
Angga tiba di markas Riina, satu-satunya perempuan di dunia ini yang menjadi bos mafia. Riina sebenarnya tahu bahwa Anabel sudah tidak bernyawa, tapi ia tidak enak hati mengatakan nya langsung pada Angga.
Ia pun memanggil dokter terbaik untuk ke markas nya, memeriksa keadaan Anabel yang harus nya tidak perlu lagi diperiksa.
Sementara Murad, ia menelepon anggota yang lain di Jepang untuk menjemput mereka. Ia juga menginformasikan bahwa Anabel sudah meninggal.
Dua orang anggota pun bergegas mengendarai jet untuk menjemput mereka. Sementara anggota yang lain, semuanya membantu menyiapkan pemakaman untuk Anabel.
Beberapa menit berlalu, dokter beragama Islam yang dipanggil Riina sudah datang. Ia mendekati Anabel dan langsung mengecek nadi nya, tak berdetak. Ia kemudian meletakkan jari telunjuk nya di bawah lubang hidung
Anabel, tak ada hembusan nafas.
“Dia sudah meninggal,” ucap nya kalut.
Dokter ini lalu membersihkan tubuh Anabel yang berlumuran darah. Ia juga mengganti pakaian Anabel dengan kain kafan.
Saat menunggu, Angga terus meneteskan air mata. Ia sungguh masih belum terima Anabel meninggal.
Bahkan di depan umum sekali pun, ia tetap menangis. Tak memperdulikan lagi image nya sebagai seorang ketua mafia.
Anak buah nya pun tiba di Jepang, Angga lalu mengangkat jasad Anabel naik ke jet. Delapan jam terlewati, mereka akhirnya tiba di Jepang.
Semua anak buah Angga berbaris rapi menyambut nya. Ada juga Yakuza, beserta anggota-anggota nya.
Yakuza berjalan cepat untuk menyambut Angga, menepuk pelan pundak lelaki yang tengah rapuh itu. “Turut berduka cita bro,” kata nya dengan mimik sedih nya.
Alisha yang tadi nya amat benci pada Angga, kini ikut terharu. Melihat Angga yang mata nya membengkak karena menangis tanpa henti.
Tak ada aura kekejaman sama sekali di wajah lelaki kejam itu. Yang ada hanya pancaran kesedihan, yang membuat orang di sekitar nya turut bersedih karena melihat nya.
Anabel kini dibawa ke pemakaman, sebentar lagi mantan model cantik itu akan menyatu dengan tanah.
Sebelum itu terjadi, Angga mencium nya lama. Bulir-bulir kesedihan kembali mengalir deras dari mata nya yang sudah sangat lebam karena menangis. Rasa nya, ia belum ikhlas jika Anabel dikebumikan.
Tangis orang-orang yang melayat ikut pecah kala melihat Angga menangis. Ini kali pertama mereka melihat bos nya menitikkan air mata. Bak satu tubuh, saat kepala sakit, yang lain juga ikut sakit.
Anabel pun dimasukkan ke dalam liang lahat. Angga yang tak kuasa ditinggalkan kekasih nya, menunduk sambil terisak. Ia tak sanggup melihat Anabel dikebumikan.
Angga masih tinggal lama usai pemakaman itu. Ia enggan beranjak dari makam kekasih hati nya itu. Alisha yang berempati, turut duduk di situ menemani nya.
“Ini kan yang kamu mau? Kamu suka kan melihat kehancuran kami? Anabel sudah meninggal, kamu juga pasti menunggu nasibku seperti Anabel kan?”
Alisha bergeming dengan pertanyaan sekaligus tuduhan itu. “Kenapa diam saja?” imbuh Angga disertai gertakan.
“Untuk apa juga aku bicara? Apa pun yang kukatakan juga tidak ada artinya bagi mu.”
Angga ikut bergeming, ia lalu menyandarkan kepala nya ke bahu Alisha. Air mata nya tumpah ruah, hingga membasahi lengan Alisha.
“Ini,” tutur Alisha seraya menyerahkan tisu ke Angga.
Jarum jam terus berputar, mentari kembali ke peraduan nya. Sangat berbeda dengan dua orang ini belum juga kembali ke peraduan nya. Mereka masih di situ, bersama langit senja yang seakan bisa merasakan kesedihan mereka berdua.
“Ayo pulang kak! Sudah sore, sepertinya akan turun hujan juga.”
“Aku akan pulang, tapi dengan satu syarat.” Angga menggantung kalimat selanjutnya.
“Apa?” tanya Alisha dengan intonasi pelan.
