
Baru saja sampai namun langit sudah menggelap. Lampu rumah telah menyala terang. Gadis itu baru saja berkeliling rumah masa kecilnya yang sempat ia tinggalkan bertahun-tahun lamanya. Hanya ada sedikit perubahan, jauh lebih bagus dari sebelumnya.
Dirinya kini menuju ke balkon, ternyata tak ada perubahan di sana. Meja bulat yang cukup besar dikelilingi dengan empat kursi rotan berwarna hitam dengan bantal berwarna abu-abu. Masih sama seperti enam tahun yang lalu. Tempat yang dulunya dijadikan les privat antara Aiden, Ailee, dan juga Binar. Terputar kembali memori yang telah terpatri itu.
Dirinya tersenyum getir dan mendudukkan tubuhnya di salah satu kursi. Bayangan bagaimana Binar menjelaskan materi, menasehatinya jika malas ataupun kurang teliti dalam mengerjakan soal terputar kembali.
"Di sini rupanya..." seru Aksa menghampiri putrinya yang sedang melamun di balkon kamarnya. Kursi digeser hingga berhimpit dengan kursi putrinya.
"Teringat Binar?" tanya Aksa terus terang seraya membelai kepala Ailee.
"Apaan sih, Pah? Jangan ngaco deh. Oh ya, Mama mana? Belum selesai ya bikin macaroni schotel-nya?" Ailee sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan. Ia tak mau masa lampau kembali memenuhi masa kini.
Ailee hendak meninggalkan balkon namun papanya mencekal tangannya dan meminta untuk tetap di sana. Suasana mendadak serius, wajah papanya juga tak konyol, sepertinya ada hal yang penting.
"Kalau papa bilang suatu hal di masa lalu apakah kamu akan marah sama papa?" tanya Aksa menatap lekat manik putrinya.
"Apa memangnya? Kenapa Ailee akan marah? Bukankah selama ini Ailee nggak pernah marah ya sama papa?"
Aksa mengangguk, memang benar putrinya itu tak pernah marah selama ini. Tapi untuk hal ini kemungkinan besar Ailee akan kecewa dan marah dengannya.
"Dulu papa sempat menemui Binar..."
"Aku nggak mau denger tentang dia lagi, Pah. Aku akan ke bawah menemui Mama."
Tak menghiraukan lagi, Ailee melangkah meninggalkan papanya. Tak peduli dengan cegahan pria paruh baya itu. Mendengar nama Binar disebut jiwanya bergetar hebat. Rasa sesak kembali memenuhi rongga dadanya. Nama yang sudah lama tak ia dengar dan berusaha keras dilupakan.
Rasa yang ada tidak lebih dari seorang guru kepada muridnya.
Perkataan Binar kembali teringat. Perkataan yang menjadikan Ailee begitu rapuh. Terkoyak hatinya, hancur berkeping-keping. Padahal ia tahu jika Binar juga memiliki rasa lebih dari seorang guru terhadap muridnya. Ah, sudahlah. Biarkan saja semuanya.
...*****...
Lampu menyala terang. Rumah yang cukup mewah itu nampak sepi karena hanya dihuni tiga orang saja. Seorang lelaki tengah duduk di ruang tamu tengah memeriksa hasil pekerjaan siswa siswinya. Kertas dan pena digenggam erat, kopi di cangkir masih tersisa setengah, menemaninya lembur malam ini.
"Papah..." teriak anak berusia tujuh tahun dengan boneka panda di pelukannya menghampiri sang papa.
"Hey, Sayang. Kenapa belum tidur?" tanyanya kepada sang putri sembari membelai dan mengecup keningnya.
"Clarissa nggak bisa tidur..."
"Clarissa pengen mama yang bacain dongeng. Kapan mama pulang? Kenapa lama sekali? Apa mama nggak kangen sama Clarissa?"
Pertanyaan anaknya yang selalu saja seperti itu tiap malam membuatnya meringis sendu. Sesak kembali dirasa, ingin mengatakan yang sejujurnya jika mama kandungnya tak peduli dengannya, namun itu tak mungkin dilakukannya. Maka dari itu Binar selalu memperlihatkan foto Ailee kepada Clarissa dan memberitahu jika itu adalah mamanya.
