
Dengan cekatan Miland membuka pintu mobil dan menghampiri Alisha. Entah bagaimana nasib perempuan itu setelah hampir ditabrak oleh seseorang yang tampaknya disengaja.
“Kamu baik-baik saja? Atau ada yang lecet?”
Dengan jantung yang masih memompa dengan sangat tidak beraturan, Alisha menjawab. “Alhamdulillah aku tidak kenapa-napa. Terima kasih ya, hampir saja aku ditabrak.”
“Sama-sama. Mulai sekarang kamu harus hati-hati. Orang tadi pasti suruhan Devan yang dengan sengaja mau menabrak kamu.”
Rembulan ikut angkat bicara. “Aku tidak menyangka, ternyata Devan sejahat itu. Padahal dulu dia baik sekali ke Alisha.”
“Manusia memang seperti musim, bisa berubah-ubah. Ngomong-ngomong kalian mau kemana?”
“Aku dan Alisha mau ke pasar.”
“Biar saya antar!”
“Tidak usah repot-repot,” sahut Alisha.
Miland meninggikan suaranya. “Jangan keras kepala! Orang-orang Devan ada banyak yang berkeliaran. Aku takut kalian diserang secara tiba-tiba.”
“Benar kata dia, Sha. Sebaiknya kita ke pasar bareng dia saja. Takutnya kejadian tadi terulang lagi.”
Setelah berpikir agak lama, Alisha pun mengangguk. Ia kemudian memasuki mobil Miland dengan tubuh yang masih sedikit gemetaran.
Cukup menenangkan berada di dekat Miland. Selain bisa melindungi dari serangan musuh, mafia berhati mulia itu juga membawakan belanjaan Rembulan dan Alisha.
“Biar aku saja yang bawa Lan,” pinta Alisha.
“Tidak usah Sha, biar dia saja.”
“Tapi-”
“Tidak ada tapi-tapian, dia sendiri kok yang menawarkan diri. Lagian, dia tidak akan kecapekan cuman karena membawa belanjaan kita. Orang saja bisa dia angkat, apalagi cuman belanjaan. Ayo belanja lagi, mumpung ada dia.”
Selepas berbelanja, Miland kembali mengantar dua perempuan tersebut pulang ke rumah Alisha.
Lama di situ, Miland tak kunjung pulang. Padahal hari sudah malam. Meski agak sulit untuk menggerakkan otot lidah dan bibir, Alisha tetap harus berterus terang.
“Sebaiknya kamu pulang sekarang. Aku takut kalau kamu di sini terus, nanti ada yang lihat. Bisa-bisa mereka salah paham pada kita.”
“Aku tidak bisa meninggalkan kalian berdua. Tidak ada yang bisa menjamin anggota Devan tidak akan ke mari untuk melukai kamu Alisha.”
“Tapi aku juga tidak bisa membiarkan kamu terus di sini.” Suara Alisha kini meninggi.
“Kalau itu yang kamu takutkan, aku akan panggil Murad dan yang lain. Mulai malam ini, aku dan mereka akan berjaga di sini.”
Miland lalu mengambil cell phone nya. Ia beralih ke kontak Murad, dan saat diangkat ia meminta bawahan Angga itu untuk ke rumah Alisha sekarang juga.
“Baik, aku ke sana sekarang.” Klik. Telepon ditutup Murad.
Alisha menatap tajam ke arah Miland. “Aku menyuruhmu pergi, tapi kamu malah memanggil lebih banyak orang lagi ke sini.”
“Aku melakukan ini bukan karena kamu, tapi karena permintaan Angga yang menyuruhku untuk melindungi kamu.”
Sesudah menaruh gawai ke dalam saku celana, Miland langsung ke depan gerbang untuk berjaga-jaga. Dan tak lama setelahnya, Murad beserta rombongan juga sudah tiba di kediaman Alisha.
Beberapa menit berlalu.
“Mobil itu mencurigakan sekali, sudah beberapa kali dia mondar-mandir. Murad, arahkan sebagian anggota yang berjaga di dekat kamar Alisha untuk ke belakang. Jangan sampai mereka menyergap dari arah sana.”
“Okay.” Murad lalu mengerahkan beberapa orang yang bertubuh kekar untuk ke belakang.
Sementara di dalam kamar yang tertutup rapat, Alisha bersiap untuk tidur. Namun Rembulan yang belum begitu mengantuk, memulai sebuah pembicaraan.
Alisha yang enggan membahas mafia setengah alim itu mengalihkan pembicaraan.
“Aku mengantuk Lan. Besok saja ya bahasnya.”
Suara Alisha tak terdengar lagi setelahnya. So, mau tidak mau Rembulan yang tadinya belum begitu mengantuk pun turut membisu.
Di jam dua malam.
Alisha terbangun dari tidurnya. Ia berwudhu, kemudian berjalan menuju mushallah di rumah. Namun, langkahnya terhenti saat mendapati Miland tengah berdoa di situ.
Tampak, lelaki gagah tersebut bersungguh-sungguh saat memohon kepada Allah SWT.
“Aamiin.” Miland lalu mengakhiri doanya dan melangkah pergi dari mushallah itu.
Alisha bergegas menyembunyikan diri agar tak terlihat oleh Miland. Ia akhirnya keluar dari persembunyian tersebut setelah beberapa menit berlalu. Bersimpuh memohon dipilihkan jodoh yang terbaik dalam membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah.
Besoknya...
Miland mengucek matanya tatkala sinar
mentari mengetuk-ngetuk jendela kamar. Di saat yang bersamaan, gawainya yang berdering juga mengetuk-ngetuk kabin yang berada di dekat tempat tidur.
Dengan mata yang belum membulat sempurna, serta rambut yang masih acak-acakan, ia mengangkat telepon yang berbunyi tersebut.
“Hallo dad! What’s up?”
“Good morning sunshine!”
Miland memicingkan mata mendengar suara yang berbeda. “Is that you mommy?”
“Iya. Bagaimana?”
“Bagaimana apa, mom?”
“Sudah dapat calon istri belum?”
“Sepekan masih lama mom, masih ada beberapa hari lagi.”
“No, sayang. Kamu harus memutuskan hari ini. Kenalkan calon istri pilihan kamu, kalau tidak, kami akan kenalkan ke perempuan pilihan kami.”
Tetiba, sebuah ketukan terdengar dari pintu kamar. Masih menggenggam telepon, Miland menuruni tempat tidur, dan langsung menuju pintu. Menarik daunnya untuk memastikan siapa gerangan si pengetuk tersebut.
Satu menit kemudian.
“Kopi?” Alisha menyodorkannya.
“Yup, terima kasih.”
Saat Alisha akan berbalik, Miland menahannya. “Alisha...”
“Ya???”
“Sorry to say this soon. Saya harus menanyakannya lagi karena mommy dan daddy saya maunya hari ini juga. Apa pun jawaban kamu, saya akan terima dengan lapang dada. So, bagaimana dengan wasiat Angga? Apa kamu bersedia menjadi istri saya?”
Alisha hanya mengucapkan, “In Syaa Allah.” Tak ada tambahan kata lagi setelahnya.
“Alhamdulillahi rabbil ‘aalamiin.” Miland sujud syukur.
... Tamat....