
“Terima kasih sudah mengantarku sayang.” Anabel mengecup pipi Angga sebelum masuk ke mansionnya.
“Sama-sama sayang.”
Angga segera melajukan mobilnya ke rumah setelahnya. Setibanya di rumah, dia langsung mengangkat Alisha masuk ke kamar. Tak lupa juga mengunci pintu kamarnya.
Mau apa lagi pria licik ini? Kenapa dia mengunci pintu? Biasanya juga tidak, mencurigakan sekali. Alisha sebenarnya mau bangun, tapi takut ketahuan kalau dia hanya berpura-pura mabuk berat.
Angga yang tak menyadari kebohongan Alisha, langsung membuka baju perempuan di sampingnya itu.
Maafkan aku Anabel, aku memang bisa berjanji untuk tidak jatuh cinta pada Alisha. Tapi aku tidak bisa berjanji untuk tidak nafsu padanya.
Angga langsung mencicipi bibir favoritnya itu.
“Aku mau kamu Alisha. Sangat ingin kamu sayang.”
Sudah kuduga, kak Angga pasti mau berbuat macam-macam padaku. Segitu hypernya kah dia? Sudah melakukannya berkali-kali dengan Anabel, tapi masih menyentuhku juga. Dasar alligator!
“Bibirmu manis sekali Alisha, aku sangat menyukainya.” Angga terus melontarkan pujian pada Alisha yang dia sangka tak sadarkan diri.
Jadi begini isi hati kak Angga? Selama ini dia memang selalu mencumbuiku. Tapi tidak pernah memujiku, malah menghina terus.
Setelah puas memainkan bibir Alisha. Angga beralih ke gunung kesukaannya. “Punya Alisha jauh lebih cantik dari punya Anabel.”
Dengan cekatan Angga melu-mat dua benda padat nan kenyal milik istrinya itu. Kak Angga sialan. Dengan susah payah Alisha menahan diri agar suara lenguhan tak lolos dari mulutnya.
Awalnya Alisha diam saja. Hingga akhirnya dia tidak bisa tinggal diam saat Angga mulai mendekati area mahkotanya.
Alisha mengumpulkan seluruh tenaga, dia pun menendang Angga dengan keras. “Sana kamu kucing nakal!” tuturnya yang berpura-pura mengigau.
Tapi sekeras apa pun dia menendang, Angga tetap saja tidak kenapa-napa. Alih-alih menyerah, Angga justru jadi semakin buas setelahnya.
Menyadari itu, Alisha telungkup agar Angga tak bisa sesuka hati menyentuhnya. “Salju, kak Amanda cepat sini! Kita main salju.” Alisha kembali berpura-pura mengigau.
Angga mengurungkan niatnya. Dia yang tadinya ingin berbuat lebih dari sebelum-sebelumnya, kini lebih memilih berbaring saja di samping Alisha.
Kenyamanan pun muncul di antara keduanya. Mereka tidur sangat nyenyak dengan posisi berpelukan sampai subuh.
Suara adzan subuh yang dikumandangkan dari arah surau, membangunkan Alisha dari tidur lelapnya. Terasa ada yang menindihnya, Alisha akhirnya tersadar kembali kalau Angga sedang memeluknya erat.
“Kak Angga bangun!” Mendengar suara Alisha, Angga kemudian terbangun.
“Kenapa memelukku kak?” tanya Alisha dengan muka bantalnya.
“Anu, tadi malam kamu mimpi buruk. Jadi aku memelukmu supaya kamu tidak mimpi buruk lagi.”
Dasar, kak Angga pembohong. “Oh gitu, terima kasih sudah mau baik ke aku kak.”
“Iya sama-sama. Kenapa kamu menatapku begitu?”
“Ini, kakak belum melepaskan tangan kakak dari perutku. Padahal, aku mau shalat subuh kak.”
Angga melepaskan pelukannya dari tubuh Alisha. “Eh iya, sorry lupa. Sana kamu shalat! Nanti keburu pagi lagi.”
Untuk pertama kalinya, Alisha melihat ekspresi malu di wajah Angga. Kak Angga lucu juga ya kalau malu, mukanya merah ha ha.
Alisha mengambil air wudhu, lalu shalat berjama’ah bersama mbok Murni. Ya Allah, tabahkanlah hati hamba menghadapi semua ini. Berikan jalan keluar agar hamba tidak terjebak dalam pernikahan sepihak ini terus ya Allah.
Alisha kembali ke kamar setelah berdoa dengan khusyuk. Angga yang baru saja mandi menatapnya dalam dan penuh perasaan.
Alisha makin cantik kalau habis shalat gitu. Kalau saja dulu kamu lebih memilih aku daripada Devan, kita tidak akan menjalani pernikahan yang seperti ini Alisha.
Alisha jadi merasa salting ditatap seperti itu terus.
“Buatkan aku teh hangat! Kamu yang buat ya, jangan mbok Mirna,” titah Angga.
Alisha mengangguk, mengakibatkan Angga bertanya-tanya dalam hati. Tumben anak ini langsung nurut. Dia kesambet apa ya?