Perfect Duda

Perfect Duda
Selamat Berbahagia



Matahari bersinar cerah kala itu. Sepertinya turut berbahagia atas apa yang akan terjadi pada dua insan yang akan melangkah ke jenjang pelaminan. Di sana, di balik semak-semak seorang lelaki tengah mengintip tempat yang akan menjadi acara pernikahannya. Jantungnya berdebar kencang melihat semua orang yang berdatangan.


Sebuah pekarangan telah disulap menjadi tempat pesta dengan tema party garden. Sederhana namun tampak elegan. Dengan konsep intimate yang jauh lebih santai. Desain yang greenery dengan lilin-lilin, hanging chandelier dan juga bunga mawar berbagai macam warna menghiasi tempat tersebut.


Semua tamu undangan telah duduk manis bersiap menjadi saksi dua insan yang akan segera halal. Para tamu telah tampan dan cantik pula dengan berbalut baju yang berwarna putih, sesuai dresscode yang sudah ditentukan sebelumnya.


"Kenapa, Pak?" tanya Bryan menghampiri lelaki yang sudah rapi dengan setelan jas berwarna cream.


"Deg-degan, takut juga," jawab Binar tanpa menoleh ke arah yang mengajaknya berbicara.


"Nggak usah nikah kalau gitu, Pak."


"Sembarangan aja kamu!" Binar lalu menyikut perut Bryan yang tergelak atas ucapannya tadi.


Sementara itu, seorang gadis yang akan menjadi milik perfect duda seutuhnya itu pun nampak sudah siap. Sama halnya dengan Binar yang takut dan grogi. Seringkali menghadiri acara besar yang mempertemukannya dengan para aktivis hebat tak pernah membuatnya grogi seperti itu, tapi kali ini berbeda rasanya. Ia akan segera berganti status menjadi seorang istri dari Binar Arusatya.


Semua keluarga telah berkumpul dan duduk manis di tempat yang telah disediakan. Tinggal menantikan sang pengantin yang akan duduk di pelaminan nantinya. Penghulu pun sudah bersedia melangsungkan akad.


"Pak Bin, aku deg-degan!" seru Ailee kepada Binar yang baru saja tiba di ruang make up.


Binar tak menjawab, ia tertegun menatap calon istrinya. Gadis itu ber-make up natural, hampir tak terlihat tapi kecantikannya tak pernah pudar. Gaun yang menjuntai panjang membentuk lekuk tubuhnya yang mungil membuatnya semakin menawan. Rambut yang dihiasi dengan kerudung pengantin putih juga membuatnya terlihat jauh lebih dewasa dan pantas disebut pengantin.


"Sudah saatnya," seru Aiden memberitahu semua yang ada di ruang make up. Ia lalu menggandeng istrinya bersiap menjadi bridesmaids. Sedangkan Kimmy bergandengan dengan Bryan dan siap pula mengiringi pengantin tersebut.


Ailee dan Binar berjalan paling depan dengan tangan yang bertaut. Melewati para hadirin dengan pelan dan anggun. Taburan kelopak bunga mawar turut mengiringi langkah mereka. Meski ini yang kedua kalinya, Binar tetaplah grogi ketika mengingat orang yang berada di sampingnya sangatlah spesial.


Tapi pernikahan kali ini didasari cinta dari keduanya. Mereka saling mencinta, tak seperti dirinya dengan Maya dulu di mana hanya salah satu saja yang mencinta. Dan Binar akan memastikan pula jika ini adalah yang terakhir kalinya, ia akan menjadikan Ailee miliknya selamanya.


Mereka lalu duduk menghadap Aksa, yang siap menikahkan sebagai wali nikah dari Ailee. Tangan yang dingin itu menjabat tangan calon papa mertuanya yang begitu tegas dan terkadang menakutkan. Saling tatap, dengan tatapan serius ijab qabul pun dilangsungkan.


Semua bersorak "SAH" ketika Binar usai melantunkan ijabnya. Gemuruh para tamu terdengar jelas, mereka sangat bahagia atas pernikahan Ailee dan juga Binar.


Sang pengantin saling menatap, mata mereka berkaca-kaca sebagai ungkapan kebahagiaan karena akhirnya dipersatukan.


