Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Kamu Cinta Dia



“Kakak menangis?” tanya dokter cantik itu.


Devan bergegas menyeka air mata nya, sebelum ia berbalik ke arah dokter yang bertanya itu. “Eh kamu, ada apa dek?”


“Aku cuma khawatir sama kakak. Kakak pasti sangat terpukul kan dengan hasil test pack Alisha?”


“Aku benar-benar buntu sekarang. Mundur tidak sanggup, maju apa lagi.”


“Kakak harus tegas sebagai lelaki. Kalau sanggup, pertahankan. Kalau tidak sanggup, ya lepaskan saja kak!”


“Tapi aku cinta sama Alisha,” jawab Devan dengan mata yang semakin memerah karena menahan tangis.


“Wake up kak! Dia sedang hamil sekarang, dan itu bukan anak kakak. Anak itu anak nya Angga kak. Yakin bisa terima anak itu juga?”


Devan menarik rambut nya kasar. Kemudian berkata, “Itu dia masalahnya. Aku cinta sama Alisha, tapi aku tidak bisa terima dia hamil anak nya Angga.”


“Kalau begitu suruh saja dia gugurkan kandungan nya! Gampang kan?” saran dokter itu tanpa pikir panjang.


“Benar juga katamu. Aku akan membicarakannya dengan Alisha sekarang.”


Devan pun kembali ke kamar tadi. Ia segera mengetuk pintu kamar bernuansa pink itu seraya berkata, “Kamu sudah tidur?”


Di dalam, Alisha yang menyadari kehadiran Devan mengelap air mata nya. “Belum, silakan masuk kak!”


Suara Alisha terdengar parau. Menyebabkan Devan yakin betul bahwa perempuan yang dicintai nya itu baru saja menangis.


Tangan kekar Devan pun membuka pintu yang tak terkunci itu dengan pelan. Lalu melangkah dengan hati-hati ke arah Alisha sedang duduk.


“Sebenarnya, aku cinta banget sama kamu Alisha. I am sure kamu pasti sudah tahu ini. Now, aku cuman mau tahu perasaan kamu seperti apa ke aku. Do you love me?”


“Yes I do,” balas Alisha dengan ditemani rintik demi rintik yang kini berjatuhan di paras nya.


“Kalau begitu menikahlah denganku!”


“Aku tidak bisa terima anak Angga, Alisha. Kamu harus gugurkan anak itu dulu sebelum kita menikah! Kamu tenang saja untuk aborsinya. Dokter tadi akan menanganinya dengan baik.”


“Aku memang cinta sama kamu, Van. Tapi aku tidak bisa menggugurkan anak ini. Selain karena bahaya, dosanya juga besar.”


“Jadi, kamu lebih memilih anak itu daripada aku?” tanya Devan yang mulai tersulut emosi.


“Aku tidak memilih siapa-siapa, Van. Aku sayang sama anak ini, sama besar dengan sayangku ke kamu.”


“Bullshit.”


Emosi yang membuncah, membuat Devan kembali menarik diri. Ia bergegas meninggalkan Alisha seorang diri di kamar itu, dan mulai berjalan menuju taman.


Sesampainya di taman, ia langsung duduk di samping sang dokter yang terlihat sangat penasaran dengan kabar yang dibawa nya.


Meski rasa penasaran sang dokter sudah di ujung tanduk, ia tetap menahan diri untuk tidak langsung bertanya. Ia membiarkan Devan untuk mengatur nafas juga emosi agar stabil terlebih dahulu.


“Bagaimana keputusan Alisha?” tanya nya setelah beberapa menit berlalu.


“Dia tidak mau menggugurkan kandungan nya.” Devan berdiri, kemudian berteriak sembari menendang beberapa pot bunga yang berada tak jauh dari nya.


Sang dokter mendekat, mengelus punggung Devan dengan sangat lembut. “Lupakan saja Alisha! Masih banyak kok perempuan yang sayang sama kamu.”


“Siapa?” balas Devan setelah amarah nya mereda.


“Aku, kak. Dari dulu aku sayang sama kamu, tapi kamu tidak pernah peduli dengan perasaanku. Kamu justru ngotot mau menikahi Alisha, yang jelas-jelas sedang mengandung anak Angga.”


“Tapi-”


“Tapi apa? Tapi aku tidak secantik Alisha kan? Makanya kakak tidak pernah sudi melirikku barang sedetik pun.”


Kali ini, air mata dokter itu yang berjatuhan. Deras, sampai-sampai membanjiri pipi nya. Perasaan yang ia pendam selama ini kini telah melebur bersama dengan tangisan nya itu.