
Keesokan harinya. “Mau kemana, pagi-pagi sudah rapi begitu sayang?” tanya Angga.
“Aku mau ke Bali selama tiga hari sayang. Biasa, diundang jadi juri fashion show di sana.”
“Kamu kan hamil muda sayang. Sebaiknya jangan kemana-mana dulu! Di rumah saja, biar aku yang biayai semua kebutuhan kamu.”
“Bukan masalah dibiayai atau tidak sayang. But, this is my hobby.”
“Aku tahu kamu suka travelling. Tapi distop dulu sayang. Kondisimu tidak memungkinkan untuk pergi kemana-mana dulu. Nanti saja kalau sudah melahirkan.”
“Hamil tidak boleh jadi penghambat hobbyku sayang. Setelah melahirkan pasti jadi lebih repot. Mana bisa jalan-jalan kalau sudah ada anak. Yang ada justru harus stay di rumah untuk mengurus anak.”
“Kalau begitu kamu pergi sama mbok ya. Biar ada yang jaga kamu di sana.”
“Apaan sih sayang? Nanti jadi pusat perhatian lagi.”
“Terserah kamu mau pilih yang mana sayang. Pilihan pertama, pergi Bali tapi harus ditemani mbok Murni.” Angga menggantung ucapannya.
“Pilihan keduanya apa?” tanya Anabel penasaran.
“Tidak boleh pergi sama sekali.”
“Ya jelas pilih yang pertama dong sayang.”
Mendengar itu, Angga bergegas ke kamar mbok Murni. “Siapkan baju-baju mbok!”
“Untuk apa tuan?”
“Tiga hari ke depan, mbok harus temani Anabel di Bali.”
“Kenapa harus ditemani tuan? Selama ini, nyonya Anabel juga selalu pergi sendiri.”
“Itu dulu mbok, waktu dia belum isi. Sekarang Anabel sudah tidak boleh pergi-pergi sendiri lagi. Saya tidak mau terjadi apa-apa pada anak kami nanti.”
“Maksud tuan, nyonya Anabel hamil?”
“Iya mbok, makanya dia harus dijaga ketat.”
“Bagaimana dengan nyonya Alisha? Dia kan juga hamil tuan, butuh ditemani juga.”
“Kan ada saya di sini, mbok. Lagian, perempuan bar-bar seperti dia bisa jaga diri kok mbok. Jadi mbok tenang saja.”
“Iya mbok, pasti. Mbok juga jaga diri ya!”
Anabel menatap sinis pada Alisha dan mbok Murni yang tengah berpelukan. “Tidak usah kebanyakan drama mbok. Kita di Bali cuma tiga hari. Cepat naik!”
Seperginya Anabel dan mbok, Angga menarik Alisha masuk ke kamarnya. “Mau apa lagi kak?” tanya Alisha tidak karuan.
“Pijat badanku!” titah Angga.
“Makanya kalau main jangan kelamaan! Merepotkan saja, minta pijat ke saya. Panggil tukang urut saja lah kak!”
“Nanti kita gantian. Setelah ini, kamu yang kupijat.”
“Kalau begitu saya duluan yang dipijat. Kalau kakak duluan, kakak pasti curang nanti.”
“Ya sudah, balik belakang sekarang.”
Angga mulai melakukan pijatan pada Alisha. “Pelan-pelan kak! Tulangku bisa patah kalau kakak pijatnya kasar begitu.”
Lambat laun Alisha tertidur. Angga tersenyum licik kala melihat istrinya itu tidur sambil duduk.
Tangan nakal Angga mengarah ke dua gundukan Alisha. “Kak Angga, jangan nakal!” perintah Alisha seraya menepis tangan Angga. Dia yang tadinya mengantuk langsung melek.
“Sekarang giliranku,” tukas Angga.
Alisha kini memijat tubuh kekar Angga. “Tanganku terlalu kecil untuk memijat otot-otot besar ini,” keluhnya.
Angga tertawa keras. “Ada-ada saja kamu Alisha.”
“Saya serius kak. Tumbuk-tumbuk saja ya.”
Tanpa aba-aba, Angga membaringkan tubuh Alisha. Lalu memeluknya dengan erat. “Saya mengantuk, tidak usah tumbuk-tumbuk. Peluk saja.”
Alisha menggerutu. “Kalau begini, mending aku pijat saja kak.”
Alisha memohon untuk dilepaskan. Tapi berapa kali pun dia memohon, Angga tetap tidak mau melepaskan pelukannya.
“Kak Angga, saya mau buang air kecil.”
Barulah Angga melepaskan pelukannya. Alisha bergegas ke toilet. Saat kembali ke kamar itu, Alisha menemukan Angga sudah mendengkur keras.