Perfect Duda

Perfect Duda
Pemandangan Hijau



"Mulutmu tuh yang kek setan! Ngatain orang sembarangan!"


"Eh kamu tuh bisanya cari gara-gara terus ya sama aku!" sahut Khansa dengan pedasnya membuat semuanya jenuh mendengar.


"Yang cari gara-gara siapa duluan? Bukannya situ, ya?" seru Aiden tanpa berpindah dari tempat duduknya. Malas sekali meladeni gadis itu.


"Nggak usah ikut campur!" gertak Khansa melemparkan tatapan tak suka kepada Aiden yang masih memangku gitarnya.


"Bisa diam tidak? Kalau tidak bisa diam saya terpaksa menurunkan kalian di pinggir jalan!" tegas Binar yang mampu menghentikan perdebatan antara Ailee dan Khansa.


"Ailee, Khansa, kembali ke tempat duduk kalian. Dan persiapkan barang-barang jangan sampai ada yang tertinggal di dalam bis, sebentar lagi kita akan segera sampai," lanjut Binar dan kemudian kembali ke tempat duduknya.


"Yeyeyeeee!" Para murid bersorak mendengar ucapan Binar yang katanya sudah hampir sampai, mereka sudah tak sabar.


Dan benar saja, lima menit kemudian bis berhenti di sebuah tanah lapang. Bis kelas IPA 1 ternyata sampai terlebih dahulu, jadi mereka bisa leluasa menikmati pemandangan yang ada.


Hemparan perbukitan nan hijau nampak jelas. Permai nan asri, sejuk sekali mata memandang. Terlebih lagi bagi anak kota yang tiap harinya hanya memandang gedung-gedung yang menjulang tinggi. Ini adalah surga dunia bagi mereka.


"Indah sekali..." cicit Sora tanpa mengalihkan pemandangannya.


"Orang yang di sampingku jauh lebih indah," sahut Aiden memandang gadis yang masih terkagum- kagum dengan pemandangan yang ada.


Sontak saja Sora menoleh ke arah lelaki itu, ia menggeleng dan terkekeh kecil. Tahu betul Aiden pasti hanya menggodanya atau jangan-jangan sedang latihan merayu perempuan.


"Aku pengen muntah denger gombalannya Kak Aiden," timpal Ailee berlagak hendak memuntahkan isi perutnya. Ia pun memilih meninggalkan dua insan yang sedang tak bisa diganggu itu.


Satu persatu bis yang lain pun datang, suasana menjadi riuh seketika. Sama seperti sebelumnya, mereka begitu terpukau dan langsung menyalakan ponsel memotret diri mereka dengan menampakkan pemandangan yang hijau. Bagus sekali dan cocok untuk diposting di media sosial.


Cek...cek...


1...2...3


Suara pengeras suara mulai terdengar, ketua penanggung jawab kegiatan mulai memberi arahan kepada siswa dan siswi yang sudah berkumpul semua.


"Selamat datang semuanya...Apakah tadi ada yang mabuk selama di bis?" tanyanya dengan tegas.


"Ada, Pak!" seru Bryan dengan tawa yang garing sekali. Semua pun sontak menoleh ke arahnya.


"Siapa yang mabuk? Kampungan banget sih," sahut Aiden bertanya-tanya.


Bryan lalu menunjuk ke arah pohon besar, di mana ada seorang perempuan yang tengah membelakangi dan menunduk. Perempuan itu muntah-muntah, tangan kanannya bertumpu pada pohon, sedangkan tangan kirinya memegang perut.


"Kimmy!" teriak Sora dan Ailee bersamaan, mereka lalu menghampiri perempuan yang tak lain adalah Kimmy. Bukannya iba, tapi semua murid dan guru lain tertawa melihat Kimmy yang malah mabuk saat naik bis.


"Sudah-sudah, kalian itu ada temen yang sedang kaya gitu malah diketawain," ujar Pak Budi, selaku ketua penanggung jawab kegiatan. Dirinya memang berkata seperti itu, padahal aslinya dia tertawa paling keras. Kebiasaan yang tak pernah hilang dari guru yang berusia sekitar 30 tahun itu.


"Pak Bud, kapan mendirikan tendanya? Kita mau istirahat, Pak," seru anak- anak yang sudah tak sabar mendirikan tenda.


Dan akhirnya, seruan untuk mendirikan tenda sesuai kelompok yang telah terbagi kemarin terdengar. Seluruh siswa dan para guru antusias mendirikan tenda mereka masing-masing. Lahan lapang itu telah diberi batas tali rafia untuk tiap tendanya. Terdiri dari empat murid per tenda, dengan siswa dan siswi letaknya diberi jarak supaya tak terjadi hal yang di luar dugaan.


Para siswa tampak tak ada kendala saat mendirikannya, lain dengan siswi di mana mereka lebih sering berteriak dan mengeluh daripada bekerja. Jadi, banyak guru dan siswa yang membantu mereka mendirikan tenda.


