Revenge In Marriage

Revenge In Marriage
Hamil Anak Angga



Usai pergulatannya itu, Angga menggendong Alisha kembali ke ranjang. Alisha mencoba untuk bangun. “Mau kemana?” tahan Angga.


“Ke kamar tamu,” jawab Alisha yang tak berani menatap netra sang suami.


“Kenapa mau ke kamar tamu? Di sini saja, ini


kan juga kamar.”


“Ini kamar kamu dan kak Anabel, bukan kamarku. Jadi tolong lepaskan tanganmu kak! I am gonna visit my room.”


“Tidak bisa, kamu harus tidur denganku di sini. Malam ini dingin sekali, aku butuh kehangatanmu.”


“Aku tidak sudi jadi pelampiasan cintamu,” balas Alisha lirih.


Berkali-kali Alisha memohon, tapi tetap saja hati Angga beku. Dia tak akan membiarkan istrinya itu keluar. Tak ada harapan bagi Alisha untuk bisa lepas dari dekapan Angga.


Mau tidak mau, Alisha harus tidur bersama Angga malam ini. Di tengah malam, dia menggigil. “Kamu kenapa dek?” tanya Angga khawatir.


“Dingin kak.”


“Makanya, jangan marah kalau kupeluk. Ini demi kebaikanmu juga.” Angga meraih Alisha agar lebih dekat dengannya. “Bagaimana, sudah mendingan kan?” lanjutnya.


“Iya kak.”


Karena masih dingin, Alisha membalas rangkulan Angga. Kepalanya juga dia sandarkan di dada bidang suaminya itu. Lama-kelamaan, dia kembali terlelap.


Adzan subuh sudah selesai dikumandangkan, tapi Alisha belum bangun juga. Angga membangunkannya untuk shalat.


Angga merasakan tubuh Alisha panas. Anak ini pasti demam karena hujan-hujanan kemarin.


“Bangun dek! Sudah adzan, kamu belum shalat subuh.”


Alisha mendengarnya, tapi kepalanya terasa berat. Dengan sekuat tenaga, dia berusaha bangkit dari tidurnya. Tak tega melihat Alisha tersiksa seperti itu, Angga pun memapahnya untuk wudhu dan shalat.


Selepas shalat subuh, Angga menggendong Alisha kembali ke kamar. Tak lupa dia menyuruh mbok Murni untuk membuatkan teh hangat untuk Alisha.


Angga dan Alisha sudah di atas ranjang. Angga kembali memeluk Alisha yang kedinginan, sembari menggerakkan gawainya untuk menghubungi dokter kepercayaan keluarganya.


“Baik. Saya ke situ sekarang,” balas dokter itu.


“Terima kasih mbok.”


“Sama-sama tuan.”


Mbok Murni kembali ke dapur, membuatkan bubur untuk Alisha. Sedangkan Angga, dia menyuapi Alisha. Tehnya sudah habis setengah.


“Aku lemas kak,” ucap Alisha lirih.


“Baring lagi saja dek!”


Alisha berbaring, Angga kembali mendekapnya sembari mengoperasikan gawai. Dia mengirim pesan ke dokter, memintanya untuk berbohong.


Angga menyuruhnya untuk tidak mengatakan kalau Alisha sebenarnya hanya demam biasa. Angga justru menyuruhnya bersaksi kalau Alisha sedang hamil.


Dokter yang ditunggu akhirnya datang juga. Dia langsung memeriksa Alisha. “Kamu hamil sayang,” ungkapnya setelah melakukan serangkaian pemeriksaan.


“Ini ada vitamin. Tolong diminum ya, harus rutin.”


“Baik, bu.” Dokter itu pun pergi setelah menerima bayaran dari Angga.


“Aku mau pergi kuliah kak. Ada ujian mid hari ini.”


“Jangan kemana-mana dulu dek! Dokter bilang kamu harus banyak istirahat.”


“Kalau tidak ikut mid, aku harus mengulang semester depan kak.”


“Kamu tenang saja, nanti biar Murad yang urus itu. Yang penting sekarang, kamu harus banyak istirahat. Demi kesehatan anak kita juga,” kata Angga sambil mengelus perut Alisha.


Maafkan aku Alisha, aku terpaksa berbohong. Malam itu sebenarnya tidak terjadi apa-apa di antara kita. Walau begitu, kamu tetap harus beranggapan sedang mengandung anakku. Supaya kamu tidak minta cerai terus.


Sesuai janjinya pada Alisha barusan, Angga menghubungi Murad. “Masih ingat rumah dekan di kampus Alisha?”


“Iya, ingat bos.”


“Baguslah kalau begitu. Tolong ke rumah dekan itu sekarang. Lakukan seperti sebelumnya.”


“Baik, bos.”