Perfect Duda

Perfect Duda
Kamu dan Kenangan



Koper-koper besar berisikan barang kebutuhan mereka telah masuk ke mobil. Anak kembar itu akan segera pergi ke Jepang dengan papa dan mamanya selama beberapa hari– untuk menemani mereka beradaptasi dengan negara sakura itu.


Cukup berat meninggalkan kota yang menjadi tempat kelahirannya ini. Banyak hal terjadi, suka maupun duka terlewati. Beragam pelajaran dipetik pula. Langit kota yang biru cerah ini akankah sama seperti langit di Jepang nantinya? Apakah semua hal akan terganti? Akankah kehidupan barunya nanti jauh lebih baik dari sebelumnya?


Daun mangga depan rumah berguguran tertiup angin. Burung meninggalkan sangkar yang tak layak dipertahankan lagi. Daun dan burung itu pergi meninggalkan tempat asalnya, menuju tempat baru yang diharapkan mampu menimbun luka yang tercipta dari orang terkasih. Sudah semacam kisah gadis itu.


Mobil melaju dengan pelan, penumpangnya hendak menikmati perjalanan ini. Sopir dan beberapa asisten rumah tangga yang ikut mengantar nampak sedih ketika anak kembar itu akan pergi. Itu berarti tak akan ada canda tawa dan kejahilan mereka lagi, rumah akan senyap dan sunyi. Semangat pun mungkin lenyap karena tak adanya kehadiran Aiden dan Ailee yang selama ini menjadi terang dalam gelapnya kehidupan.


"Jangan sedih, kalian 'kan bisa kembali ke Indonesia saat liburan akhir semester," ucap Aza mencairkan suasana yang sedari tadi senyap.


"Jepang jauh lebih indah daripada Indonesia, kami pasti akan sangat betah di sana dan memilih untuk tetap di sana. Kalau mama sama papa merindukan kami, kalian saja yang pergi menemui kami," sahut Ailee dengan alasan yang bisa diterima. Namun, alasan yang utama bukanlah itu, ia tak ingin kembali ke Indonesia karena itu malah akan membuka lukanya dan menyulitkan dirinya melupakan segala kisah yang terpatri dengan Binar.


"Tentu, papa sama mama pasti akan sering-sering mengunjungi kalian," timpal Aksa.


Kaca jendela diturunkan, anginnya masuk ke dalam menyapa AC mobil yang juga tengah dinyalakan. Jalanan dan tempat-tempat yang pernah dilalui ditatapnya lekat. Di sana, di depan warung sate Ailee pernah berteduh sejenak dan Binar memberikannya jas hujan yang terlalu besar saat dipakainya– hingga jari tangannya tak lagi terlihat. Di jalanan itu pula mereka sering menghabiskan waktu berdua di atas motor yang melaju. Dan masih banyak tempat serta hal yang sekarang hanya akan menjadi kenangan. Berjuta memori itu terpatri dalam hati dan mungkin akan dibawa sampai mati.


Senyum getir tersungging. Ah, begitu banyak hal yang harus dianggap baik-baik saja. Sangat menyesakkan dada. Bisakah dirinya melepas semua ini? Sungguh, gadis itu takut tak sanggup melupakan segala hal yang tercipta dengan lelaki itu.


Bandara Soekarno Hatta sudah di depan mata, mobil yang dikhususkan untuk barang-barang mereka sudah sampai terlebih dahulu. Ditatapnya sejenak langit Jakarta siang itu.


"Selamat tinggal Indonesia..."


"Selamat tinggal kenangan..." lirihnya getir. Ia lalu mengikuti langkah papa, mama, serta kakaknya.


Ramai sekali bandara siang itu. Berbagai drama para keluarga terlihat jelas. Sanak saudara calon penumpang turut hadir melepas kepergian. Banyak yang menangis ketika harus melepas seseorang. Ada pula yang berpura-pura tegar, padahal hatinya rapuh dan enggan melepas.


Tangan papanya merangkul dirinya, senyum selalu dilukis supaya dirinya tersenyum pula. Mungkin sang papa juga sedih melihat dirinya yang akhir-akhir ini sulit sekali tersenyum. Ailee yang pecicilan dan ceria kini menjadi pendiam.


Sepasang mata itu terus berpencar mencari seseorang yang sangat ia harap kehadirannya. Namun mustahil, lelaki itu tak akan datang sekadar memberinya ucapan selamat tinggal.


