
“Ke balkon yuk mbok!”
“Mau apa ke balkon malam-malam begini nyonya?”
“Lihat bulan dan bintang mbok. Mau ya mbok.”
“Ya sudah, saya temani nyonya ke balkon.”
Alisha tersenyum lebar saat memandangi bulan dan bintang yang begitu indah. Angga yang pikirannya kalut juga ke balkon untuk menenangkan pikiran. “Kamu di sini juga?” tegurnya.
Alisha berpura-pura menguap. “Kita kembali ke kamar yuk mbok, ngantuk.”
“Biarkan dia kembali ke kamar! Mbok tinggal! Ada yang mau saya bicarakan dengan mbok.”
Alisha terpaksa kembali ke kamar sendirian. “Mau bicara apa tuan?” tanya mbok Murni setelah sang nyonya pergi.
“Apa saja yang dilakukan Alisha di kamar mbok?”
“Cerita-cerita, dia juga menelepon tadi.”
“Cerita apa?” tanya Angga penasaran.
“Nyonya Alisha bertanya tentang hubungan tuan dan Anabel.”
Kenapa dia menanyakan itu ya? “Terus, dia menelepon sama siapa mbok?”
“Kalau tidak salah, sama Van.”
“Van? Dia laki-laki atau perempuan?”
Mbok Murni jadi sedikit grogi untuk menjawabnya. “Sepertinya, laki-laki tuan.”
Angga semakin penasaran. “Bahas apa saja mereka?”
“Yang saya dengar, nyonya dan Rembulan mau pergi ke rumah Van besok.”
“Untuk apa mbok?”
“Kalau itu saya kurang tahu tuan.”
“Terima kasih informasinya mbok. Silakan mbok kembali ke kamar!”
Mbok Murni menyusul Alisha. Sedangkan Angga, dia duduk sembari menatap keindahan langit di malam itu.
Di saat yang sama, gawainya berdering. “Saya sudah menelusuri tentang Dhafa Abraham bos,” ungkap Murad di seberang sana.
“Seorang jenderal polisi bos.”
Jenderal polisi? Itu kan bapaknya Devan.
“Seberapa terlibat dia dalam kasus pembunuhan kakekku?”
“Dia yang menyediakan pistol yang dipakai si pembunuh untuk membunuh kakek bos.”
“Dimana pistol itu sekarang?”
“Informan kita bilang pistol itu pak Dhafa sembunyikan di rumahnya. Kita harus cari cara supaya bisa masuk ke rumahnya bos.”
“Nanti kita pikirkan solusinya, yang penting pelaku yang terlibat sudah kita kantongi namanya.”
Besoknya, di ruang tamu. “Mau kemana?” tanya Angga pada Alisha.
“Bukan urusan kamu kak.”
“Kamu bisa bebas untuk urusan lain. Tapi untuk keluar rumah, kamu harus minta izin dulu ke saya.”
“Saya mau ke rumah Devan.”
“Saya mau ikut.”
“Hah? Kakak mau ke rumah Devan? Mau ngapain kak, lagian yang diundang cuma saya dan Rembulan. Devan tidak bilang ajak suamimu juga.”
“Kalau saya tidak ikut, kamu akan kuadukan ke mama dan papamu. Kalau kamu pergi ke rumah mantan pacarmu tanpa seizinku.”
“Aish, bikin ribet saja. Ya sudah, sana ganti baju kalau kakak mau ikut juga.”
Angga berpenampilan culun seperti waktu masih di SMA. Mafia sepertinya sebenarnya tidak boleh menampakkan diri di sekitar polisi.
Tapi cuma itu satu-satunya cara untuk bisa masuk ke rumah Devan.
Setibanya di rumah Devan, Angga berpura-pura kebelet buang air kecil. Padahal dia masuk ke kamar-kamar yang ada di rumah itu untuk menggeledah. Sialnya, tak satu pun kamar di rumah itu yang memiliki tempat penyimpanan senjata.
Angga yang kelelahan, bersandar di tembok sejenak. Tiba-tiba saja tembok itu berputar. Ternyata, di balik tembok itu adalah ruangan rahasia yang Angga cari.
Dengan cekatan dia memeriksa semua senjata yang ada di situ. Cuma ini pistol keluaran lama. Semoga saja ini yang dimaksud Murad.
Angga segera mengambil pistol itu, memasukkannya ke dalam jasnya. Tak lupa dia mengganti pistol itu dengan pistol yang sengaja dia bawa dari rumah.