Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Alisha and Devan



Tukang ojek ini melewati pangkalan tempat ia selalu menunggu pelanggan. Bawahan Roy yang sedari tadi menunggui nya di situ langsung menghadang nya.


“Kamu habis mengantar siapa?” tanya nya setengah menggertak.


Pak ojek menghentikan motor nya seketika. “Penumpang, Pak.”


“Tanpa kamu bilang pun aku sudah tahu. Maksudku siapa penumpang yang kamu


antar itu? ”


“Keponakanku, kalau boleh tahu ada masalah apa ya Pak?”


Alih-alih menjawab pertanyaan tukang ojek tersebut, bawahan Roy malah memaki nya.


“Jangan bercanda ya Pak! Berikan keterangan yang asli!”


“Aku tidak bercanda, Pak.” Usai berkata seperti itu, tukang ojek ini kembali menghidupkan mesin motor nya.


“Harap kerja samanya Pak. Jangan asal pergi saja!” Anak buah Roy pun memperlihatkan identitas nya pada tukang ojek berusia senja tersebut.


“Justru Bapak yang harus bekerja sama. Istriku sekarat di rumah Pak. Dia harus segera dibawa ke dokter. Kalau terjadi apa-apa sama dia, Bapak aku tuntut.”


Sang gojek langsung melajukan motor nya tanpa berbalik lagi. Membuat bawahan Roy yang geram bergegas menyusul nya.


Di rumah bapak itu, tampak seorang perempuan paruh baya tengah terkulai lemas di atas ranjang kumuh. Wajah nya pucat, dan badan nya amatlah kurus.


Pedih, itulah pancaran yang tampak dari mata wanita tua itu. Yang dengan melihat nya saja, orang yang memandang nya akan hanyut dalam kesedihan.


Tak dapat digambarkan dengan kata-kata betapa tersiksanya batin dan fisik istri si bapak ojek itu. Pasti karena ia menanggung penyakit yang tak ringan itu.


Meski begitu, istri tukang ojek tua itu tetap tersenyum kala menyadari kehadiran anak buah Roy di rumah nya. Menambah iba di hati abdi negara itu pada nya.


Dengan begitu selamatlah bapak ini dari kecurigaan polisi. Begitu juga dengan Miland, Murad, dan Angga. Mereka berhasil meninggalkan Indonesia tanpa bayang-bayang polisi lagi.


Di tempat yang lain, Roy berhasil mengikuti taxi yang ditumpangi oleh lelaki bayaran Angga. Lelaki itu masuk ke toko mainan anak.


“Untuk apa Miland ke situ?” monolog Angga.


Roy yang menaruh curiga turut memasuki toko mainan tersebut. Tak ada transaksi yang mencurigakan sama sekali di dalam. Yang ada hanya beberapa orang dewasa menemani anak nya berbelanja.


Roy mengedarkan pandangan ke sekitar, ia pun melihat lelaki yang ia kira Miland sedang berdiri di depan boneka-boneka Disney.


Roy mendekat, memperhatikan lelaki yang ia kira Miland itu mengambil boneka Aladdin dan Jasmine.


Sang lelaki bayaran spontan menoleh ke arah Roy. “Bagus ya boneka nya? Ini cocok untuk Bapak,” ucap si lelaki sembari menunjukkan boneka Jafar yang berada di rak itu.


Roy berasa ditampar dua kali. Tamparan pertama karena ia salah mengira orang. Tamparan kedua karena ia ditunjukkan boneka Jafar. Karakter jahat di kartun produksi Disney yang rela mencelakai Aladdin hanya demi ambisi nya tercapai.


Sementara di Jepang, tidak adanya Angga dan Murad menyebabkan Alisha berhasil kabur dengan mudah dari markas. Ia bergegas ke lokasi yang Devan arahkan selama ini via telepon umum.


Benar saja, di tempat itu sudah ada Devan yang sedang menunggu nya untuk kembali ke Indonesia.


Tanpa berlama-lama lagi, Alisha pergi bersama Devan. Dua perasaan yang sama kini menyatu, kemudian melebur menjadi butir-butir kebahagiaan di kehidupan mereka.


Yup, itulah definisi cinta yang sesungguhnya. Tentang memiliki, bukan hanya jiwa, tapi juga raga.


Karena cinta tanpa memiliki hanyalah obsesi, itu persis seperti yang dirasakan Angga pada Alisha saat ini.


Di saat ia mulai mencintai Alisha sepenuhnya, hati Alisha bukan lagi untuknya. Melainkan pada Devan, lelaki yang akan membawanya kembali ke Indonesia itu.