Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Fakta Demi Fakta Terungkap



Bu Renata dan pak Radit sudah tiba di rumah sakit. Langkah seribu pun mereka lakukan demi bisa cepat tiba di ruangan anaknya.


“Jangan begini lagi yah nak! Kalau ada apa-apa, cerita ke kami. Jangan dipendam sendiri,” tutur bu Renata dengan berlinang air mata.


“Iya ma,” balas Alisha dengan mata berkaca-kaca.


Di saat yang sama, ia merasa ada yang basah di bawah sana. Hal yang selalu ia rasakan saat tamu bulanannya berkunjung.


Apa ini darah? Berarti benar kata dokter tadi, kalau aku tidak hamil. Alhamdulillah, aku tidak mengandung anaknya kak Angga. Keluar dari sini, aku akan mengurus surat cerai.


“Mana suami mu?” tanya pak Radit yang tak mendapati keberadaan Angga di sekitar situ.


“Ma, bisa belikan aku pembalut?” tanya Alisha cepat untuk mengalihkan pembicaraan.


“Biar aku yang pergi beli. Tante di sini saja, temani Alisha. Tante juga pasti capek kan, baru saja datang.”


“Jangan! jangan! Kamu kan cowok Van. Apa kamu tidak malu beli pembalut?”


“It is okay, Sha. Sekalian belajar jadi suami yang baik.”


“Ha ha ha. Semoga kamu cepat dapat istri ya.”


Devan tersenyum kecut. Kutunggu jandamu Sha. Ia pun keluar dari ruangan setelahnya.


“Bukannya kamu hamil, nak? Kenapa sekarang malah menstruasi?” selidik bu Renata.


“Panjang ceritanya ma. Yang jelasnya, kesalahpahaman ini terjadi karena Angga. Keluar dari sini, aku akan mengurus surat cerai.”


“Kalian baru saja menikah, sudah mau cerai. Apa kata papanya Angga nanti? Sean itu sahabat karibku, Alisha. Jangan sampai karena perceraian kalian, persahabatan kami jadi retak juga.”


“Apa sebenarnya masalah kalian? Sampai segitunya kamu menuntut cerai,” tanya pak Radit dengan merendahkan suaranya.


“Kak Angga itu jahat pa. Dia seorang mafia, suka membunuh orang. Dia juga suka mabuk-mabukan dengan anggota-anggotanya. Yang paling tidak bisa kuterima, selama ini dia selalu berhubungan dengan pacarnya.”


“Jadi begitu sifat Angga selama ini? Dia ternyata jahat sekali ke anak kita pa. Memang sudah seharusnya Alisha meminta cerai.”


“Tidak bisa begitu ma. Masalah ini harus dimusyawarahkan dulu dengan Sean dan istrinya. Kita dengarkan juga penjelasan Angga seperti apa. Biar masalahnya clear dan tidak melebar kemana-mana.”


“Tapi aku tidak mau lagi ketemu dengan kak Angga. Aku menyebarkan video asusilanya dengan pacarnya. Dia pasti akan membunuhku karena itu.”


“Kamu tenang saja kalau masalah itu. Selama ada papa, dia tidak akan bisa mencelakai kamu.”


Alisha menarik nafas panjang. Andai saja papa tahu, kalau papa kecelakaan itu karena kak Angga. Papa pasti tidak akan berani berkata seperti ini.


Percakapan mereka terus berlanjut, hingga terhenti karena kedatangan Devan. Terdapat pembalut bersayap di tangan pria abdi negara itu.


“Aku hanya mau musyawarah dengan keluarga kak Angga kalau ada Devan di tengah-tengah kita.”


Devan mengernyitkan alis mendengar ucapan Alisha barusan. “Hah? Kenapa melibatkan aku di musyawarah keluargamu?”


“Please, mau ya Van. Bantu aku untuk gugat cerai kak Angga. Aku takut kalau dia mengamuk nanti. Kalau ada kamu, dia tidak akan berani bertindak kasar lagi. Please, please Van.”


“Demi kamu ya.” Yes, Alisha dan Angga akan bercerai. Finally, aku punya kesempatan untuk menikah dengan Alisha. Senangnya ....


“Ma kasih ya, Van. Thanks juga sudah mau repot-repot belikan aku pembalut, he he.”


“Sudah tugasku sebagai sahabatmu.” Sebagai calon suamimu maksudnya.