Perfect Duda

Perfect Duda
Lilin Aromaterapi



Waktu berjalan begitu cepat. Tak ada yang bisa menghentikannya barang sedetik pun. Ia tetap berjalan meskipun banyak yang memintanya beristirahat sejenak. Tetap sama, namun banyak pula yang merasa jika dirinya kini bergerak lebih cepat hingga tak terasa.


Malam selalu terganti, bintang ataupun bulan terkadang ikut menemani. Lilin aromaterapi berbentuk mangkok kecil itu menyala terang. Aromanya kian menyeruak memenuhi kamar. Menenangkan sekaligus banyak manfaatnya.


Gadis yang baru saja menyelesaikan ujian akhir semester itu tengah duduk bersandar. Kedua tangannya menelungkup lilin yang mengobarkan api kecil, terayun pelan ketika deru napasnya menyapa. Matanya terpejam sempurna, hidungnya menghirup kuat aroma lavender dari lilin tersebut.


Pintu kamar terbuka, ia tak peduli dan masih asyik menikmati aroma lavender yang sangat menenangkan sampai matanya pun ikut terpejam.


"Kenapa belum tidur?" tanya mamanya. Wanita berumur namun tetap nampak cantik nan muda itu selalu datang ke kamar anak-anaknya untuk memastikan mereka sudah tidur ataukah belum dan memastikan pula jika mereka tidur dengan benar.


Rambut panjang itu dibelai lembut dengan penuh kasih sayang tiap belaiannya. Kemudian dikecup, hingga pada akhirnya sang pemilik membuka mata dan menatap ke orang yang membelainya.


"Sebentar lagi, Mah..."


"Tidur sekarang, ini sudah malam. Besok 'kan harus bangun pagi. Nggak lupa 'kan kalau ada acara kemah dan bakti sosial?" ucap Aza, tangannya menunjuk jam dinding yang sudah menunjuk angka sepuluh.


Besok dan dua hari selanjutnya seluruh siswa siswi kelas 12 akan mengadakan kemah dan bakti sosial di puncak. Selalu diadakan oleh sekolah swasta itu sebagai ungkapan rasa syukur dan juga untuk berdoa supaya kelas 12 akan dilancarkan dalam segala hal. Baik itu ujian sekolah, ujian praktikum, ujian nasional, dan lain sebagainya karena mengingat semester kedua di kelas 12 hanya akan dihabiskan dengan ujian-ujian.


"Tentu saja aku mengingatnya..." sahut Ailee dengan semangat menggebu. Ia berdiri dan memeluk mamanya, diajaknya pergi ke tempat tidurnya tanpa melepas pelukan itu.


"Rumahnya jadi sepi deh kalau tiga hari nggak ada kalian." Mamanya nampak sedih karena tiga hari ke depan tak ada Aiden dan Ailee yang biasanya membuat gaduh isi rumah.


"Hanya tiga hari mamaku sayang...Hari berikutnya Aiden dan Ailee akan selalu bersama Mama."


"Muaachhh...Sudah malam, ayo tidur." Aza menarik selimut menutupi tubuh anaknya, dibelai sejenak kepalanya dan diberi kecupan sebagai penghantar tidur.


"Selamat malam mamaku sayang, aku sangat menyayangimu..." ucap Ailee setelah mamanya mematikan lampu dan hendak beranjak dari kamarnya.


...*****...


Keriuhan anak-anak panti semakin terdengar jelas ketika pagi menjelang. Ada yang hendak buang air, mandi, dan lain sebagainya. Kamar mandi hanya ada beberapa saja, jadi mereka harus rela mengantri.


Meski begitu tak ada satu pun yang mengeluh, semuanya tetap bersedia menerima kondisi yang ada di panti asuhan itu. Binar selalu khawatir, setiap pagi dia harus memastikan mereka tertib dan aman.


Namun, pagi ini dia disibukkan dengan dirinya sendiri yang harus mengemas pakaian dan keperluan lainnya selama tiga hari ke depan untuk acara perkemahan dan bakti sosial. Andai dia bukan wali kelas, mungkin Binar tak akan ikut dan memilih untuk merawat anaknya serta anak-anak panti saja. Tapi, acara tersebut sepertinya juga menyenangkan dan sama-sama penting, cukup sulit memilihnya.


Ia berangkat pagi-pagi sekali karena harus memastikan keperluan yang akan dibutuhkan selama kemah nantinya. Terlihat jelas bis yang siap mengantarkan ke puncak telah berjajar rapi di depan halaman sekolah. Dan ada juga truk pengangkut barang sumbangan untuk anak-anak kurang mampu di sana yang jumlahnya sangat banyak.