"Gitu aja ngeluh! Dasar anak mami," sindir Ailee kepada Khansa yang letak tendanya berada di sampingnya. Ia kesal sekali dengan anak itu karena sering berteriak memanggil Binar untuk membantunya.


"Pak Bin, ini tendanya udah aman kan ya?" tanya Khansa dengan centilnya, Ailee panas jadinya.


"Sudah, kalian sudah bisa meletakkan barang- barang ke dalam. Selamat istirahat," jawab Binar sebelum dirinya pergi membantu muridnya yang lain.


Dua jam berlalu, puluhan tenda telah berdiri kokoh di atas tanah yang lapang tadi. Warna warni dari tenda tersebut sungguh indah, di tengahnya dibiarkan lapang untuk acara api unggun malam harinya. Dapur darurat dan kamar mandi sederhana pun telah siap digunakan.


Semua diharuskan untuk beristirahat terlebih dahulu hingga malam hari nanti. Acara akan segera dimulai, sedangkan bakti sosial untuk anak-anak daerah tersebut akan dilaksanakan besok paginya, tentu saja akan sangat menyenangkan.


Anak kota memang sangat manja, baru hal kecil saja mereka sudah mengeluh dan lelah sekali. Tapi berbeda dengan Ailee, Aiden, Sora, Bryan, dan juga Kimmy. Mereka lebih memilih untuk berkeliling di daerah tersebut.


Berkeliling di pedesaan itu memang hal baru untuk mereka, orang-orang di sana sangatlah ramah dan begitu senang dengan kedatangan mereka. Tak ayal jika desa tersebut juga sering dijadikan tempat kemah dan bakti sosial kebanyakan sekolah ataupun lembaga sosial lain.


"Woahh! Ternyata di sini jauh lebih indah ya!" celetuk Ailee terkagum-kagum tatkala sampai di jembatan yang memaparkan pemandangan hijau di bawahnya sekaligus dengan air terjun yang begitu derasnya terletak di samping sebagai pelengkap surga dunia.


"Sumpah sih, aku baru pertama kalinya lihat pemandangan seperti ini secara langsung. Biasanya cuma lewat google doang!" ucap Kimmy. Ia merentangkan kedua tangan dan menghirup udara segar– sangat menikmati pemandangan yang disuguhkan.


"Dibela-belain sampai mabuk perjalanan segala," ledek Aiden, Kimmy langsung mencubit perutnya dengan keras.


"Iya tuh kampungan banget, kaya nggak pernah naik bis aja sih," sahut Bryan yang juga menggelakkan tawa.


Ailee dan Sora hanya tertawa saja, hendak meledek tapi sudah diwakilkan oleh Aiden dan juga Bryan. Mereka begitu puas menertawakan Kimmy yang memerah menahan malu.


"Tadi tuh mabuk gara-gara nyium bau kentut. Terus aku jadi mual deh, sumpahhhh....itu kentutnya bau banget!" ucap Kimmy membela diri.


"Kayanya sih si Bryan yang kentut, soalnya dari depan baunya," tambahnya. Ia bergidik ngeri tatkala mengingat semuanya. Kentut yang berbau busuk membuatnya mual dan mabuk saat perjalanan, dan akhirnya dirinya jadi bahan ledekan sahabatnya.


"Enak aja! Orang aku nggak kentut kok tadi, kentut kamu sendiri kali," tukas Bryan.


"Mana ada!"


"Pak Binar!" teriak Ailee membuat obrolan dengan sahabatnya terhenti. Ke empat anak itu lalu menoleh dan menatap ke arah yang Ailee tatap. Ada Binar dan juga Pak Budi yang sepertinya juga sedang berjalan-jalan menikmati pedesaan ini.


"Mulai deh," cicit Aiden menggelengkan kepalanya.


"Lohhh, kan ada Pak Budi juga, kenapa yang disapa cuma Pak Binar?" tanya Pak Budi seraya berjalan mendekati kelima muridnya.


Kelima anak itu saling pandang sebelum akhirnya turut menyapa Pak Budi yang merajuk.


"Kenapa nggak istirahat?" tanya Pak Budi. Yang lain menjelaskan, akan tetapi Ailee terdiam menatap Binar.


"Ohh gitu..." Guru berambut setengah botak itu manggut-manggut mendengar penjelasan empat sahabat Ailee.


"Aduhh saya kebelet nih, saya duluan ya, Pak Bin, anak-anak," pamit Pak Budi, ia lalu berlari karena tak kuat menahan hajatnya. Sangat lucu, ia sampai tersandung batu dan memakinya terlebih dahulu sebelum kembali berlari.


"Segera kembali ke tenda, jangan sampai ada yang kenapa-kenapa. Jaga diri kalian baik-baik," ucap Binar dingin, diangguki oleh semuanya.


"Pasti Pak Binar khawatir ya sama aku?" goda Ailee mencolek lengan Binar. Lelaki itu tersenyum tipis, hampir tak terlihat karena raut wajahnya yang dingin mendominasi.


"Tidak sama sekali," tukas Binar menggelakkan semuanya. Sedangkan Ailee mencebik kesal.