
Alisha membuka mulut dengan cepat. Kemudian bertutur, “Tidak bisa, aku tidak setuju dengan saran om. Aku mau bercerai hari ini juga.”
Angga juga langsung menyahuti ucapan Alisha.“Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikan kamu.”
“Itu urusanmu, Kak. Aku tetap akan mengajukan surat cerai walau kamu tidak mau.”
Ayah Angga mendekati ayah Alisha. “Tolong bujuk anakmu supaya mau rujuk Radit,” pintanya.
“Keputusan Alisha untuk bercerai sudah bulat, Sean. Aku tidak bisa membujuk apa-apa lagi. Kamu tenang saja, persahabatan kita masih akan seperti dulu. Meski anak kita bercerai sekali pun.”
Pak Sean menarik nafas sejenak. “Sayang sekali, padahal aku berharap bisa memiliki cucu dari anakmu.”
“Mau bagaimana lagi, Sean? Sebagai manusia, Kita hanya bisa berharap dan berusaha. Selebihnya itu tergantung yang di atas.”
“Kamu benar Radit,” ucap pak Sean tak bertenaga. “Aku pulang dulu ya,” lanjutnya seraya memegangi kepalanya yang pening memikirkan rumah tangga anaknya.
Pak Radit menarik tangan sahabatnya itu. “Kamu kelihatannya lagi sakit, Sean. Biar kuantar pulang ya.”
“Aku hanya sedikit pusing. Tidak usah khawatir, aku masih bisa menyetir kok.” Pak Sean menepis tangan lelaki yang akan menjadi mantan besannya itu.
Melihat suaminya pergi, bu Salsa segera menyusul. Kedua orang tuanya sudah bersiap untuk pulang, tapi Angga masih setia berdiri di situ.
“Kupastikan hidupmu tidak akan tenang setelah ini. Kamu tidak akan lepas dariku Alisha. Tidak akan ada lelaki yang bisa menikahimu setelahku. Termasuk dia,” tunjuk Angga pada Devan.
Angga menyeringai licik ke arah Alisha, lalu berjalan dengan begitu santainya ke mobil setelahnya. Ia bahkan membunyikan klakson sebelum meninggalkan rumah itu.
“Jangan takut Sha! Selama aku masih hidup, Angga tidak akan bisa mencelakai kamu. Nanti kukirim body guard ke sini untuk jaga kamu,” ucap Devan.
“Iya, sama-sama. Anyway, aku pergi dulu ya. Ada tugas dari papa. Just tell me if you need my aid.”
“Pasti, hati-hati di jalan ya.”
“Iya.” Devan mendekati mobilnya yang terparkir rapi di rumah Alisha. Lalu mengemudikannya ke kantor polisi.
Tak cukup sejam setelah kepergiannya, tiga orang lelaki bertubuh kekar mendatangi Alisha. Mengaku bahwa mereka ditugaskan oleh seseorang yang bernama Devan untuk menjaganya.
Hari ini, Alisha istirahat total di rumah. Besoknya, ia ke kampus. Kemudian ke kantor Pengadilan Agama seusainya. Tak lain dan tak bukan, untuk mengajukan surat gugatan cerai.
Tiga hari setelah gugatan cerai itu Alisha daftarkan, juru sita mengirimkan surat panggilan sidang padanya dan Angga.
Di hari itu, hakim berusaha semaksimal mungkin untuk mendamaikan Alisha dan Angga. Berharap pasangan suami istri yang telah menjalin ikatan pernikahan selama beberapa bulan itu bisa rujuk.
Sayangnya, hati Alisha sudah sangat beku. Angga ternyata tak mampu mencairkan paradigmanya. Menyebabkan hakim terpaksa melakukan mediasi di antara mereka.
Pemeriksaan perkara pun dilanjutkan. Permohonan cerai Alisha juga telah dikabulkan. Akta cerai yang diberikan hakim telah ia tanda tangani.
Sesudah itu, Alisha menyuruh salah satu body guard untuk mengirimkannya pada Angga untuk ditandatangani juga.
“Bilang sama bosmu, aku sudah tanda tangan. Kami sudah resmi bercerai,” titah Angga pada body guard itu.
Sang body guard kembali ke rumah Alisha dengan membawa amanat dari Angga. “Yesss, kami resmi bercerai. Akhirnya, aku bisa lepas dari psikopat sepertinya.”
Alih-alih menandatangani, Angga justru merobek-robek surat cerai itu. Mengumpulkan seluruh bekas sobekan kertasnya, lalu membakarnya.