Radit dan bu Renata melangkah ke garasi. Pasangan suami istri ini bergegas ke rumah sakit untuk menemui anaknya yang diam-diam telah meninggalkan rumah.


Di sisi lain, Angga juga sudah tiba di rumah. Ia memarkirkan mobil dan langsung berjalan ke kamar.


Maksud hati ingin langsung tidur, malah tidak bisa. Karena Anabel ternyata masih melek di atas ranjang. Rupanya partner ranjangnya itu sedari tadi menungguinya pulang dari rumah sakit.


“Kenapa lama sekali sayang? Sudah dari tadi aku menunggumu. Come here! Kita lanjutkan aktivitas nackal tadi,” ucapnya sembari menepuk-nepuk manja cover ranjang bekas berciintaa mereka berdua.


“Lain kali saja! Aku mengantuk.” Angga beranjak keluar dengan cepat, meninggalkan Anabel yang sedang sangat bergairah.


Pria bimbang itu melangkah ke kamar tamu. Ya, kamar dimana Alisha biasa tidur. Ia membaringkan tubuh di atas ranjang, tak lupa memakai selimut yang tentunya milik Alisha juga.


Di luar sana, banyak lelaki yang rela merogoh kantung dalam-dalam untuk membayarku tidur dengannya. Dia kukasih gratis, malah menolak. Lelaki memang makhluk yang tak pandai bersyukur.


Ia menendang pintu kamar itu dengan keras. Angga yang berada di dalam hanya berbalik ke arah pintu sebentar, dan tak bereaksi apa-apa lagi setelahnya. Anabel terpaksa kembali ke kamar, dengan hasrat membara yang harus ia redam malam ini.


Di rumah sakit, Alisha kembali cemas. “Bagaimana kondisi anakku dok?” tanyanya seraya mengelus-elus perut.


“Anda hamil?” tanya dokter setelah melihat perut Alisha. Seakan tak percaya pasiennya itu tengah mengandung, pasalnya perut Alisha terlihat rata baginya.


“Iya dok.”


“Kalau begitu, tunggu sebentar yah bu. Kami ambilkan probe dulu.”


Sang dokter pun keluar dari ruangan. Selang beberapa menit setelahnya, ia kembali dengan membawa peralatan USG.


Ia mendekati Alisha, meminta pasiennya itu untuk membuka baju yang menutupi bagian perutnya. Alisha pun melakukan perintah si dokter.


Bu dokter langsung menggerakkan probe di atas perut Alisha. Alih-alih memeriksa denyut jantung, aliran darah, dan kadar oksigen pada janin Alisha. Gambar organ tubuh bayi saja tidak nampak dalam perut pasiennya itu. Padahal ia sudah melakukannya berkali-kali.


“Mohon maaf sebelumnya bu, apa ibu sudah pernah memeriksakan kehamilan?”


“Iya dok,” jawab Alisha dengan cepat dan lugas.


“Periksa di mana bu?”


“Di rumah dok.”


“Oh, pakai test pack ya? Test pack memang kadang salah bu. Makanya, lain kali periksa ke dokter langsung ya! Biar tidak salah diagnosa.”


“Bukan test pack bu dokter, tapi diperiksa langsung oleh dokter suamiku.”


“Tapi hasil USGnya tidak mungkin salah bu. Tidak ada janin dalam perut ibu, yang artinya ibu tidak mengandung.”


Alisha yang mendengarnya, spontan bermonolog dalam hati. Tidak hamil? It means waktu itu aku hanya flu? Terus kenapa dokter kepercayaannya kak Angga bilang aku hamil ya? Ada yang tidak beres ini, tapi apa?