“Kamu harus berjanji-”
“Kamu akan membatalkan pernikahan mu dengan Devan. Kalau Devan berhasil menemukan mu suatu hari nanti, kamu tetap berjanji tidak akan menikah dengan nya.”
“Iya. Aku janji,” balas Alisha dengan eskpresi datar. ‘Tapi bohong,’ tambah nya dalam hati.
Angga pun berdiri, ia merasa amat lega setelah mendengar langsung janji itu keluar dari mulut Alisha.
Di perjalanan menuju markas, Alisha membiarkan Angga menggenggam tangan nya. Membiarkan bos mafia itu berpikir bahwa ia menginginkan nya. Padahal, ia tidak lagi mencintai nya seperti dulu.
Sesampai nya di markas, Angga langsung membuka barang-barang milik Anabel. Kemudian dengan cepat menyodorkan nya pada Alisha.
“Mulai sekarang, kamu harus pakai baju-baju ini. Kamu juga harus pakai parfum kesukaan Anabel. Satu lagi, kamu harus jadi centil seperti dia.”
“Anabel ya Anabel, aku ya aku. Seberapa kuat pun kamu mencoba mengubahku menjadi dia, aku tetap tidak akan bisa menjadi dia kak.”
“Aku tidak menyuruh mu menjadi dia. Aku hanya ingin melihat jiwa Anabel juga dalam diri mu. So, pakai baju ini sekarang.”
“Tidak mau, baju ini terlalu seksi di badanku. Aku tidak suka pakai baju kekurangan bahan gini.”
“Pakai, kalau tidak mau kamu kembali ke Indonesia dengan tinggal nama.”
Ekspresi dan intonasi Angga memang biasa saja saat mengatakan nya. Tapi tetap saja, Alisha bergidik saat mendengar nya. Ia terpaksa mengambil barang-barang milik Anabel itu, memakai nya meski tak suka sama sekali.
“Sini,” panggil Angga dengan tatapan kosong pada nya. Setelah ia memakai baju nya Anabel.
Alisha mendekat, Angga langsung menyemprotkan parfum kesukaan Anabel ke gaun yang tengah istri nya kenakan itu.
Angga juga memasangkan high heels milik Anabel ke kaki Alisha. “Aku mau kamu jalan seperti model sekarang!” pinta Angga dengan senyum psikopat setelahnya.
Alisha semakin takut melihat wajah Angga, ia dengan cepat berjalan bak model internasional di hadapan suami nya itu. Tiba-tiba, Angga berlari ke arah nya dan memeluk nya erat.
“Anabel. Aku kangen kamu sayang,” ujar nya tanpa melepaskan pelukan nya dari tubuh Alisha.
Ia lalu menggendong Alisha. Mengangkat, dan menjatuhkan nya ke atas ranjang. Mereka berdua kini terbaring bersama di atas nya.
“Kamu rindu kan sama aku? Lihat, aku sudah di Jepang sayang.”
“Istighfar, kak. Aku Alisha, bukan Anabel.”
Angga mengucek mata nya. Ia pun kembali tersadar, bahwa perempuan yang tengah ia rangkul saat ini adalah Alisha, bukan Anabel.
Ia lalu terisak, sangat lama. Alisha yang sudah mengantuk terus mengelus-elus pundak nya. Kemudian berkata, “Ini sudah tengah malam kak. Belum mau tidur?”
“Aku hanya mau tidur sama Anabel.”
“Astaghfirullah al ‘adzim. Nyebut kak, Anabel sudah meninggal.”
Angga diam saja setelah ditegur seperti itu. Alisha semakin mengantuk, ia ingin sekali tidur. Tapi ia juga tak tega untuk tidur duluan, di saat Angga yang masih sangat terpukul karena kepergian Anabel belum tidur.
“Kakak harus banyak istirahat, biar bisa bugar lagi besok. Kakak tidak akan bisa membalas perbuatan Dominic kalau kurang tidur,” bujuk nya.
Angga lalu membaringkan kepala nya di atas paha Alisha. Ia diam saja, tak berkata apa pun. Itu membuat Alisha jadi bingung sendiri.
“Yang sabar yah kak,” ujar nya seraya mengelus rambut Angga.
Elusan itu membuat Angga merasakan kantuk yang amat dahsyat. Tak lama setelahnya, ia pun tertidur.
Alisha lalu memindahkan kepala Angga ke atas bantal. Kemudian tidur di samping Angga. Mereka berdua kini terlelap di kamar yang sama, di atas ranjang yang sama, dengan perasaan cinta yang berbeda.