
Angga dan Murad bergegas ke ruangan dimana Anabel disekap. Dari kejauhan, mereka melihat banyak body guard yang berdiri di depan ruangan itu.
Postur para body guard itu tinggi besar, dengan otot yang juga besar. Lengkap dengan pakaian hitam, yang semakin menambah aura sangar mereka semua.
“Mau apa kalian ke sini?” tanya salah satu body guard itu pada Angga dan Murad yang semakin mendekati pintu ruangan khusus yang dibuat Dominic untuk menyandera musuh-musuh nya.
Angga tidak menjawab, ia justru membuka masker nya. “Kamu ....” ucap lelaki yang bertanya tadi setelah melihat wajah Angga.
“Dia Angga, ketua mafia terkuat di Indonesia. Tunggu apa lagi? Cepat serang dia!” titah body guard lain nya.
Delapan orang body guard yang berjaga di ruangan itu pun menghadang Murad dan Angga. Hingga terjadilah perkelahian dengan tangan kosong di antara mereka.
Meski jumlah nya tidak seimbang, Angga dan Murad bisa menghadapi body guard itu dengan gagah berani. Tak cukup sepuluh menit, para anak buah Dominic itu pun tumbang oleh mereka berdua. Darah kini mewarnai wajah para body guard yang sudah tak bernyawa itu.
“Cepat masuk! Kamu lepaskan Anabel, biar aku yang jaga di sini!” perintah Angga.
“Tapi bos ....”
“Cepat Murad! Kita tidak punya banyak waktu. Masuk, lepaskan Anabel sebelum kita tertangkap!”
Murad berlari masuk ke ruangan yang tak terkunci itu. Ia mendekati wanita milik bos nya itu.
“Murad? Darimana kamu tahu aku ada di sini?” tanya Anabel pada Murad yang tengah melepaskan ikatan tangan nya.
“Bos melacak keberadaanmu, makanya aku tahu kamu ada di sini.”
“Angga sudah datang dari Indonesia?”
“Iya.”
“Terus dimana dia? Kenapa bukan dia yang menyelamatkan aku?”
“Bos ada di luar. Ayo cepat! Kita harus pergi dari sini sebelum ketahuan.”
Baru saja akan keluar, Angga sudah menghampiri nya. “Bos? Bukannya bos mau jaga di luar?” tanya Murad dengan menaikkan alis nya.
“Anak buah Dominic ada di luar. Jumlah mereka lebih banyak sekarang. Sekarang cuma ada satu cara untuk kita bisa keluar dari sini.” Angga menarik tangan Anabel, membawa nya ke dekat jendela.
“Maksud bos, kita harus lompat ke bawah?” tanya Murad.
“Iya, cepat lompat!” jawab Angga panik.
“Terus aku bagaimana, yang?” tanya Anabel.
“Kamu juga lompat.”
“Kamu jangan bercanda dong, yang. Gedung ini tinggi sekali, aku mana bisa lompat.”
“Tapi kita harus lompat sekarang.”
“Aku takut, yang.”
“Jangan takut sayang! Ada aku di sini. Ayo lompat bersamaku, semuanya pasti akan baik-baik saja.”
Murad melompat duluan. Angga menunjuk Murad yang ada di bawah. “Lihat Murad, dia baik-baik saja.”
“Okay, aku akan lompat juga.”
Angga meraih Anabel ke pelukannya. “Tutup mata kalau kamu takut,” tutur nya sebelum melompat dengan memeluk Anabel.
Anabel membuka mata, saat merasa kaki nya telah menapaki tanah. “Kita selamat yang,” ujar nya dengan girang.
“Belum, kita belum sampai markas. Ini masih kawasan Dominic, kita bisa saja tertangkap sewaktu-waktu.”
Di lantai dua, para bawahan Dominic yang lain melihat teman-teman nya terkapar tak bernyawa. Mereka segera memasuki ruangan untuk mengecek keadaan Anabel di dalam.
“Anabel kabur,” ujarnya lalu berlari ke jendela. Ia langsung mengedarkan pandangan nya ke bawah. “Dia ada di bawah,” lanjut nya saat melihat Anabel berdiri bersama Angga.
