Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Fakta Amanda



Dua lelaki ini menyusul Amanda yang sudah ada di luar. Tampak, perempuan itu tengah duduk, dengan kepala yang menunduk.


Angga dan Miland berjalan mendekat ke arahnya. Mereka turut mendaratkan badannya di atas kursi tunggu itu.


“Kenapa Alisha bilang kamu jahat?” tanya Angga yang berhasil membuat Amanda menegakkan kepalanya.


Amanda lalu memutar bola matanya ke kiri. Ia menarik nafas sejenak, sebelum akhirnya membalas pertanyaan dari Angga. “Karena aku memang jahat.”


“Maksudnya, Alisha mencapmu jahat karena apa?” tanya Angga serius. Seserius ekspresi Miland yang juga duduk di sampingnya. Miland juga amat menanti jawaban segera keluar dari mulut Amanda.


“Aku mengusirnya dari rumah karena dia hamil anakmu.”


Refleks, Angga menaikkan alis kirinya. Lalu berujar, “What? I can’t understand that you talking about.”


“Sebenarnya, sejak SMA aku suka sama kamu Angga. Tapi kamu cintanya sama Alisha. Karena cemburu, aku melarang Alisha untuk membalas cintamu.”


“Tanpa kamu larang pun, dia tidak akan membalas cintaku Amanda. Tahu sendiri kan Alisha seperti apa. Dari dulu, dia selalu saja menolakku. Bahkan saking bencinya, dia sering mempermalukanku di depan umum.”


“Alisha begitu karena perintahku. Dia sebenarnya juga cinta sama kamu. Dia terpaksa menghina kamu, supaya kamu jadi benci sama dia.” Amanda kembali menunduk, nyalinya teramat ciut untuk menatap Angga.


“Jadi selama ini Alisha-”


“Iya, Alisha berpura-pura membencimu. Dia terpaksa memendam perasaan sukanya ke kamu, demi menuruti kemauanku. Maafkan aku Angga, karena aku cinta kalian jadi terlambat bersatu.”


“Gara-gara kamu aku jadi dendam pada Alisha. Kalau saja aku tahu dia juga mencintaiku, aku tidak akan bersikap buruk padanya.”


Untuk pertama kalinya, Angga membentak Amanda yang dulunya sudah ia anggap seperti sahabat karib.


“Bagaimana mau menebus kesalahan, melihatku saja Alisha sudah tidak sudi. Lagian, kalau aku baikan dengan Alisha, mau ku ke mana kan Anabel?”


“Masih sempat-sempatnya kamu memikirkan model murahan itu. Kamu itu harus tegas bro, dimana-mana derajat istri jauuuuuh lebih tinggi di atas derajat pacar. Bahkan seharusnya, kamu tidak boleh lagi menjalin hubungan cinta pada perempuan selain ke Alisha.”


“Aku tidak bisa meninggalkan Anabel begitu saja Miland. Selama ini, dia lah yang menemaniku. Saat aku terluka karena perlakuan Alisha, dia lah yang datang menyembuhkan perasaan sakitku.”


“Tunggu, tunggu. Maksudnya kamu punya perempuan lain selain adikku?” tanya Amanda setelah menyimak dengan baik percakapan dua lelaki di sampingnya itu.


Angga bergeming lama, ia tak tahu harus berkata apa. Miland terpaksa mewakilinya menjawab pertanyaan dari Amanda.


“Iya, dia punya pacar. Namanya Anabel, model terkenal yang sering muncul di TV. Kamu pasti kenal kan?”


“Maksud kamu, Anabel yang jadi juri di program The Next Top Model?”


“Iya, yang itu.”


Spontan, Amanda mendorong tubuh Angga sekuat tenaga. Itu ia lakukan sebagai bentuk protesnya atas perbuatan mantan teman sekelasnya itu terhadap adiknya.


“Kurang ajar sekali kamu Angga. Pantas saja Alisha mau bunuh diri, ternyata gara-gara kamu yang suka main serong dengan perempuan lain. Benar-benar bajingan kamu Angga.”


“Aku begini juga karena kamu Amanda. Kalau saja kamu tidak menyuruh Alisha mempermalukanku, ceritanya tidak akan jadi begini. Gara-gara perbuatanmu itu, aku jadi menikahi Alisha untuk membalaskan dendam.”


“Sudah, sudah, jangan diteruskan lagi. Tidak ada gunanya juga kalian saling menyalahkan. Yang harus kalian lakukan sekarang itu, minta maaf pada Alisha. Jelaskan semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi di antara kalian.”


Beruntung, Angga dan Amanda mendengar nasehat Miland dengan baik. Mereka berdua akhirnya membisu. Merenungi kesalahan masing-masing, sembari mencari cara agar bisa dimaafkan oleh Alisha.