Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Wasiat Dari Angga



Langkah demi langkah Miland semakin mendekati pintu rumah Murad yang terbuka lebar. “Assalamu ‘alaykum,” tutur nya kala memasuki rumah besar itu.


“Wa’alaykumsalam,” balas Murad sembari mengarahkan tangan ke arah sofa.


Miland yang penasaran akan hajat Murad segera duduk. “Kenapa kamu memanggil ku?” tanya nya kala bagian tubuh bawah nya baru saja menyentuh sofa berwarna navy milik lawan bicara nya itu.


“Boss Angga menitipkan surat ini ke aku sebelum menemui Devan. Dia menyuruh ku memberikannya ke Alisha kalau terjadi apa-apa.”


“Terus apa hubungannya dengan ku?” Miland mendengus kesal dengan tujuan Murad memanggil nya.


Terlebih ketika Murad menyodorkan surat itu sambil berkata, “Kamu saja yang kasih ke dia. Sejak boss meninggal, aku jadi sangat canggung untuk mengunjungi nya.”


“Kamu yang kenal lebih dulu saja canggung, apalagi aku yang belakangan.” Tentunya Miland menepis surat itu.


“Begini saja. Biar adil, temani aku ke rumah Alisha.”


Miland mengelus dagu nya beberapa kali sebelum mengambil keputusan. “Boleh, kapan?”


“Sekarang saja.”


Murad bergegas berdiri dari duduk nya, di tangan nya sudah ada kunci mobil. Seperti biasa, ia yang akan mengemudikan mobil.


Di perjalanan menuju rumah Alisha, rasa penasaran ternyata menyerang mereka. Meski begitu, keduanya tampak bisu dalam ucapan. Akan tetapi bising dalam pikiran.


Jarum jam pun ikut berputar, seperti otak kedua lelaki gagah itu. Tak lama, mereka tiba di pekarangan rumah Alisha.


Dengan cekatan mereka keluar dari mobil. Dengan langkah cepat pula mereka mendekat ke bell rumah sepi itu.


Ting tong~


Butuh waktu yang agak lama saat mereka menunggu Alisha keluar untuk membuka pintu. Saat keluar, mata Alisha kelihatan bengkak. Hidung nya seperti badut dan yup, terdapat tisu di genggaman nya.


“Maaf mengganggu, Murad mau membacakan sesuatu ke kamu.”


Miland dan Murad kini tatap-tatapan. Alisha hanya mengangguk pelan.


“Iya, sabar sedikit kenapa. Tunggu sebentar.”


Murad meraba saku celana. Ia pun mengeluarkan surat itu dari nya. Tanpa berlama-lama, ia langsung membacanya.


Betapa terkejutnya mereka bertiga usai mengetahui isi surat itu. Sama sekali tak pernah terbesit di benak mereka, bahwa Angga akan menyuruh Miland untuk menikahi Alisha seperginya.


Tangis Alisha pun pecah. Saat ini hati nya benar-benar masih sangat beku akan cinta. Tapi suami nya malah menyuruh nya menikah dengan lelaki lain.


Murad pun menatap Miland. “Bagaimana ini?” tanya nya tanpa mengeluarkan suara.


Miland menjawab dengan mengangkat bahu nya. Cobaan apa lagi ini ya Allah? Aku memang sedang mencari istri. Tapi bukan begini caranya.


“Aish, itu hanya surat biasa. Kamu tidak harus menuruti permintaan Angga untuk menikah dengan ku, Alisha.”


“Tapi ini kan wasiat. Aku pernah dengar ceramah dari seorang ustadz. Katanya wasiat dari orang yang meninggal wajib dilaksanakan.”


“Sejak kapan kita jadi sealim ini Murad? Aturan Allah yang lain saja sering kita langgar. Apalagi cuman wasiat yang memberatkan seperti ini.”


“Asal kamu tahu Miland. Boss Angga tidak pernah segegabah itu dalam mengambil keputusan. Dia pasti punya alasan yang kuat di balik perintah menikahkan kamu dengan Alisha.”


“Lihat kondisi juga, Murad. Apa kamu tidak kasihan melihat Alisha menangis sejadi-jadinya karena isi surat itu?”


“Boleh ku lihat?” Alisha menadahkan tangan ke Murad.


Surat dari Angga kini berada tepat di depan mata nya. Tulisan ini memang tulisan Angga. Ia kembali menitikkan air mata.


“Jadi bagaimana?” tanya Murad tidak sabaran.


“Bagaimana apa? Memangnya kamu tidak bisa mengerti dari air mata nya?” balas Miland dengan intonasi meninggi.


“Aku perlu waktu untuk berpikir. Kalian pergi saja dulu. Nanti ku hubungi lagi.”


Alisha menutup pintu. Dari luar, Miland dan Murad mendengar tangis mantan istri Angga itu kian getir.