"Aduhhh, Pak Binar pagi-pagi sangat menggoda ya..." seru Bu Rika menghampiri Binar yang sedang membantu mengangkat barang ke truk.


Binar hanya meringis, sangat risih apalagi tangan Bu Rika tak bisa diam. Jari-jari panjang nan lentik itu membelai pipinya yang tak terlalu gembul. Kukunya yang panjang berwarna merah maroon itu terasa menusuknya.


"Ya ampun Bu Rika, dicariin dari tadi ternyata malah sama jodoh orang ya," sahut Bu Tuti yang kemudian bergelayut di lengan kanan Binar.


Sudah semacam mendapat sarapan tak sedap saja raut wajah Binar. Dua wanita ganjen itu terus saja mengikuti langkahnya, dan yang paling parah mereka tak segan-segan memeluk serta bersandar di tubuhnya.


"Ah, paling kamu bohong!" cebik Bu Rika. Ia tahu betul bagaimana Ailee, kerap sekali dirinya dibohongi bahkan dikerjain habis- habisan.


"Ya udah kalau nggak percaya. Tapi jangan bawa- bawa Ailee ya kalau Bu Rik sama Bu Tut nanti dimarahin Pak Kepsek..."


Dengan malas, akhirnya dua guru muda nan cantik mempesona itu pergi menemui kepala sekolah sesuai dengan perkataan Ailee tadi. Binar akhirnya bisa bernapas lega karena tubuhnya kembali ringan tanpa beban dua wanita tadi.


"Kenapa masih di sini?" tanya Binar melipat tangannya di dada menatap Ailee yang masih berdiri tepat di hadapannya dengan senyum lebar selebar dunia ini.


"Love you, Pak!" Gadis itu melipat jarinya membentuk love sebelum pergi bergabung dengan siswa dan siswi yang lainnya.


"Ada-ada saja..." gumam Binar menggelengkan kepalanya menatap siswi yang baru saja membantunya dari serangan guru-guru ganjen.


Bis yang terparkir tadi akhirnya melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tempat yang telah direncanakan. Bis F, bis yang ditumpangi oleh siswa siswi kelas 12 IPA 1. Di mana ada wali kelas dan satu guru pendamping lain mengawasi.


Perjalanan begitu menyenangkan tatkala musik dalam bis tersebut dinyalakan. Sopir bis tersebut menyodorkan beberapa microfon untuk karaoke supaya perjalanan tak membosankan. Sontak saja Ailee dan Sora langsung mengambilnya, sedangkan Aiden memainkan okulele yang ia bawa.


Saat pertama ku terjaga...ku jumpa mentari...


Belaian ombak tepi pantai...menyentuh kalbuku...


Indahnya garis cakrawala...dan bayang dirinya...


Membuat hatiku terpanah...menatap duniaa....


Suara merdu Sora tiba- tiba saja lenyap karena berbaur dengan suara Ailee yang sangat cempreng. Meski begitu gadis itu tetap percaya diri menyumbangkan suaranya demi menghibur teman sekelasnya. Aiden ingin sekali merampas microfon dari tangan Ailee supaya Sora saja yang bernyanyi, telinganya sakit mendengar suara adiknya.


Binar dan guru pendamping lain turut senang mendengarnya. Suara Ailee memang tak cantik seperti orangnya, tapi sangatlah menghibur.


"Heh! Kalau nggak bisa nyanyi tuh diem aja! Suara kek kaleng diinjek aja percaya diri banget!" celetuk Khansa yang duduk paling depan.


Ailee hanya tersenyum sinis mendengarnya, ia lalu mendekati Khansa dan bernyanyi dekat sekali dengan telinga gadis itu. Jauh lebih keras dari sebelumnya dan lebih energik. Ailee melompat ke sana kemari membuat Khansa bak kesetanan tak kuat menahan tingkahnya.


Dia datang berjolak sendiri...di hantaran pasir yang kemilau...


Mata dan mata saling memandang...Aku jatuh cintaaaaaa...


Khansa berusaha keras menutup kedua telinganya rapat-rapat, namun masih terdengar suara yang sangat cempreng itu. Ia berdiri seraya melayangkan tatapan membunuh, tapi tak membuat Ailee takut sama sekali. Gadis itu malah tetap asyik bernyanyi serta menggerakkan tubuhnya bergoyang tanpa aturan.


"Dasar cewek setan!" teriak Khansa sembari melempar microfon yang berada di tangan Ailee.


Siswa yang tadinya ikut berjoget ria pun berhenti dan bis mendadak hening seketika. Binar langsung bangkit dari duduknya menghampiri dua siswinya yang kemungkinan akan bertengkar lagi– bahkan lebih parah dari sebelumnya.


"Mulutmu tuh yang kek setan! Ngatain orang sembarangan!"