
"Hey, ini masih di kawasan sekolah! Jangan memeluk!" ucap Binar berusaha melepaskan pelukan gadis itu.
"Jadi, kalau di rumah boleh peluk Pak Binar? Kalau gitu ayo pulang, Pak!"
Binar segera menyentil kening Ailee supaya gadis itu segera sadar dan tak ngelantur lagi. Ia pun kembali memakai helmnya dan naik ke motor.
Tin...tin...
Tukang ojek yang Ailee pesan akhirnya datang juga. Ternyata tukang ojek itu tadinya mengalami kecelakaan kecil di tengah jalan, ia menabrak katak dan harus mengurus pemakamannya terlebih dahulu.
"Kataknya kasihan banget, Pak," lirih Ailee.
"Iya, Mbak. Saya jadi kepikiran kalau katak itu dicari keluarganya di rumah. Saya takut kalau dipenjara, Mbak," ucap Tukang Ojek sembari mengusap air mata yang hampir keluar.
"Harusnya bapak tadi bikin pengumuman dulu, supaya keluarganya nggak bingung nyariin dia. Huuuuu, sedih banget..."
"Kasihan banget pokoknya, Mbak. Sampai organ di dalam tubuh katak itu keluar semua..."
"Percakapan macam apa ini!" celetuk Binar. Ia benar- benar tak habis pikir dengan Ailee dan tukang ojek itu yang terus saja membicarakan katak. Ia pun segera melajukan motornya meninggalkan dua orang yang tak waras itu, takut ketularan somplak juga.
"Aduhh! Kok malah pergi sih, Pak Binar."
Ailee langsung naik ke motor tukang ojek, ia menyuruhnya untuk melajukan motor mengikuti Binar. Gadis itu tersenyum kemenangan karena dirinya berhasil mengikuti Binar.
Binar yang tak mau kalah pun semakin melajukan motornya dengan cepat. Jadilah mereka itu balapan tapi tidak liar. Hehe garing :")
"Heh, kamu ngapain ngikutin saya?" seru Binar.
"Siapa yang ngikutin? Orang aku mau ke panti dulu kok," jawab Ailee berteriak kencang.
"Tapi mbak, ini arahnya nggak sama kaya di aplikasi," timpal tukang ojek.
"Tuh dengerin, balik aja sana. Jangan ngikutin saya!" Binar pun tertawa lepas mendengarnya. Dan Ailee tak mau kalah, ia tetap menyuruh tukang ojek mengikuti Binar dengan dalih akan membayar lebih. Hingga akhirnya, Ailee sampai di panti bersamaan dengan Binar. Ia segera turun dan tak lupa memberikan uang lebih untuk tukang ojek.
"Ini uangnya, Pak! Oh ya, jangan lupa kabari keluarga katak yang bapak tabrak tadi ya," ucap Ailee saat menyodorkan uang. "Semoga si katak husnul khotimah, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan," tambahnya.
"Claaaarrrrriiiiissssaaaa, I will hug you..." teriak Ailee sembari berlari mencari keberadaan anak Binar.
"Hey, hey, hey!" Binar pun kelabakan, ia segera mengikuti Ailee takut anaknya dijadikan sasaran kegemasan gadis itu. Jika Ailee sudah bersama Clarissa, maka bayi itu akan terusik karena Ailee akan terus mengecupinya tiada ampun. Sangat berbahaya.
"Mbaaaakkkk, tunggu!" teriak tukang ojek yang juga ikut berlari mengikuti Ailee. Jadilah, rumah Binar itu sangat ramai membuat heboh saja.
"Ishh, ngapain sih, Pak? Kok ikut- ikutan ngejar?"
"Helm saya masih dipakai Mbaknya!" ucap tukang ojek seraya mengatur napasnya karena terengah- engah.
Ailee pun menengok ke atas. Ah, iya, ternyata helm hijau khas tukang ojek itu masih melekat di kepalanya. Binar pun tersenyum kemenangan, akhirnya dia yang pertama kali menggendong Clarissa, bukannya si Ailee.
Setelah ritual bersih- bersih, seperti mencuci tangan dan tak lupa memakai hand sanitizer, Ailee pun akhirnya diperbolehkan menggendong Clarissa. Seperti biasanya, kecupan bertubi- tubi mendarat di wajah bayi gembul itu.
