
“Demi menjaga perasaan orang tua kita masing-masing, kita tidak boleh bercerai secepat ini. Nanti saja, kalau kita sudah punya alasan yang tepat dan masuk akal. Saya juga harus memastikan dulu, saya tidak hamil karena perbuatan kakak semalam.”
Setelah mengucapkan itu, Alisha mengemasi barang-barangnya. Semua barang itu kemudian dia letakkan di depan pintu kamar.
“Mau kemana?” tanya Angga khawatir.
“Kamar tamu.”
“Buat apa?”
“Mulai malam ini dan seterusnya aku tidur di kamar tamu. Kakak tidak boleh memaksaku untuk tidur di kamar ini lagi. Remember, posisi kita sudah sama sekarang.”
Sebelum ke kamar tamu, Alisha menghampiri pak Maman terlebih dahulu. “Tolong pindahkan barang-barang saya yang ada di kamar kak Angga ke kamar tamu ya!”
“Baik, nyonya.”
Pak Maman bergegas memasuki kamar Angga. “Saya tidak memanggil kamu. Kenapa ke sini?” tanya Angga yang masih kesal dengan perlawanan Alisha.
“Saya disuruh nyonya untuk memindahkan barang-barangnya ke kamar tamu, tuan.”
It is okay dia tidur di kamar tamu. Selama dia tidak minta cerai, posisiku masih aman. Yang harus kupikirkan sekarang cuma satu, bagaimana caranya supaya Alisha tidak bisa lepas dariku. Jangan sampai karena dia, aku tidak dapat warisan.
“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” tanya mbok Murni pada Alisha yang tiba-tiba saja datang ke kamarnya.
“Saya mau tidur di kamar mbok malam ini. Boleh kan?”
“Tentu saja boleh. Ini serius nyonya mau tidur di sini?”
“Iya, kenapa tanya begitu mbok?”
“Ini kan kamar pembantu nyonya. Selama ini nyonya tidur di kamar tuan Angga, kamarnya nyaman. Masa’ mau tidur di kamar saya yang begini.”
“Kamar mbok bagus kok. Sebenarnya saya juga mau tanya-tanya tentang kak Angga, mbok.” Alisha lalu berbaring di ranjang mbok Murni.
“Mau tanya apa nyonya?”
“Mbok kenal pacarnya kak Angga?”
“Anabel?”
“Iya mbok.”
“Kenal, kenapa nyonya tanyakan itu?”
“Kalau lima tahun, lama atau tidak nyonya?”
Mereka ternyata sudah lama sekali pacaran. Itu berarti kak Angga pasti sudah cinta mati sama kak Anabel. “Lama mbok. Kak Anabel sering datang ke sini kah mbok?”
“Dulu sering. Semenjak nyonya dan tuan menikah, tidak pernah lagi.”
“Mereka pasti sering begituan kan mbok?” tanya Alisha sembari terkekeh.
“Begi-”
“Iya mbok begituan, buat anak maksudnya. Masa’ mbok tidak mengerti?”
“Oh, yang itu.” Mbok spontan mengangguk.
Raut wajah Alisha menunjukkan ketidaksenangan. Jangan sampai aku hamil. Kasihan anakku kalau punya bapak brengsek seperti kak Angga. Jangan sampai juga anakku mengikuti jejak bapaknya.
“Masih ada yang mau ditanyakan nyonya?” lanjut mbok Mirna.
“Nanti mbok, saya angkat telepon dulu.” Alisha pun menjawab panggilan telepon dari Devan.
“Assalamu ‘alaykum,” tutur Devan yang tengah berada di rumahnya.
“Wa’alaykumussalam warahmatullah. Tumben telepon malam-malam Van.”
“A little miss, kidding tapi ya. By the way, how are you Sha?”
“Fine. Kamu sendiri?”
“Fine juga. Ke rumah yuk besok! Ajak Rembulan juga sekalian.”
“Ada acara apa memang?”
“Syukuran kenaikan jabatan. Alhamdulillah, aku terangkat menjadi Irjen Pol. Makanya mau syukuran kecil-kecilan.”
“Wow, you are the best Van. Congratulations ya!”
“Iya, anyway jangan lupa datang besok ya! Aku tunggu loh.”
“Iya, tenang saja Van. Aku dan Rembulan pasti datang kok.”
Mereka berbincang hanya sebentar. Mereka berdua cukup tahu batasan. Cukup tahu bahwa hubungan mereka tidak boleh seakrab dulu lagi.