
Misi di Jepang telah selesai. Jadi mereka akan kembali ke Indonesia. Negara tercinta, yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia.
Anabel yang terbakar cemburu, memutuskan untuk menunggu kedatangan Angga di bandara. Baru saja turun dari pesawat, Angga sudah disambut olehnya.
Pemandangan itu menarik perhatian publik. Banyak yang mengabadikan momen tersebut. Sosok Angga yang ditunggui Anabel, kini jadi perbincangan media.
Sesampainya di rumah, suara aneh Angga dan Anabel terdengar lagi. Kali ini, Alisha yang lelah mengabaikannya begitu saja.
Di pagi hari saat memasuki gedung kampus, semua orang berbisik-bisik melihatnya. “Lan, kenapa ya orang-orang pada aneh hari ini?”
“Aneh bagaimana Sha?”
“Mereka bisik-bisik pas aku datang. Kenapa
ya?”
“Mungkin karena isu yang beredar.”
“Isu apa Lan?”
“Suamimu dengan kak Anabel terlihat mesra di bandara tadi malam.”
Alisha mengelus dada. Jadi karena itu mereka berbisik-bisik? Semua ini karena kak Anabel dan kak Angga. Karena keteledoran mereka, aku ikut-ikutan diseret.
“Netizen memang suka begitu Sha. Tidak usah didengarkan! Suamimu dan kak Anabel kan hanya sebatas rekan bisnis,” imbuhnya.
“Iya Lan.” Faktanya memang seperti itu Lan. Apa yang dikatakan netizen memang benar.
“Ke kantin yuk! Masih ada dua puluh menit untuk ngaso.”
Alisha menggeleng, untuk saat ini dia tidak mau kemana-mana dulu. Dia lebih memilih menunggui dosen di kelas. Daripada keluar untuk jadi bahan pembicaraan orang sekampus.
Saat dia pulang dari kampus, Angga dan Anabel masih dengan aktivitas yang sama seperti tadi malam. Alisha yang kesal langsung berjalan ke depan kamar. Menunggui dua manusia laknat itu selesai dari kegiatan panasnya.
Angga dan Anabel yang kelaparan, memutuskan untuk mengisi perut dulu. Sebelum lanjut ke ronde yang entah sudah keberapa itu.
Anabel membuka pintu. “Ngapain kamu di sini? Kamu menguping ya?” tanyanya pada Alisha yang tengah berdiri di depan pintu.
“Terserah kalian mau berbuat apa. Tapi tolong, jangan bermesraan di depan umum. Karena harga diriku sebagai istri yang jadi taruhannya.”
“Suka-suka kita dong,” balas Anabel.
“Apa urat malu kakak sudah putus? Sudah ditegur, masih saja ngeyel. Cantik sih, tapi sayang. Suka gatal ke suami orang.”
“Jaga mulutmu! Kamu hanya orang ketiga dalam hubungan kami. Jadi stop mengatur-atur kami, kalau kamu masih punya malu.”
“Sudah, jangan bertengkar terus.” Angga menggenggam tangan Anabel, menariknya dengan lembut menuju dapur.
Sesak menyeruak di dada Alisha. Perasaannya bertambah tidak karuan saat Rembulan tiba-tiba saja mampir ke rumahnya.
“Numpang toilet ya Sha,” tutur sahabatnya itu sebelum berlari ke arah dapur.
Alisha baru menyadari satu hal. Aduh, kak Angga dan kak Anabel kan di dapur. Semoga saja mereka tidak berbuat yang macam-macam.
Pemandangan di meja makan membuat Rembulan melongo, seolah tidak percaya yang dilihat netranya saat ini. Dia mendapati suami sahabatnya sedang bercumbu mesra dengan model idolanya.
Rembulan yang kebelet mengabaikan itu untuk sesaat. Saat keluar dari toilet, Angga dan Anabel makan berseberangan. Seakan tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Sayangnya, kegiatan mereka tadi telah terekam di long memory Rembulan. Kasihan sekali Alisha.
“Jangan mempertahankan suami seperti dia Sha. Lebih baik kamu jadi janda, daripada bertahan dengan lelaki brengsek seperti suamimu itu.”
Rembulan memeluk Alisha sebelum keluar, menghampiri keluarganya yang menunggu di mobil. “Rumah siapa ini?” tanya ibunya.
“Rumah sahabatku ma.”
“Mewah sekali ya?”
“Iya ma.”
“Lain kali buang air dulu sebelum jalan. Untung saja sahabatmu itu belum tidur,” saran bapaknya.
“Iya pak.”