Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Tidak Mau



Sudah malam, tapi Alisha belum juga pulang. Angga meneleponnya berkali-kali, tapi tidak dia angkat. “Keras kepala juga anak ini.”


Karena teleponnya tidak diangkat, Angga pun beralih ke opsi kedua. Yup, dia mengirimkan pesan ke Alisha. “Pulang sekarang kalau tidak mau keluargamu kenapa-napa,” ancamnya.


Dia pikir dia siapa seenaknya mengancamku? Aku tidak akan mau pulang ke rumahnya. Perempuan mana yang bisa sanggup tinggal seatap dengan lelaki psyco dan hyper seperti dia?


Alisha tidak mengindahkan ancaman itu. Dengan santainya dia menonaktifkan gawainya, lalu tidur. Maksud hati ingin tidur dengan nyenyak, apalah daya cacing-cacing di perutnya rupanya tidak bersahabat.


Cacing-cacing itu kompak mendemo Alisha yang tidak memberi asupan pada mereka sebelum tidur. Terpaksa Alisha harus bangun tengah malam demi mengisi kekosongan di perutnya.


gAlisha mengambil mie instant untuk disulap menjadi mie rebus ala-ala. Meski hanya mie, dia tetap makan dengan sangat lahap. Makannya jadi lebih lahap karena tak ada lagi Angga, yang selalu menatapnya saat sedang makan.


Alisha merasa benar-benar telah merdeka lahir batin. Sayangnya itu tidak berlangsung lama. Saat dia mengaktifkan kembali gawainya, ada banyak chat dari Amanda. Kakaknya itu menginfokan kalau ayah mereka tengah dirawat di rumah sakit.


Alisha termangu membacanya. Dia segera memesan grab untuk ke rumah sakit. “Ngebut yah pak!” perintahnya pada supir grab.


Usai memberikan uang ke babang grab itu, Alisha langsung menuju ruangan ayahnya.


“Kenapa bisa begini kak?” tanyanya.


“Papa ditabrak orang yang tidak bertanggung jawab. Untung saja luka papa tidak parah. Kamu kalau ke rumah teman, tetap harus aktifkan HP! Supaya tidak susah dihubungi.”


“Darimana kakak tahu saya ada di rumah teman?” tanya Alisha keheranan.


“Angga yang cerita. Memangnya kamu darimana?”


“Rumah teman.”


Percakapan antara kakak dan adik itu terputus. Tatkala Angga datang menjenguk ayahnya.


Alisha menatap tajam ke arah sang suami. Mau apa lagi sih kak Angga ke sini? Bikin moodku tambah hancur saja.


Angga menyampaikan perasaan duka citanya pada sang mertua. Tak lupa juga dia mendoakan agar mertuanya itu cepat sembuh.


“Aamiin. Terima kasih untuk doanya nak. Terima kasih juga sudah mau repot-repot datang menjenguk saya,” balas pak Radit.


“Kak Angga silakan pulang. Kakak harus tidur cepat. Banyak kerjaan yang menunggu kakak besok.”


“Kamu benar sayang,” balas Angga lalu menarik tangan Alisha agar ikut pulang.


“Kak Angga pulang sendiri saja! Kebetulan saya tidak ada kelas besok. So, bebas bergadang sampai pagi.”


Alisha mengguncang tangannya dengan kuat. Kendati demikian, dia tetap tidak bisa melepaskan genggaman tangan Angga.


“Turuti keinginan suamimu,” suruh bu Renata.


Angga dan Alisha akhirnya pamit. Mereka kini berkendara bersama. “Saya yang menabrak bapakmu,” ungkap Angga sambil menyetir.


“What? Kenapa kakak tega sekali?” hardik Alisha.


Suara Angga juga meninggi. “Siapa sebenarnya yang tega, saya atau kamu?”


“Ya kakak lah. Kan kakak yang menabrak papa, bukan saya.”


“Baca kembali chat yang kukirim ke kamu tadi siang!”


Dengan cepat, Alisha membukanya. “Pulang sekarang kalau tidak mau keluargamu kenapa-napa,” bacanya dalam hati.


“Ini baru permulaan Alisha. Kalau nanti kamu melanggar perintahku lagi, siap-siap saja menanggung akibatnya. Pastinya akan lebih parah dari yang tadi. Makanya turuti semua permintaanku kalau kamu masih sayang pada keluargamu.”


“Tapi saya sudah menyewa kost untuk sebulan kak,” ucap Alisha lirih.


“It is okay. Kita tidur di kost itu malam ini. Besok baru kembalikan kuncinya ke ibu kostmu.”


Alisha mengangguk, dia kini mengarahkan Angga ke kostnya. Tak lama, mereka tiba di kost itu. Alisha masuk duluan, meninggalkan Angga seorang diri di dalam mobil.


Sebelum keluar dari mobilnya, Angga mengambil obat bius terlebih dahulu. Ini kulakukan supaya kamu tidak bisa membangkang lagi Alisha.