
“Apa sudah ada hasil?” tanya Devan tidak sabaran.
“Belum bisa dilacak pak, dia selalu menolak tawaran yang dikirim. Kenapa bapak tidak tanyakan langsung saja ke anggotanya yang tertangkap itu?”
“Percuma tanya dia. Bahkan mati sekali pun, dia tidak akan membuka mulut. Entah jampi-jampi apa yang Angga kasih sampai anggotanya bisa se-setia itu.”
“Mungkin bos mafia itu baik.”
“Kalau Angga baik, mantan istrinya tidak akan depresi dibuatnya.”
“Iya juga ya. Jadi ini bagaimana pelacakannya pak? Mau dilanjutkan tapi tidak bisa. Tawaran aplikasi yang kita kirim dia tolak terus. Apa bapak ada saran?”
“Saran apa?” tanya Angga seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
“Kira-kira aplikasi apa yang bakalan diminati mafia itu?”
“Waktu masih sekolah dulu, dia pernah dinobatkan sebagai siswa dengan IQ di atas rata-rata. I have a good idea for that. Coba tawarkan aplikasi Brain Test, dia mungkin bakalan suka.”
Riki kini mengirimkan tawaran bermain aplikasi Brain Test, via pesan singkat ke nomor Angga. Notifikasi gawai Angga pun berbunyi pelan saat pesan itu masuk. Awalnya ia ragu, tapi ia juga sangat penasaran dengan aplikasi itu.
Senyum Riki mengembang. “Akhirnya dia online juga pak. Ternyata dia benar-benar tertarik dengan aplikasi yang berkaitan dengan IQ. Saatnya melacak keberadaannya.”
Senyum Devan seketika jadi lebih merekah dari senyum Riki saat Riki berkata, “Gotcha pak mafia.”
“Sudah ketemu ya? Dimana letaknya?”
“Jaraknya sekitar dua puluh delapan kilo dari
gudang yang diledakkan pekan lalu. Kalau tidak salah, itu jalan ke hutan kan pak?”
“Iya, ke arah hutan terlarang. Bisa-bisanya mereka bersembunyi di hutan angker seperti itu. Tidak takut apa ketemu hantu penari?”
“Ha ha ha, bapak ada-ada saja. Mafia seperti mereka mana ada yang takut hantu.”
“Masuk akal. Well, kita ke mobil sekarang. Saatnya menangkap Angga dan pengikut-pengikut durjananya.”
Mereka semua memasuki mobil. Menyusuri jalan raya yang lama-kelamaan menuju hutan belantara nan gelap. Di tangan mereka terdapat pistol berisikan peluru yang paling mematikan.
“Di depan cuman ada semak-semak. Kamu yakin ini jalannya?” tanya Devan pada Riki dengan intonasi sedikit meninggi.
“Yakin, pak. Aplikasi pendeteksi ini tidak mungkin salah. Bagaimana kalau kita terobos saja semak-semaknya?”
“Okay, kita coba.” Devan lanjut menyetir mobil.
“Ternyata ada jalan di sini. Angga keren juga ya,” lanjutnya setelah menerobos semak-semak itu.
Sementara di dalam markas, Murad berteriak panik. “Gawat bos, ada penyusup. Semak-semak buatan kita sudah diterobos.”
“Semuanya tetap tenang! Matikan lampunya sekarang, Murad. Kalian semua, lari ke pintu rahasia sekarang juga!”
Angga kemudian ikut berlari ke belakang dengan menggenggam tangan Anabel. Tak ingin Guardian Angel-nya itu tertangkap oleh polisi.
Devan dan polisi yang lain sudah menemukan markas itu. Sedangkan di belakang, Angga dan anggota mafia yang lain sudah berada di atas speed.
“Antarkan mereka semua ke Jepang. Ini untuk biaya transportasi kalian.” Angga menyerahkan koper besar berisikan uang berwarna merah muda ke Murad. “Kalian akan aman di markas Yakuza,” lanjutnya dengan menahan air matanya agar tak jatuh.
Murad tertunduk lesu. “Baik, bos.”
“Kenapa kamu tidak ikut yang?” tanya Anabel dengan berurai air mata.
“Aku akan menyusul kok, yang.”
“Tapi kapan?”
“Nanti, kalau pembalasanku ke polisi-polisi sialan itu terpenuhi.”
“Ya sudah kalau begitu. Tapi kamu hati-hati ya, yang. Jangan sampai tertangkap polisi.”
“Iya, sayang.” Angga mengecup dahi Anabel, lalu dengan terburu-buru melajukan speednya ke arah yang berlawanan.