Akan tetapi, lelaki yang diharapkan ternyata berada di tempat yang sama, namun dia lebih memilih untuk menyembunyikan keberadaannya dan menyaksikan kepergian gadis itu dalam diam.


Satu jam sebelum Ailee dan keluarga sampai di bandara, Binar sudah terlebih dahulu sampai. Dia sengaja meninggalkan segala macam pekerjaan hanya untuk menatap gadis itu.


Clarissa berada dalam gendongannya. Anak itu juga melihat Ailee, ia menangis tak karuan ketika gadis yang begitu dekat dengannya itu melangkah ke dalam pesawat. Tak lama kemudian pesawat lepas landas, ia tak berpaling hingga hilang dari pandangannya.


"Sampai jumpa, Lili. Semoga semesta kembali mempertemukan..." lirihnya pilu. Air mata sempat menetes. Kakinya melangkah keluar bandara dan berusaha menenangkan Clarissa yang masih menangis kencang– menangisi gadis yang ia sebut mama.


Langit tiba-tiba abu, seakan turut larut dalam kesedihan. Lelaki itu benar-benar merasa kehilangan. Mereka tak bisa bersama untuk waktu yang lama. Meski raga tak berada dalam tempat yang sama, tetapi hati tetap saja bertaut jika memang benar adanya sebuah rasa.


Selamat tinggal segala kenangan, selamat menjalani kehidupan baru. Jepang dan Indonesia akan tetap sama, hanya saja hari tak lagi dilewati bersama.


Mungkin lagu Kamu dan Kenangan mewakili dua insan itu. Setiap lirik menggambarkan mereka, dua orang yang sebenarnya saling mencintai tapi keadaan sulit mempersatukan. Dan akhirnya perpisahan menjadi jalan setelahnya, serta rasa kehilangan menyeruak. Semua kenangan menyatu dan tetap terpatri di dalam jiwa.


Kamu dan Kenangan


(Maudy Ayunda - Ost. Habibie & Ainun 3)


Seusai itu senja jadi sendu awan pun mengabu


Kepergianmu menyisakan duka dalam hidupku


Ku memintal rindu menyesali waktu mengapa dahulu


Tak kuucapkan aku mencintaimu sejuta kali sehari


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan


Menyatu dalam waktu yang berjalan


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Tak ada yang lebih pedih


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu (padamu)


Walau masih bisa senyum


Namun tak selepas dulu


Kini aku kesepian


Kamu dan segala kenangan (kenangan)


Menyatu dalam waktu yang berjalan (berjalan)


Dan aku kini sendirian


Menatap dirimu hanya bayangan


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


Tak ada yang lebih pedih


Cintaku tak mungkin beralih


Sampai mati hanya cinta padamu


'Ku mencintamu (mencintamu)


Kamu (kamu) dan kenangan


Lirik lagu tersebut mewakili perasaan Habibie yang begitu teriris atas kepergian Ainun. Sedangkan Binar ditujukan kepada Ailee. Gadis itu memang masih berada di dunia yang sama, hanya tempatnya saja yang berbeda. Benar kiranya jika sesuatu akan lebih berasa ketika sudah kehilangan. Dan kini Binar merasakannya.


Kehidupan memang sudah pasti tetap berjalan. Namun, tak lagi sama seperti sebelumnya. Canda dan tawa pasti akan tetap tercipta, tapi tak selepas dulu. Sendiri dalam sepi, begitulah kiranya kehidupannya nanti karena seseorang yang berarti telah pergi.


.


.


.


Iya, Pak Bin, muridmu ini memang terlampau jauh. Kurang ajar sekali telah berani menaruh rasa padamu– bahkan menaruhnya terlalu dalam.


Tapi kau jauh lebih kurang ajar, jahat sekali. Semua yang menatapmu pun pasti tahu jika sebenarnya kau juga memiliki rasa terhadapku. Dan dirimu terlampau tega membohongi hatimu sendiri dengan berkata jika tak ada rasa, bahkan tak akan pernah ada rasa padaku.


Terima kasih, Pak Bin, telah mengajarkanku banyak hal suka serta duka di akhir kebersamaan kita. Dan perlu kau tahu bahwa aku, muridmu yang selalu mengejar, menggoda, mengikutimu ke mana pun engkau pergi ini benar-benar mencintaimu. Mungkin kita memang tak akan pernah terikat, tapi biarkan cintaku tetap melekat.


.


.


.