"Ehh, ada Nak Ailee..." sapa Bu Melati, Ailee lalu mengecup tangannya serta tak lupa mengucap salam.
"Biar Ailee saja yang meminumkannya, Bu," seru Ailee mengambil alih susu yang berada di botol bayi.
"Terima kasih ya, Nak. Ibu mau lanjut masak dulu," pamit Bu Melati dan ia pun langsung menuju ke dapur.
Ailee duduk di sofa ruang tamu sembari memberikan susu kepada Clarissa. Anak itu kuat sekali menyusunya. Dan yang membuat Ailee sedih adalah saat Clarissa meminum susu formula. Bayi itu seharusnya masih mendapatkan ASI dari sang Mama, tapi karena suatu keadaan dia harus meminum susu formula sebagai penggantinya.
"Kenapa?" tanya Binar, lelaki itu telah berganti baju dan menghampiri Ailee yang tengah menggendong anaknya, tapi gadis itu terlihat sendu.
"Clarissa kasihan ya, Pak..."
Dan di sini, Binar mulai mengerti. Ailee pasti kasihan dengan Clarissa karena seumurannya sudah ditinggal sang Mama. Binar sendiri juga sedih jika mengingat itu, tapi mau bagaimana lagi? Semuanya tak ada yang bisa dipertahankan.
"Binar, Ailee, ayo makan siang dulu, Nak," teriak Bu Melati.
Binar dan Ailee pun menuju ke meja makan. Ikan asin, sambal cabe ijo, telur balado, serta tempe goreng tersaji di meja. Makanan yang menggugah selera dan cocok sekali dijadikan santap siang.
"Maaf ya, makanannya pasti nggak kaya di rumah kamu," ucap Bu Melati seraya menyodorkan piring ke hadapan Ailee berharap dia mau menikmati santap siang yang telah ia masak.
"Dia paling nggak suka dan nggak mau makan, Mah," celah Binar. Lelaki itu sudah mulai mengisi piringnya dengan nasi dan berbagai lauk.
"Siapa bilang? Aku malah suka. Aku sering makan seperti ini sama Mang Dudung dan Bi Mina. Rasanya...Ah, mantab!!!" sahut Ailee, tanpa malu- malu ia pun segera mengambil satu centong nasi ke piringnya.
"Kalau begitu makan yang banyak, sini ibu ambilkan lauknya." Bu Melati lalu mengambilkan ikan asin, telur balado, serta tempe goreng.
"Ehm, enak banget masakannya!"
Secuil ikan asin dipadukan dengan sambal cabe ijo, ditambah dengan telur balado dan tempe goreng memang sangatlah nikmat apalagi saat nasinya panas dan makan dengan tangan. Perpaduan semua itu mengalahkan makanan cepat saji yang kerap kali ia makan.
"Aku mau makan ini setiap hari!" ucap Ailee dengan mulut penuh.
"Kalau begitu datanglah ke sini sepulang sekolah, ibu akan memasakannya untukmu," sahut Bu Melati. Ia senang sekali, anak sultan seperti Ailee ternyata malah menyukai masakan kampung buatannya. Ailee memang beda dengan orang kaya lainnya, ia tetap mau berbaur dengan kaum bawah.
"Kalau enak, nasinya tambah lagi, nih..." ucap Binar, ia kembali mengambilkan dua centong nasi ke piring Ailee, dan tak lupa lauknya lagi.
Yang ia pikir Ailee akan marah karena jika makan banyak akan membuatnya gendut, tapi malah gadis itu senang sekali dan mengangguk antusias, ia akan menghabiskannya, serunya dengan semangat.
"Aku mau sambalnya lagi, Pak!"
Binar menggelengkan kepalanya, Ailee sudah seperti tak makan seharian saja. "Jangan lupa nanti bayar ya, udah berapa porsi tuh yang kamu makan," godanya membuat Bu Melati tertawa.
"Tenang saja, nanti aku akan membayarnya."
"Nggak usah dihiraukan ucapan Binar, dia itu bercanda."
Ketiga orang itu lalu menghabiskan makanan dengan sedikit obrolan yang diselipkan. Bagi Ailee, ini adalah hal yang menyenangkan. Berbaur dengan kaum di bawahnya ternyata tak buruk. Banyak hal baru yang jadi teladan dan membuatnya jauh lebih bersyukur lagi atas apa yang telah dimilikinya.