Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Bukan Seranjang Tiga Nyawa



Alisha bergegas ke dapur untuk membuatkan suaminya teh hangat. “Mau apa nyonya?” tanya mbok Murni yang sedang mencuci piring.


“Mau buat teh untuk kak Angga, mbok.”


“Nyonya duduk saja, biar saya yang buatkan teh untuk tuan.”


“Jangan mbok! Kak Angga bilang, harus saya yang buat.”


“Oh begitu toh nyonya. Monggo nyonya.”


Alisha kemudian menyeduh teh yang biasa Angga minum. Mencoba rasanya sudah pas atau belum.


“Perfect,” ujarnya lalu membawa secangkir teh itu ke hadapan Angga.“Ini tehnya kak.”


Angga mencobanya, “Manis,” tuturnya seraya menatap ke arah Alisha.


Tiba-tiba, gawainya berdering. Dia segera menerima panggilan telepon yang tak lain dari Anabel. “Iya, kenapa sayang?”


“Beberapa pemotretan sudah kucancel. Jadi kita bisa ke Italia siang nanti yang.” Dari intonasinya, terdengar jelas kalau Anabel sedang bahagia.


“Nice to hear that. Kalau begitu, nanti aku pesan tiga tiket.”


“Tiga? Kok tiga sih yang? Kita kan cuma berdua? Mau ajak siapa lagi?”


“Alisha,” jawab Angga dengan cepat.


“Untuk apa dia ikut? Come on dong sayang, kita mau having fun. Masa’ ajak dia juga sih.” Anabel mulai kesal.


“Alisha harus ikut sayang. Aku takut kalau di Italia nanti, mama tiba-tiba menelepon. Dia pasti marah kalau tahu Alisha tidak bersamaku.”


“Makanya jangan dikasih tahu yang. Kalau mama menelepon, tinggal bilang kamu lagi urus bisnis di Italia. Sementara Alisha kuliah, tidak bisa ikut. Makanya kamu pergi sendiri. Gitu aja kok repot?”


“Kamu belum kenal mama luar dalam. Kalau mau having fun kita berjalan lancar, kita harus ajak Alisha ikut.”


“Ya sudah terserah kamu. Wait, kita tidak akan sekamar bertiga kan yang?” tanya Anabel yang kini cemberut lagi.


Angga terus meyakinkan Anabel. “Tidak dong yang. Ngapain kita sekamar bertiga? Seperti tidak ada kamar lain saja.”


“Kita tidur sekamar. Istrimu tidur sendiri kan?”


“Iya, sayangku, cintaku, Anabelku.”


“Okay, deal kalau begitu. Jemput aku di tempat kerja.” Alisha memutuskan panggilan selulernya.


“Saya tidak mau ikut kak,” ungkap Alisha.


“Kenapa?” gerutu Angga.


“Ada banyak kelas pekan ini. Kalau tidak ikut mata kuliahnya, nilaiku bisa anjlok kak.”


“Nilaiku jauh lebih penting dari having fun kalian.”


Angga memberikan tatapan tajam ke Alisha. “Pokoknya kamu harus ikut!” ucapnya dengan penegasan.


“Bagaimana caranya kak? Kalau kakak bisa menjamin nilaiku aman, ya okay ayo pergi. Siapa juga yang tidak mau ke Italia secara gratis?”


“Kamu tenang saja,” balas Angga dengan begitu entengnya.


Dia mulai memainkan gawainya. Jari-jemarinya scroll ke kontak yang tersimpan. Segera, Angga menghubungi bawahan paling setianya.


“Ada yang bisa saya bantu bos?” tanya Murad di seberang sana.


“Ke rumahku sekarang juga. Ada tugas baru untuk kamu.”


“Siap bos, saya ke situ sekarang.”


Alisha memijat keningnya. Apa lagi yang direncanakan kak Angga? I can’t imagine how if mafia berkecimpung di kampus. Duh, kenapa jadi ribet begini sih?


Tak lama, Murad sudah tiba di rumah Angga. “Apa tugas baru saya bos?”


“Temani Alisha ke rumah dekannya. Ancam dekan itu untuk mempertahankan nilainya meskipun dia tidak masuk kuliah selama sepekan.”


“Baik bos.”


Alisha dan Murad sudah ada di dalam mobil. Murad mengikuti arahan Alisha dengan sangat baik. Dia juga tidak kebut-kebutan saat mengemudi, supaya istri bosnya itu merasa nyaman berkendara dengannya.


“Itu rumahnya kak,” tunjuk Alisha pada sebuah rumah yang berwarna merah muda. Dari pilihan warna catnya, pemiliknya pasti seorang yang berhati lembut dan loveable.


Murad keluar dari mobil. Dia menunggu Alisha untuk keluar juga, tapi Alisha tetap duduk di dalam. “Kakak masuk sendiri saja ya. Please kak, please.”


Murad akhirnya masuk sendiri ke rumah ibu dekan. “Tolong panggilkan bu dekan!” perintahnya pada pembantu yang tengah menyapu di beranda rumah.


“Tunggu sebentar ya nak!” sahut pembantu itu. Wajah seram Murad membuatnya sedikit bergetar ketakutan.


Si pembantu bergegas menghampiri majikannya. “Nyonya, di luar ada orang yang cari nyonya. Badannya kekar sekali, mukanya tampan tapi sorot matanya tajam seperti burung elang nyonya.”


“Mau apa sih orang seperti itu berkunjung ke sini?”


“Saya juga tidak tahu nyonya. Dia cuma bilang mau ketemu nyonya.”


“Ayo kita temui dia bi.”


Bu dekan beserta pembantunya lalu keluar. Ternyata benar yang dikatakan bibi. “Ada yang bisa saya bantu dek?” tanyanya takut-takut.


Murad memperlihatkan identitas Alisha. “Perempuan ini mau ke Italia tapi mata kuliahnya banyak pekan ini, dia takut nilainya turun. Tolong pertahankan nilainya.”


Bu dekan yang tak ingin bermasalah dengan Murad, langsung mengiyakan. “Siap dek, nanti saya hubungi dosennya.”