
Tokyo malam itu tak terlalu dingin, tak terlalu panas pula. Udaranya sangat cocok dengan para wisatawan yang biasanya berada dalam dua musim. Dua insan tersebut masih bergandengan tangan menyusuri jalanan kota dari Stasiun Tokyo menuju ke penginapan. Mereka pun sesekali berhenti untuk membeli sesuatu yang akan dijadikan santap malam.
Seperti biasa, Ailee selalu membeli cemilan ketika malam harinya. Cemilan yang pedas dan manis seperti Okonomiyaki (martabaknya orang Jepang), Takoyaki, Gyozu (pangsit Jepang), Ikayaki (gurita tusuk), dan Crepes yang menjadi streetfood-nya negara matahari terbit itu.
"Kok cemilan semua? Nggak ada nasi dan lauk pauk?" tanya Binar terheran-heran karena sedari tadi Ailee hanya membeli makanan ringan. Sedangkan dirinya pasti tak akan kenyang meskipun makanan itu banyak. Orang Indonesia tak lengkap jika tak memakan nasi.
Ailee tertawa sendiri mendengar Binar, ia lupa jika ada lelaki itu. Ia pun berhenti di depan supermarket yang semalam dirinya pergi bersama Binar.
"Belilah nasi sendiri, Pak. Nanti masuk terus ambil bento dan makanan lain seperti kemarin, kalau udah langsung ke kasir. Terus kalau udah tinggal bayar deh, ini uangnya..."
Ailee memberikan 1000 yen kepada Binar dan lelaki itu hanya menggaruk tengkuknya menatap uang yang sudah di tangannya.
"Tenang aja, nanti Pak Binar ambil bento yang kemarin itu dua nanti masih ada kembaliannya kok, jadi nggak perlu khawatir. Kalau udah tinggal bilang 'Arigatou Gozaimasu' sambil bungkukin badan sedikit," ucap Ailee dengan penuh kesungguhan. Ia sudah hafal dengan bento yang dijual di supermarket itu jadi tak perlu khawatir lagi.
Binar hanya mengiyakan, ia lalu menuju ke sudut bento dan makanan-makanan lainnya. Seperti yang dikatakan Ailee tadi, ambil dua bento dan langsung ke kasir, berikan uangnya lalu tunggu kembalian dan barangnya dikemas. Kemudian...
"Arigatou gozaimasu..." Terlihat kaku, tapi Binar berhasil belanja sendiri di supermarket Jepang. Ia pun segera menghampiri Ailee yang menunggunya di depan supermarket. Tapi ternyata gadis itu tak ada, ia jadi kebingungan. Lalu ia melihat ke jalanan menuju apartemen, ternyata Ailee belum jauh darinya. Gadis itu berlari cepat supaya Binar kewalahan mengejarnya.
"Lili, tunggu!" teriaknya yang membuat orang sekitar kebingungan.
"Ayo, Pak! Kejar aku!" tantang gadis itu dengan tawa yang tak henti-hentinya keluar. Malam yang gelap itu dihabiskan mereka dengan berolahraga padahal jarak supermarket ke apartemen cukup melelahkan.
Ah, aneh sekali. Padahal tadi Ailee duluan yang berlari dan harusnya dia pula yang tiba terlebih dahulu di apartemen, tapi malah Binar yang sampai duluan.
"I'm the winner," seru Binar ketika sudah duduk di sofa dan mengatur napasnya.
"Curang!" Gadis itu melipat tangannya di dada, merajuk karena kalah dari Binar.
"Curang gimana? Udalah, ayo makan dulu."
Mereka berpindah, duduk di lantai dengan menghadap meja yang telah tersaji berbagai makanan yang tadi sudah dibeli. Nampak sedap semua, tak sabar untuk menghabiskannya.
"Itadakimasu!"
(Selamat makan!)
Baru saja mencicipi satu bola takoyaki, mereka harus terhenti karena bel apartemen berbunyi sampai ketiga kalinya.
"Siapa?"
"Papa sama mamamu mungkin?"
Ailee menggeleng, ia tahu betul jika bukan mama atau papanya karena mereka baru akan berangkat besok pagi. Tak mungkin jika dipercepat. Dan Binar pun menawarkan diri untuk membukakannya. Ada dua orang, seorang gadis dan pria dengan plastik besar yang berisikan makanan ringan dan minuman soda.
Ketiga orang tersebut sama-sama terkejut dan saling diam menatap satu sama lain.
"Ailee wa soko ni imasuka?" tanya lelaki tersebut dengan suara lirih. Mereka takut menatap Binar yang tegas dan terlihat garang.
(Apakah Ailee ada di dalam?)
Binar menggaruk tengkuknya tak paham apa yang mereka ucapkan. Kemudian Ailee datang menghampirinya.
"Akari san... Sachie san..." teriak Ailee menyambut mereka dengan merentangkan kedua tangan bersiap memeluk kedua sahabatnya selama di Jepang itu.