Kaki tangan Dominic itu lalu menembak ke arah Anabel dan Angga. Membuat Anabel berteriak histeris tiap kali peluru ia tembakkan.
Anak buah Dominic terus menembak, membuat Murad jadi panik. Murad ingin segera melajukan mobil, tapi Angga belum masuk.
Beberapa detik berlalu, Angga akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil. Mengetahui bos nya sudah di dalam, Murad langsung mengemudikan mobil itu dengan cepat.
Tapi tembakan demi tembakan terus diberikan oleh anak buah Dominic. Membuat Murad kesulitan untuk menyetir karena harus menghindari tembakan yang bertubi-tubi itu.
“Tora dan yang lain terbunuh bos,” lapor anggota mafia yang menembak tadi.
“Bagaimana dengan Anabel?” tanya Dominic.
“Dia berhasil kabur bos.”
“Kabur? Apa guna nya pistolmu itu? Kalau menembak perempuan saja tidak bisa.”
“Kami sudah menembak nya berkali-kali bos. Tapi melesat terus, karena dia diselamatkan Angga.”
“Pantas Anabel tidak mau buka mulut, ternyata karena Angga masih hidup. Perempuan bodoh itu, berani-beraninya dia mempermainkanku.” Dominic meninju meja di hadapan nya dengan keras. “Hubungi semua yang berjaga di perbatasan. Jangan biarkan kendaraan apa pun lewat,” tambah nya.
“Perintah siap dilaksanakan, bos.”
Anak buah itu pun pergi. Dominic juga ikut pergi setelah mengambil senapan tembakan jarak jauh nya.
“Kita harus bagaimana sekarang bos? Semua jalanan utama ditutup?” tanya Murad.
“Cari jalan tikus!”
Murad kembali melajukan mobil ke gang-gang kecil. Tapi jalanan tikus juga telah dipenuhi oleh anggota Dominic.
“Tinggalkan saja mobil ini. Kita hanya bisa ke hutan sekarang.”
Angga, Murad, dan Anabel berlari ke hutan sebelum dilihat oleh anak buah Dominic. Mereka terus berlari menuju tepi hutan, yang ternyata juga dijaga oleh beberapa kaki tangan Dominic.
Sesampainya di sana, Angga dan Murad menghabisi orang-orang yang berjaga di situ. Kedua lelaki ini juga merampas speed milik mereka.
Baru saja akan mengoperasikan speed, Dominic tiba dan langsung mengarahkan senapan nya ke arah Angga. Tembakan yang tiba-tiba itu, mengakibatkan Angga tak dapat mengelak.
Menyadari itu, Anabel memasang badan. Melindungi Angga agar tak menjadi sasaran senapan mematikan punya Dominic. Anabel pun tertembak, darah kini mengalir di tubuh model cantik itu.
Murad segera melajukan speed. Di saat yang sama, tembakan bertubi-tubi masih terus Dominic lepaskan.
“Kamu harus bertahan sayang. Kita akan kembali ke Jepang sama-sama,” pinta Angga pada Anabel yang semakin tak sadarkan diri.
“Aku sudah tidak kuat lagi, yang.”
“Jangan bilang begitu sayang, kamu pasti kuat. Anabel yang kukenal selama ini selalu kuat.” Perlahan, rintik berjatuhan dari netra Angga.
“Terima kasih untuk beberapa tahun ini. Aku sangat bahagia bisa mengenalmu, sayang. Kamu adalah lelaki terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku.”
Anabel menatap Angga, sangat dalam. Mata nya yang selalu berbinar, kini sayu karena menahan sakit nya tembakan Dominic.
Ia meraba rahang tirus Angga. “I will always love you sayang,” ucap nya sebelum menutup mata untuk selama-lamanya.
“Anabel, Anabel bangun sayang! Kamu tidak boleh mati.”
Angga terus mengguncang tubuh Anabel. Namun, berapa kali pun ia memohon, Anabel tidak akan pernah membuka mata lagi.
Perempuan yang amat ia cintai itu sudah pergi. Meninggalkan nya untuk selama-lamanya. Angga tidak mampu lagi menahan sedih nya. Tangis nya kini pecah, menggema di sepanjang sungai itu.
.
.
.
Mewek🤧, maaf baru up. Terima kasih sudah mau mampir...