Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Sendiri



Sore menyapa, Angga menghampiri Alisha di kamar. “Saya dan Anabel mau jalan-jalan. Kamu mau ikut atau tidak?”


Alisha yang membelakangi Angga hanya menggeleng. Dia tidak ingin berbalik karena matanya yang bengkak efek menangis. Suaranya juga jadi serak, makanya dia tidak bicara.


“Jangan menyesal ya!” ucap Angga lalu keluar dari kamar itu.


Siapa juga yang mau menyesal hanya karena tidak ikut bersama kalian? Lebih seru jalan-jalan sendiri.


Seperginya Anabel dan Angga, Alisha juga keluar dari markas. Dia melangkahkan kaki ke toko coklat. Rembulan pasti suka makan ini.


Sialnya, dia berpapasan dengan Anabel dan Angga saat akan keluar dari toko itu. Gini amat takdirku. Kenapa harus ketemu mereka lagi sih? Hadeuh, menyebalkan sekali.


“Foto yuk,” ajak Alisha. Kali ini ekspresinya sangat bersahabat pada Alisha.


Sikap Anabel itu menimbulkan tanya di benak Alisha. Mau apa lagi rubah cantik ini?


Anabel melepaskan kacamata dan maskernya sebelum berfoto dengan Alisha. “Terima kasih ya,” tuturnya setelah mengambil beberapa foto.


Hal itu semakin membuat Alisha bingung. Pasalnya Alisha tahu betul itu bukan sikap asli Anabel. Baginya, Anabel adalah perempuan paling kasar yang pernah dia temui.


Benar saja, sesampainya di kamar Alisha dapat chat dari Rembulan. Niat terselubung Anabel akhirnya terbongkar.


“Sha, kamu beneran foto bareng kak Anabel di situ?”


“Iya Lan. Kok tahu?”


“Aku lihat di IGnya Sha. Captionnya itu loh, ketemu fans di Italia.


Sudah kuduga, ada udang di balik bakwan. Kak Anabel pasti ada maunya. Dibilangnya aku fans sama dia, itu mah dulu. Sekarang tidak lagi, siapa juga yang mau fans sama pelakor? Iyyuhh.


“Gimana orangnya Sha?”


“Aslinya kasar Lan.”


“What? Ternyata isu yang selama ini beredar benar ya?”


“Isu apa?”


“Seperti yang kamu bilang, kak Anabel itu emosian. Yaahh, padahal aku fans beratnya.”


“Aslinya memang tidak selembut yang tampak sih.” Alisha dan Rembulan terus bertukar chat.


Sepekan berlalu, saatnya kembali ke Indonesia. Tampak jelas rona bahagia memenuhi paras Alisha. Akhirnya, dia bisa bebas juga dari seatap dengan Anabel.


Sesampainya di rumah, Alisha langsung tepar di atas ranjang. Besoknya, dia memberanikan diri untuk memulai pembicaraan dengan Angga.


“Kak Angga.”


“Emmm. Kenapa?”


Angga meletakkan gawainya. “Minta maaf untuk apa?”


“Saya sering menyakiti hati kakak waktu masih SMA dulu.”


Angga tidak menjawab. “Masih ada kak,” imbuh Alisha.


“Apa?”


“Kita cerai saja ya. Supaya kakak bisa menikah dengan kak Anabel.”


“Cerai setelah sepekan menikah? Tidak bisa, orang tuaku pasti tidak setuju. Mereka akan marah kalau kita bercerai. Kalau mereka marah, aku tidak akan dapat warisan. So, kesimpulannya adalah kita tidak boleh bercerai.”


“Atau begini saja, kakak tinggal di sini. Aku ngekost, deal? Yang penting kan kita tidak cerai,” kata Alisha bersemangat.


“Kalau orang tuaku berkunjung tiba-tiba bagaimana?”


“Barangku simpan di sini separuh untuk mengelabui mereka. Kalau mereka datang siang, bilang kalau aku ada di kampus. Kalau datangnya malam, bilang aku nginap di rumah teman.”


“Terus bagaimana kalau keluargamu yang datang mendadak?”


“Will never, coz mereka pasti bilang kalau mau datang.”


“Tetap tidak bisa.”


“Why? Semua yang kakak takutkan sudah kukasih solusi. Kenapa masih tidak mau? Apa karena kakak belum puas menyiksaku?”


“You are right.”


“Tapi aku sudah minta maaf dengan tulus kak. Kenapa masih dendam?” tanya Alisha dengan mata berkaca-kaca.


“Karena penderitaan yang kamu dapatkan belum setimpal dengan luka batin yang kamu torehkan di hatiku Alisha. Kamu masih harus membayarnya dengan air matamu.”


Andai saja kakak tahu kalau itu semua kulakukan secara terpaksa. Mungkin kakak tidak akan sekejam ini ke aku. Bagi kakak, kakak adalah korban dan aku pelakunya. Tapi sebenarnya, bukan aku pelaku utamanya.


“Enough, saya banyak urusan. Jangan coba-coba kabur dari rumah! Awas saja kalau kamu berani kabur,” perintah Angga seakan tahu isi kepala Alisha.


Kali ini aku tidak akan mendengarkan kata-katamu lagi kak. Aku sudah sangat muak menghadapi perlakuan kasarmu sepekan ini.


Angga sudah pergi, Alisha bergegas berangkat ke rumah Rembulan untuk memberikan venchi yang dibelinya di Italia.


Dia juga ke rumahnya setelahnya. Selain untuk memberikan oleh-oleh yang sama ke keluarganya, juga untuk mengambil beberapa baju.


Alisha kabur dari rumah Angga tanpa membawa apa-apa. Dia memang sengaja hanya bawa diri. Kalau dia bawa barang juga, mbok Murni dan pembantu yang lain akan curiga dengan rencana kaburnya.


Usai ke sana ke mari, Alisha akhirnya berhasil menemukan kost dengan harga murah. Detik itu juga, dia akan tinggal di kost itu.


Lebih baik tinggal di kost sederhana seperti ini. Daripada tinggal di rumah kak Angga. Mewah, tapi tidak ada kebahagiaan sama sekali.