"Ailee san...Min'na anata ni aita gatte iru..." Teriak kedua orang itu histeris ketika berjumpa dengan Ailee setelah sekian lamanya.
(Ailee...kami merindukanmu)
"Watashi mo..." Tangis haru pun pecah ketika akhirnya kembali dipertemukan di musim semi setelah setahun tak bertemu.
(Aku juga merindukan kalian.)
"Ehm, kare wa dare desuka?" tanya Sachie ketika pelukan telah terlepas dan dia menatap Binar yang sedari tadi hanya diam saja.
"Aaa kochirawa Binar san desu. Indonesia jin desu, Jakarta no shusshin desu. Sugaku no sensei desu," jelas Ailee memperkenalkan Binar, kedua sahabatnya hanya mengangguk.
(Perkenalkan, dia adalah Binar. Dari Indonesia, tepatnya dari Jakarta. Dia adalah guru matematika.)
"Binar san wa totemo hansamu," celetuk Sachie riang. Ia begitu senang bertemu dengan Binar.
(Binar sangatlah tampan.)
"Apa katanya?" tanya Binar berbisik kepada Ailee karena sangat penasaran dengan ucapan Sachie, gadis cantik yang berkebangsaan Jepang.
"Katanya Pak Binar jelek banget, udah tua lagi." Ailee terpingkal-pingkal sendiri mengatakannya, ia telah berhasil membohongi Binar. Sedangkan Binar langsung menatap dirinya pada cermin memastikan jika dirinya benar-benar jelek dan sudah tua. Umurnya memang sudah 30 tahun, tapi menurutnya tetap terlihat muda dan masih tampan, lalu kenapa dibilang jelek?
Mereka berempat lalu menuju ke depan televisi menikmati makanan yang ada. Bertambah banyak karena Sachie dan Akari juga membawa makanan sendiri tadi. Dan pada akhirnya perut menolak untuk menghabiskan karena makanannya benar-benar banyak. Makanan yang masih utuh dan masih bisa dimakan besok pun dimasukkan ke lemari pendingin.
"Ailee san...Yasuo ni atta koto ga arimasu ka?" tanya Akari yang kemudian membuat Ailee salah tingkah.
(Ailee...Apakah kamu sudah bertemu dengan Yasuo?"
"Watashi wa kesa kare ni aimashita," jawab Ailee.
(Aku sudah bertemu dengannya tadi pagi.)
Menjadi pendengar tanpa mengetahui maksudnya, begitulah kiranya Binar saat itu. Dan untuk obrolan yang tadi, Binar sedikit curiga dengan Ailee karena gadis itu menjawab dengan sedikit rasa takut, apalagi saat ditatap Binar.
Malam itu Sachie dan Akari tak menginap di apartemen Ailee dengan dalih tak enak karena ada Binar, padahal Binar juga tak mempermasalahkannya. Orang Jepang memang bebas, jadi Binar menghargainya. Saling menginap di rumah teman merupakan kebiasaan mereka, namun tak pernah melewati batasannya.
Kini tinggal Binar dan Ailee saja yang ada di sana, apartemen pun kembali sepi hanya ada suara televisi yang tak dipahami Binar. Meja terlihat sangat berantakan, bungkus makanan dan kaleng minuman berserakan. Sudah biasa jika ada yang berkunjung dan Ailee selalu membersihkannya sendirian, tapi kali ini ada yang membantunya.
"Pak Bin, capek banget!" keluh Ailee mendudukkan tubuhnya di sofa setelah semuanya rapi dan bersih lagi.
"Nih, minum." Binar menyodorkan air putih kepada Ailee. Ia lalu berdiri di belakangnya dan memegang kedua bahu gadis itu bersiap untuk memijatnya.
"Pak Binar mau ngapain? Mau mencekikku, ya?" pekik Ailee ketika merasakan tangan Binar hampir menyentuh lehernya. Ia pun jadi kelabakan takut jika Binar benar-benar melakukannya.
"Ada-ada aja sih kamu itu. Masa iya aku mencekik orang yang aku cinta? Nanti kalau mati, aku sama siapa dong?"
"Emangnya kalau Ailee masih hidup bakalan mau sama Pak Binar?"
"Ya- ngga tau... Ehm, memangnya kamu tidak mau menikah denganku?" tanya Binar ragu.
"Pak Bin, aku tidak bisa menikah denganmu..."
"Kenapa? Apa kamu memiliki pria lain? Apa kamu benar-benar sudah tidak mencintaiku lagi?"
Tak ada jawaban, dan Ailee malah pergi ke kamarnya membuat tanda tanya besar di benak Binar.
.
.
.
Selamat hari Senin, Semoga hari kalian menyenangkan🌻
Jangan lupa vote rekomendasi buat Ailee & Binar🥰
Arigatou Gozaimasu😍