
Anabel dan Angga berdansa, mengikuti irama musik yang menggema di telinga para tamu. Meski sedang menggenggam tangannya, Anabel bisa mendeteksi arah pandang Angga kemana.
Kekasih di dekapannya itu, acapkali mencuri pandang pada dua orang yang tengah bercengkrama di meja sana.
Entah apa yang Alisha dan Miland bahas di meja itu, yang jelasnya mereka terlihat begitu menikmati obrolannya. Angga bahkan tak pernah melihat Alisha sebahagia itu saat bersamanya.
Anabel melepaskan pelukannya dari Angga. “Ajak mereka berdansa yuk!”
Angga mengedarkan netranya ke arah Anabel memandang. Tak salah lagi, yang dimaksud adalah Miland dan Alisha, yang memang dari tadi ia perhatikan.
Angga tertawa kecil. “Perempuan seperti Alisha mana bisa dansa.”
“Makanya kamu ajari. Kasihan loh, dia datang ke sini cuma untuk duduk bercerita seperti itu. Let her enjoy this party like us, honey.”
Di meja yang tak begitu jauh dari mereka. “Kenapa tidak ikut dansa?” tanya Miland.
Alisha bergeming. “Kamu pasti malu kan?” imbuh Miland.
Alisha mengangguk. Ya, dia membenarkan kata Miland. Sejurus kemudian, Miland kembali membuka mulut.
“You know what, fakta psikologi mengklaim bahwa orang-orang pemalu cenderung lebih pintar dan lebih layak dipercaya.”
“Oh ya?” Alisha tersenyum malu kemudian. Bertepatan saat Anabel dan Angga berjalan bersama mendekat ke mejanya.
“Dansa yuk!” Anabel mengulurkan tangannya yang putih mulus pada Miland.
“Boleh,” jawab lelaki itu dengan terpaksa. Dia sebenarnya masih ingin berbincang-bincang dengan Alisha.
Sementara Angga, ia menarik paksa Alisha.
“I can’t dance,” respon Alisha yang enggan meninggalkan tempat duduknya.
“Ikuti saja gerakanku.”
Anabel dan Miland bergerak dengan luwes. Tak ada kekakuan sama sekali. Mereka berdua pasti sudah sama-sama ahli dalam hal itu.
Seperti Anabel yang selalu mengawasi tindakan Angga. Sudah kuduga, kak Angga sebenarnya memiliki perasaan yang sangat besar ke Alisha. Sedikit saja kutinggal, perhatiannya pasti akan teralih sepenuhnya ke istrinya itu.
Sebentar lagi musik akan berhenti, yang artinya tibalah sesi berciuman bagi para pedansa. Anabel bergegas melepaskan diri dari Miland, untuk menarik Alisha yang hampir saja dikecup oleh Angga.
“Temani aku ke atas sebentar!”
Dua perempuan itu naik ke atas. Sementara dua partner dansanya duduk untuk meneguk minuman di atas meja, seraya menunggui mereka turun.
“Kamu kelihatan senang sekali bercerita dengan istriku.”
“Dia asyik diajak ngobrol.”
“Hah? Asyik? Kamu pasti salah, aslinya dia menyebalkan sekali.”
“Terus kenapa kamu menjadikan dia istrimu kalau dia menyebalkan?”
“Untuk koleksi bro. Barang cantik begitu sayang kalau dibiarkan.”
“Bagaimana kalau koleksimu itu kubeli saja?”
“Tidak bisa bro, sesuatu yang sudah jadi milikku tidak boleh jadi milik orang lain. Di dunia ini banyak perempuan bro, tinggal pilih. Masa’ kamu yang handsome dan rich mau bekasku?”
“Dengan ketampanan dan harta yang kumiliki, it’s so easy for me untuk mendapatkan perempuan. Tapi sejauh ini, cuma istrimu yang bisa membuat hatiku bergetar.”
“Jangan tertipu dengan yang dia tampakkan bro. Dia tidak seistimewa yang kamu pikirkan.”
“Tidak istimewa, tapi kamu tidak mau melepaskannya. Ada yang salah denganmu bro.”
Tiba-tiba suasana mencekam, kala beberapa tamu menjerit. Perdebatan di antara keduanya pun terhenti.
Mereka ikut mendekati kerumunan. Dilihatnya Anabel terkulai, dengan darah mengalir di sekujur pahanya.
Orang-orang beralih menatap curiga pada Alisha, yang berdiri di atas anak tangga. Hanya dia yang tahu penyebab Anabel bisa seperti itu.