
Istri-istri mafia itu masuk ke dalam mobil. Dimana di jok depan, sudah ada Murad yang bersiap mengoperasikan setir nya.
Langsung saja, kedua tangan nya yang kekar mengemudikan kendaraan beroda empat itu ke tujuh stasiun TV terhits.
Di belakang mobil mereka, turut tujuh black porsche yang mengawal. Di tiap-tiap mobil itu berisikan suami yang siap mendampingi istri nya beraksi nanti.
Detik demi detik berlalu, tibalah mereka di studio pertama. Wanita pertama pun turun, tak lupa wanita itu mengenakan masker sebelum masuk ke gedung penyiaran.
Adapun suami dan yang lain menunggu di luar. Memantau para istri beraksi di layar monitor yang telah disiapkan Miland jauh-jauh hari.
Wanita-wanita itu pun menyajikan minuman yang telah mereka larutkan obat tidur berdosis tinggi ke dalam nya pada crew yang sedang bertugas.
Sesuai yang mereka harapkan, para crew itu meneguk minuman nya sebelum melakukan siaran. Tak lama setelah tegukan itu, netra mereka menjadi berat, semakin berat, dan tertidur.
Suami yang mengawasi pergerakan masing-masing istri nya di dalam mobil, bergegas memasuki studio. Diikuti oleh seorang news director dan news anchor, yang telah Miland suap dengan uang bernominal fantastis.
Sang suami terus mengedarkan pandangan ke semua crew yang tertidur itu. Di tangan nya terdapat pistol yang hanya dengan sekali tembak sudah bisa melumpuhkan target nya, jika ada yang bangun.
News anchor dan news director pun mulai bekerja sama dalam menyiarkan video yang diberikan Miland.
Seketika, kabar yang bombastic itu memenuhi layar televisi di tujuh siaran berita. Membuat para peminat nya menganga saat menyaksikan berita hangat itu.
Terbesit di hati mereka semua sebuah pertanyaan yang seragam kala menonton berita itu. Bagaimana bisa abdi negara seperti Devan bisa berbuat sekejam itu?
Hanya dalam hitungan menit, berita mengenai Devan itu berkelana di seluruh penjuru Nusantara. Lisan, tulisan, sosmed, semua membahas tentang kekejaman Devan pada Angga.
Kembali ke studio, para suruhan Miland itu berjalan cepat menuju mobil selepas merusak semua CCTV yang ada di dalam.
Sementara di sebuah ruangan yang identik dengan cat berwarna putih dan aroma obat-obatan, Devan tengah berbaring agak lemas.
Alat-alat bedah sang dokter berlalu lalang di tangan nya. Usai memberikan obat bius pada nya, si dokter menyayat bagian yang tertembak. Lalu mengeluarkan peluru dari sayatan kecil itu.
Belum juga pulih, Devan terpaksa meninggalkan kamar bedah itu setelah melihat pengakuan nya yang beredar dimana-mana.
Ia beranjak pulang ke rumah nya untuk mengadukan perbuatan kelompok bertopeng yang ia yakini adalah suruhan Angga.
“Kamu yakin dia yang menyandera mu?” Suara pak Dhafa terdengar berat.
“Siapa lagi yang bisa melakukan itu kalau bukan Miland, Pa?”
"Kamu tenang saja! Papa akan tangani ini dengan cepat."
Atas bantuan ayah nya, Devan berhasil melaporkan Miland. Segera, Roy melakukan penangkapan ketika Miland tengah menikmati sarapan nya di sebuah restoran.
“Angkat tangan mu!” Roy menatap tajam ke arah Miland saat berujar. Tatapan itu bak tatapan elang yang siap menyambar mangsa nya yang tak berdaya.
Mau tak mau, Miland yang masih ingin menghirup udara segar mengangkat kedua tangan nya. “Ada apa ini? Kenapa kalian ke sini?”
“Tidak usah banyak tanya. Yang jelasnya kamu sudah dilaporkan. Jadi kamu harus ikut kami ke kantor sekarang!”
Miland mengikuti arahan itu dengan baik. Ia berjalan dengan dikawal Roy yang terus mengarahkan pistol ke arah nya, bahkan di dalam mobil sekali pun.
Setibanya di kantor polisi, Miland langsung dibawa ke hadapan Devan.