
Tiga hari setelahnya, pelayan yang bertugas mengantarkan makanan ke ruangan Dominic jatuh sakit. Jadi koki senior meminta Sally, yang masih tergolong sebagai anggota baru untuk menggantikan pelayan itu.
Sally pun berjalan menuju ruangan khusus milik Dominic. Di depan ruangan itu, ia bersiap membuka pintu. Namun mengurungkan niat, kala mendengar percakapan Dominic dengan seseorang yang entah siapa itu via ponsel.
“Itu balasan nya karena telah menghabisi kakek ku di Poveglia. Pacar nya sudah ke alam baka, sebentar lagi giliran nya.” Dominic lalu tertawa jahat bersama dengan tawa lawan bicara nya di seberang sana.
“Jadi Dominic adalah salah satu cucu lelaki tua yang kubunuh waktu itu. Arghh, sialan kamu Dominic. Sebelum menyerangku, kamu akan kuhabisi duluan,” umpat Angga yang terus memantau suara-suara yang terdengar dari sepatu penyadap milik Sally.
Ia lalu mengirimkan pesan pada Sally. Informasi yang kumau sudah cukup. Sekarang saatnya meledakkan markas Dominic.
Ia juga mengirimkan alamat ke Sally. Ini letak markas Mateo, dia sudah kembali dari Singapura. Jadi kamu sudah bisa ke sana untuk berjaga-jaga. Murad juga sudah on the way ke situ untuk menjemput mu.
Di saat yang sama, Dominic sudah selesai menelepon. Sally pun masuk untuk membawakan makanan yang sudah tidak begitu hangat lagi.
“Selamat menikmati bos,” ucap nya setelah meletakkan makanan itu tepat di depan Dominic.
Ia kemudian berjalan menuju pintu keluar. Seperti yang Angga perintahkan, Sally menjatuhkan bom pisau lipat sebelum keluar dari ruangan mafia sombong yang sedang makan itu.
Sally juga menjatuhkan bom itu ke beberapa tempat di dalam markas. Di vas bunga, bawah sofa, dan masih banyak lagi di tempat yang tak mudah terlihat oleh orang lain.
Sesampainya di dapur, Sally melepaskan apron. “Mau kemana?” tanya koki senior pada nya.
“Beli bahan-bahan cake, madam. Banyak stok yang hampir habis,” jawab Sally santai. Tak ada rona kegugupan sama sekali di wajah nya saat mengatakan itu.
“Cepat kembali ya! Masih banyak kerjaan yang harus kamu selesaikan.”
“Iya, madam.”
Sally lalu melangkah dengan cepat, meninggalkan markas yang telah ia jelajahi selama dua pekan itu. Ia langsung menuju ke markas milik Mateo. Di tengah-tengah perjalanan nya, ia menekan tombol merah yang melekat di remote control.
BOOM, BOOM, BOOM. Suara ledakan silih berganti di markas Dominic. Hanya dalam hitungan detik, markas Dominic itu telah menjadi rata karena bom pisau lipat pemberian bos nya.
Dominic dan para kaki tangan nya hangus terbakar, bersamaan dengan meledaknya beberapa bom yang ditebar Sally sebelum pergi.
Sepertiga hari berlalu, Murad akhirnya tiba di markas Mateo. Dengan mengendarai jet canggih milik Angga.
“Bos Angga berterima kasih pada Anda karena sudah berkenan menyembunyikan Sally di sini,” tutur nya.
“Bilang ke bosmu, aku sangat senang bisa membantu nya,” balas Mateo seraya memperlihatkan senyum manis nya.
Murad dan Sally pun pamit, dan bergegas kembali ke Jepang.
“You are the best Sally. Kamu berhasil menuntaskan Dominic dan anggota-anggota nya,” sambut Angga yang didengar langsung oleh Alisha dan yang lain.
Sementara di Italia, ledakan markas Dominic berhasil menyita perhatian masyarakat di sana. Terlebih bagi para aparat. Mereka beralih ke tempat kejadian, mencari tahu penyebab ledakan yang menelan banyak korban jiwa itu.
Usut demi usut, mereka menemukan banyak jarum suntik yang tersebar di sekitar lokasi ledakan. Aparat itu pun meminta bantuan forensik untuk mencari tahu apa sebenarnya peruntukan dari jarum-jarum itu.
Tak butuh waktu lama bagi tim forensik untuk memeriksa nya. Hasil yang keluar menunjukkan, bahwa jarum suntik itu ternyata telah digunakan untuk penyalahgunaan narkoba.