Dengan lembut, Binar menarik tangan istrinya untuk dipakaikan cincin pernikahan. Begitu pula dengan Ailee setelah cincin tersemat pada jari manisnya. Buku nikah pun segera ditandatangani. Dan fotografer tak melewatkan satu momen pun, semuanya terabadikan.



"You're mine!" seru Binar dan Ailee bersamaan, mereka pun terkekeh. Keduanya lalu berdiri di pelaminan menyapa para keluarga dan tamu.


"Ciye ciye udah halal nih," teriak Kimmy menggelakkan tawa.


"Cieee nikah!" sahut Bryan.


Sahabat Ailee sangat berbahagia, mereka juga telah menjadi saksi bagaimana cinta antara Binar dan Ailee. Bagaimana perjuangan mereka hingga akhirnya sampai pada posisi ini. Sungguh berat, hingga kebahagiaan sekarang ini tak pernah terbayangkan sebelumnya.


Nampak pula di sana, Yasuo yang turut hadir dalam pernikahan perempuan yang dulu ia cintai. Bahagia sekali dia ketika melihat Ailee bahagia. Merelakan yang ia lakukan memang sudah benar, Ailee hanya mencintai Binar, maka dari itu apapun yang terjadi takdir tetap mempersatukan.


Acara berikutnya adalah dansa dengan pasangan masing-masing. Semuanya pun segera memposisikan diri dengan pasangannya. Yasuo bersama dengan Sachi yang juga menghadiri pernikahan Ailee. Para Oma, Opa, dan orang tua Ailee maupun Binar juga telah bersiap. Oma Anandhi dan Bu Melati menjadi pasangan dansa, tak apa yang penting turut memeriahkan acara tersebut.


Saat pertama ku terjaga


ku jumpa mentari


Belaian ombak tepi pantai


Indahnya garis cakrawala


dan bayang dirinya


Membuat hatiku terpanah


menatap dunia


Lagu telah diputar, pengantin memimpin acara. Mereka berdansa dengan penuh rasa cinta. Tubuh terhimpit, tangan bertaut, bergeser ke kanan, ke kiri, lalu berputar. Begitu berulang kali hingga lagu selesai.


Dan langit mendung seketika, air hujan pun turun membasahi bumi. Hujan untuk pertama kalinya sebagai pertanda jika musim telah terganti. Beberapa orang pun berlarian mencari tempat untuk berteduh, sedangkan banyak pula yang tetap pada posisinya.


Binar hendak melepas jasnya dan meneduhi Ailee. Tapi sayang, semuanya telah basah.


"Ternyata kita salah menentukan hari dan lupa memperkirakan cuaca. Kalau begini ceritanya, kemarin kita pilih acara di indoor saja bukan outdoor," lirih Binar.


"Bukankah seperti ini jauh lebih seru?" Ailee terkekeh, Binar pun jadi terkekeh pula.


"Pah, Mah, ayo main hujan!" ajak Clarissa kepada papa dan mamanya yang sedari tadi hanya diam dan asyik mengobrol.


Meskipun acara tak sesuai ekspektasi, tetap bisa dinikmati. Guyuran hujan tak menyurutkan kebahagiaan dua mempelai itu.



"Biarkan aku menciummu...." pinta Binar. Dan Ailee menahan bibir Binar supaya tidak menciumnya.


"Masih ada orang, nanti saja!"


Hujan pun perlahan mulai reda, semua keluarga dan tamu undangan lain telah basah kuyup dan menggigil kedinginan. Tapi mereka sangat bahagia, jarang sekali menikmati suasana pernikahan yang seperti ini. Berbeda dari yang lain.


Binar lalu memeluk Ailee karena dia menggigil, Ailee pun sontak melepasnya. Malu, masih ada banyak orang di sana. Dan Binar malah mengisyaratkan supaya tak malu, lelaki itu kemudian mengecup bibir istrinya disaksikan banyak orang yang hadir. Tentu saja mereka bersorak dan menginginkan hal yang sama.


Tak hanya sampai di sini, kebahagiaan mereka tetap berlanjut. Kebahagiaan yang sebenarnya dan kebahagiaan yang tiada kira. Kisah cinta yang begitu rumit, namun akhirnya semesta mempersatukan mereka.



...Selamat berbahagia Binar dan Ailee...


...🥰🥰🥰...


.


.


.


.


.


Jangan lupa amplopnya guyssss🤣