
“Aku akan mengatakan dalang di balik semuanya. Asal kamu janji tidak akan mencelakai anak dan cucuku,” jawab lelaki itu.
“Cepat katakan! Sebelum peluru pistolku ini menembus kepalamu.”
“Waktu itu, aku diperintahkan oleh seorang Irjen Pol untuk membunuh kakekmu. Namanya Dhafa Abraham. Aku sudah mengatakan kebenarannya. Jadi tolong maafkan aku!”
“Aku bisa memaafkanmu. Tapi nyawa tetap harus dibayar dengan nyawa juga.”
Angga menembak lelaki itu berkali-kali. Ini pertama kalinya Angga membunuh, biasanya hanya memukuli korbannya sampai bonyok.
Percikan darah lelaki itu mengenai bajunya yang putih. Karena shock, Angga segera kembali ke mobil. Melajukannya ke markasnya yang sangat sulit untuk ditemukan oleh orang lain selain anggota-anggotanya.
Dia memasuki markas dengan terburu-buru. Alisha yang melihat banyak noda darah di baju suaminya pun mendekat. “Kamu kenapa kak?”
Tanpa berkata apa-apa, Angga langsung memeluk Alisha. Dia tampak seperti anak kecil yang butuh kasih sayang ibunya. Alisha mengusap belakangnya guna memberikan ketenangan.
“Aku lelah Alisha. Aku ingin terus seperti ini saja.”
Setelah agak lama dengan posisi seperti itu, Angga melepaskan pelukannya. Dia mengangkat Alisha, lalu menjatuhkannya dengan pelan di atas ranjang.
Angga berbaring di samping Alisha, dan langsung mendekapnya, dengan baju yang masih berlumuran darah.
Alisha belum tahu apa sebenarnya yang terjadi pada suaminya itu. Yang dia tahu, saat ini Angga sedang tidak baik-baik saja.
Tak lama setelahnya, Alisha mendengar dengkuran Angga. Alisha ingin bangun, tapi tidak bisa. Karena Angga memeluknya erat.
Dia juga tidak tega membangunkannya. Walhasil, jadilah mereka seperti itu terus. Sampai Alisha juga ketiduran dalam dekapan Angga.
Pemandangan ini sungguh menyilaukan mata Anabel yang baru saja pulang. “Sayang, kenapa kamu peluk-pelukan dengan Alisha?”
Angga tersentak kaget. “Maaf sayang, kirain kamu yang kupeluk.”
“Kamu jangan genit dong Alisha! Kamu kan punya kamar sendiri. Kenapa masih tidur di sini?” tegur Anabel dengan suara meninggi.
“Memangnya kenapa kalau aku genit ke kak Angga?” tanya Alisha dengan suara meninggi juga.
“Tidak bisa dong, Angga is mine.”
“Kepemilikan ya? Aku lebih berhak daripada kakak. Aku istrinya dan kakak cuma pacarnya, yang bahkan tidak diakui negara. Asal kak Anabel tau, bukan aku yang mau tidur di sini. Kak Angga sendiri yang menggendongku ke kamar ini. Kalau mau marah, ya marah ke kak Angga saja. Jangan ke aku!”
Alisha dengan kesal meninggalkan ruangan itu. Tapi Anabel yang terlanjur kesal tak membiarkannya pergi. Dia menahannya dengan menjambak hijabnya.
Alisha yang tak terima diperlakukan seperti itu, menepis tangan Anabel dengan keras. Mengakibatkan Anabel terpental ke lantai.
“Sakit yang,” rengek Anabel pada Angga.
“Minta maaf sekarang juga!” bentak Angga pada Alisha.
“Kenapa harus minta maaf? Dia terjatuh karena kesalahan yang dimulainya sendiri. Seharusnya dia yang minta maaf sudah seenaknya menarik hijabku.”
Angga yang merasa kehilangan harga diri di hadapan Anabel, langsung menampar Alisha dengan keras.
“Sudah kubilang aku tidak mau ikut. Tapi kakak terus memaksa,” ujar Alisha lalu berlari keluar kamar.
“Bajumu kotor sekali sayang,” tutur Anabel sembari membantu Angga melepaskan bajunya.
“Maaf tidak bisa menemani kamu jalan-jalan tadi.”
“It is okay yang, aku sudah terbiasa.”