"Sebentar lagi mama pulang. Yang penting Clarissa harus jadi anak yang nurut, pinter, dan nggak nakal," tutur Binar. Ia begitu menyayangi anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Berbagai hal diberikan karena rasa sayangnya kepada anak itu.
"Binar! Binar!" teriak Bu Melati.
Binar dan Clarissa terheran-heran melihat wanita paruh baya itu terburu-buru menuruni anak tangga dengan ponsel di tangannya. Raut wajah girang tapi juga terselip kepanikan, tidak bisa diartikan dengan jelas.
"Nomor WhatsApp mama sudah dibuka blokirannya sama Ailee!" ucap Bu Melati girang mendapati kontak Ailee yang sudah bisa dilihat foto profil dan last seen-nya.
Semenjak kejadian lalu, Ailee memang memutus kontak dengan Bu Melati dan Binar. Seluruh akun sosial media mereka diblokir dengan dalih supaya lekas melupakan.
Sontak saja Binar lalu membuka ponsel miliknya. WhatsApp adalah yang pertama dibuka. Foto profil sudah terlihat jelas, menampakkan wajah Ailee yang jelita. Sedangkan Facebook, Instagram, dan lain sebagainya pun bisa dilihat. Binar berkaca-kaca saat membuka postingan instagram Ailee. Dia memang sudah melihat semuanya melalui akun milik temannya. Akan tetapi kali ini dia membukanya dengan akun miliknya sendiri, sangat mengharukan.
"Apa Ailee sudah memaafkan kesalahanku dulu, Mah?" lirih Binar.
"Kesalahan apa, Pah?" tanya Clarissa kebingungan sedari tadi melihat nenek dan papanya yang senang.
Penjelasan sedikit dan dibubuhi dengan kebohongan supaya Clarissa tak berpikir macam-macam. Anak itu telah terlelap, sedangkan dua orang dewasa masih asyik dengan ponsel. Gemetaran sendiri tangan mereka, ingin sekali menghubungi Ailee dan menanyakan kabarnya. Ketik dan hapus. Begitu hingga satu jam berlalu. Tak ada yang berani mengirimkan pesan.
"Mah, Ailee bikin story instagram!" celetuk Binar begitu semangat mendapat notifikasi.
Bu Melati langsung mendekat dan menilik ponsel Binar dikarenakan dirinya tak ada akun instagram. Mereka menyorot foto pemandangan malam dari lantai dua dengan bubuhan caption,
...Musim dingin di Jepang selalu membuatku rindu akan cuaca panas di Jakarta. Dan kali ini aku kembali merasakannya, Hello Jakarta, I'm back!...
"Ailee pulang..." Bu Melati senang membaca caption dari instastory Ailee.
"Kapan dia pulang? Tadi pagi aku melewati rumahnya tak ada tanda-tanda kepulangannya."
Binar memang selalu ke rumah Ailee, sekedar lewat atau bertanya pada pekerja rumah itu akan kabar Ailee. Terkadang bertanya dengan Mang Dudung yang selalu berada di pos satpam, dan terkadang pula bertanya kepada Bi Mina tiap paginya ketika beliau sedang menyapu halaman. Dan mereka semua tak ada yang tahu kondisinya, tapi Binar selalu menyangka jika mereka memang bungkam tentang kabar Ailee.
Cukup berat bagi Binar untuk mendapat kabar gadis itu. Semua sahabat termasuk kakaknya sendiri, Aiden, selalu bungkam dan menghindar. Dan kali ini ia akan memastikan jika gadis itu tak menghindari dirinya lagi. Ia akan memikatnya secepat mungkin jika perlu. Akan tetapi, apakah Ailee masih memiliki rasa yang sama seperti dulu? Atau rasa tersebut telah tergerus oleh waktu? Binar harap-harap cemas, kalau pun tak ada lagi rasa maka ia akan mengikhlaskannya.
"Aku akan mencoba menemuinya besok, Mah," ucap Binar dengan penuh kesungguhan.
"Iya secepatnya kamu harus minta maaf dan bilang kalau kamu itu sebenarnya mencintai dirinya." Dukungan penuh selalu diberikan, Bu Melati pun sangat suka dengan Ailee yang orangnya memang baik hati, tak sombong, dan sangat menggemaskan.