Fakta mengungkap bahwa Dominic memperdagangkan narkoba ke berbagai negara. Mulai dari negara maju, berkembang, bahkan negara miskin sekali pun juga jadi target operasi nya.
Aparat kemudian melakukan penyelidikan berlanjut. Untuk mencari tahu dengan siapa saja Dominic bekerja sama dalam menyebarkan barang haram itu.
Tertangkapnya Dominic, rupanya memberi dampak positif pada orang-orang yang tinggal di sekitarnya. Mereka merasa tenang, karena tak ada lagi mafia yang suka bertindak sewenang-wenang pada mereka.
Semenjak kejadian itu, Angga juga mengamanahi Sally dengan tugas baru. Yakni memantau pergerakan Alisha.
“Aku lagi bos?” tanya Sally seraya menunjuk diri nya sendiri dengan jari telunjuk nya yang lentik.
“Iya, kenapa? Kamu tidak suka ya?”
“Suka bos, tapi kenapa harus aku lagi?”
“Karena cuma kamu yang gemulai.”
“Apa hubungannya bos?”
“Alisha lebih nyaman berada di dekat kamu daripada yang lain, karena kelakuanmu yang seperti perempuan. Makanya kamu yang kutunjuk.”
“Ya sudah kalau begitu bos.”
Beberapa hari setelahnya, Alisha menawarkan diri untuk menemani Sally berbelanja. Hal ini menimbulkan kecurigaan yang besar di benak Sally. Ia lalu melaporkan permintaan Alisha itu ke Angga.
Sally lalu menghampiri Alisha. “Kata bos, kamu boleh ikut.”
Ada pelangi di bola mata Alisha saat
mendengar pernyataan Sally, kalau Angga memperbolehkan nya ikut bersama lelaki melambai itu. Ia tersenyum di sepanjang perjalanan menuju pusat perbelanjaan.
“Aku ke toilet dulu ya,” pamit nya setelah lama berbelanja.
“Iya, aku tunggu kamu di sini ya.”
Alisha bergegas pergi, membiarkan Sally berbelanja seorang diri. Sally yang sedari tadi pagi curiga pada pergerakan Alisha, mengikuti Alisha dengan sembunyi-sembunyi.
Feeling nya benar, istri dari bos nya itu ternyata tidak ke toilet. Melainkan ke telepon umum dan berbincang selama beberapa menit di dalam.
Sally yang tak ingin ketahuan sedang membuntuti Alisha kembali masuk. Ia berpura-pura memilih sayuran yang segar.
Beberapa menit berlalu, Alisha kini menghampiri nya.
“Lama banget neng buang air nya.”
“Biasa kak, perempuan memang suka lama kalau ke toilet.”
“Masih ada yang mau kamu beli tidak?” tanya Sally ramah.
“Tidak ada kak.”
“Okay, kalau begitu. Kita pulang sekarang.”
Sally dan Alisha pun masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Murad. Setibanya di markas, Sally langsung melaporkan kejadian di market tadi ke Angga. Menyebabkan bos nya itu murka pada Alisha.
‘Dia ke telepon umum? Hah, berani sekali dia bertindak seperti itu. Dia pasti menelepon Devan, dia harus kuberi perhitungan. Akan kubuat Devan tidak mau lagi sama Alisha.’
Angga berjalan cepat ke kamar. Ia mengunci pintu, dan itu membuat Alisha jadi sangat ketakutan.
“Aku hanya mengunci pintu. Kenapa ekspresimu begitu?” tanya Angga masih dengan intonasi yang stabil.
“Aku? Kenapa ekspresiku? Biasa saja.”
“Kamu bilang biasa saja, tapi badanmu bergetar kuat. Kamu takut ya?”
“Tidak, kenapa harus takut?”
“Baguslah kalau kamu tidak takut. Kebetulan sekali, aku mau minta jatahku yang tertunda selama ini.”
“Jatah? Jatah apa?” Alisha berpura-pura tak tahu demi tak disentuh oleh Angga.
“Lepaskan semua pakaianmu sekarang.”
“Untuk apa buka pakaian? Kamar ini dingin, aku tidak merasa gerah.”
“Buka sendiri atau aku yang buka kan,” gertak Angga.
“Kamu kenapa lagi sih?”
“Pertanyaan itu seharusnya ditujukan ke kamu.”
“Maksudnya?”
“Ingat ini baik-baik Alisha. Kamu masih berstatus istriku. Jangan coba-coba berhubungan dengan lelaki selain aku.”
Angga menarik kasar tubuh Alisha. Lalu menjatuhkan tubuh istri nya itu dengan kasar juga ke atas ranjang.
.
.
.
Mulai nakal😂