Perfect Duda

Perfect Duda
Lelaki Bermata Sipit



Wisuda untuk gelar magister-nya telah usai dilaksanakan. Gadis itu telah lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, bahkan dirinya juga berkesempatan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Namun, Ailee hendak beristirahat sejenak dan menikmati dunia pekerjaan. Rencananya ia akan kembali menetap di Jepang dan mengurus perusahaan keluarga yang berada di sana.


Ini merupakan kabar buruk bagi Binar. Ia tak menyangka jika Ailee benar-benar tak lagi memikirkannya. Dan rasa cinta gadis itu sepertinya juga telah hilang digerus waktu yang cukup lama ini. Semua hal telah dilakukan, tapi ternyata tak mampu mengembalikan seluruh rasa yang dulu pernah ada.


Lelaki itu berdiam di sofa apartemen Ailee, semua barangnya telah dikemas dan siap untuk pulang bersama keluarga Ailee yang lain, tapi gadis itu tak akan pulang. Hal itulah yang membuat Binar sedih sejak acara wisuda semalam.


"Pak Bin, nitip ini buat Clarissa, ya? Kemarin aku lihat di toko cantik banget," seru Ailee memperlihatkan sweater berwarna merah muda yang sangat cantik dan lucu, cocok sekali jika dipakai Clarissa.


Binar hanya menoleh dan memberikan senyum sekilas. Ia lalu berkata, "kenapa nggak kamu sendiri yang memberikannya? Ayo kembali ke Indonesia."


Ailee tak segera menjawabnya, ia lalu membuka koper Binar dan memasukkan sweater tersebut bersama tumpukan baju Binar yang lainnya.


"Aku lebih nyaman di sini, Pak."


"Bisakah kamu kembali? Aku benar-benar membutuhkanmu." Binar berkaca-kaca saat menggenggam tangan Ailee.



"Aku sudah tak mencintaimu lagi, Pak Bin. Carilah wanita lain yang memang pantas untukmu. Aku yakin jika di luar sana pasti ada yang lebih baik dariku," ucap Ailee tanpa menatap raut wajah orang yang diajak bicara.


Lalu, lelaki itu menangkup kedua pipinya hingga akhirnya dia menghadap wajah Binar. "Benarkah sudah tak ada cinta sedikit pun? Lalu, bagaimana dengan ini?"


Binar kemudian mencium Ailee dengan paksa. ******* bibirnya, dan menggigitnya dengan lembut meresapi kehangatan yang ada. Gadis itu tak memberontak dan hanya diam saja tanpa membalas ******* tersebut.


"Bagaimana? Apa sungguh tak ada rasa sedikit pun? Akan kubuktikan lagi!" seru Binar dengan air mata yang sedikit menetes. Lelaki itu benar-benar sedih ketika Ailee berkata tak lagi mencintainya untuk kesekian kalinya. Padahal dari perlakuannya Ailee selama ini sudah jelas jika gadis itu juga masih menyimpan rasa kepadanya.


Lelaki itu memegang dada Ailee berusaha merasakan detak jantung yang tak biasanya. Dan benar, jantung gadis itu berdetak cepat ketika berada di sampingnya. Pertanda pula jika dirinya benar-benar mencintai Binar. Apalagi yang disembunyikan gadis itu?


"Mau bohong bagaimana lagi? Semuanya sudah jelas kalau kamu masih mencintaiku!" gertak Binar dengan nada tinggi dan sepertinya para keluarga juga mendengarnya. Tak mampu menjawab hanya air mata yang keluar dari pelupuk mata gadis itu.


Bel apartemen berbunyi menghentikan pertikaian antara Ailee dan Binar. Seorang lelaki yang datang dengan buket bunga besar mengejutkan Binar, tapi tidak dengan para keluarga. Mereka sepertinya telah mengenal siapakah lelaki yang datang itu. Lelaki tampan bermata sipit dan terlihat muda; seusia Ailee.


Namanya adalah Yasuo. Anak perdana menteri Jepang yang cukup lama menjalin kasih dengan Ailee. Memang cukup lama, tapi Ailee tak pernah merasakan cinta atau sayang kepada lelaki yang sangat tampan dan rupawan itu. Yang juga merupakan idola setiap gadis di Tokyo.


Ailee menerimanya karena hanya ingin melampiaskan rasa sakitnya terdahulu, tak lebih. Yasuo pun sepertinya menyadari jika Ailee hanya menjadikannya pelampiasan, ia tahu betul seluk beluk Ailee.


Tapi lelaki itu sangatlah hebat, tetap bertahan meskipun gadis yang sangat ia cinta tak mencintainya. Ia tetap menunggunya sampai kapan pun, karena ia yakin jika suatu saat nanti gadis itu akan membalas cintanya selama ini.


Perempuan itu menatap Binar sejenak dengan tatapan merasa bersalah karena seakan telah mempermainkan Binar dan memberikannya harapan palsu. Wajah Binar memerah menahan amarah yang akan pecah kapan pun juga.


Ia lalu meninggalkan Ailee dan pacarnya itu. Aksa, Aza, dan Aiden mengejarnya karena penerbangan menuju ke Indonesia sebentar lagi. Koper itu diseret dengan kasar, tak ada lagi wajah ramah yang dimiliki Binar. Aksa dan Aza mencoba menenangkannya, tapi tetap tak bisa.


Tanpa disangka Ailee mengejarnya dan langsung memeluknya mencoba menghentikan lelaki itu sebelum masuk ke mobil menuju bandara.


"Pak Bin, aku mencintaimu. Sejak dulu dan sampai sekarang perasaan itu tak hilang. Tetap utuh dan kian bertambah meskipun tak bertemu dan bertegur sapa dalam waktu yang lama."


Gadis yang memeluknya dari belakang itu terisak pilu mengatakannya. Ia tersadar jika cinta memang tak bisa dipaksakan. Hatinya telah terpatri untuk Binar seorang. Tak ada yang bisa membuatnya jatuh begitu dalam layaknya Binar. Yasuo, lelaki yang begitu baik itu tetap tak mampu membuat Ailee jatuh cinta dengannya meskipun banyak hal unggul yang dimilikinya.


"Pak Bin...Maafkan aku... Aku hanya mencintaimu, Pak Bin..."


Binar tak menjawab, ia langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Ailee. Begitu sesak dadanya ketika mengetahui jika Ailee juga memiliki kekasih. Ragu dan ada sebersit rasa tak percaya ketika orang tua gadis itu berkata jika tak ada cinta di antara keduanya karena Ailee benar-benar hanya mencintai seseorang, yaitu dirinya, Binar Arusatya.


Lelaki itu menatap gadis yang masih menangis melalui kaca mobil. Menyorotnya hingga hilang dari pandangan. Dan pada akhirnya dia kembali ke Indonesia tanpa gadis itu. Banyak hal yang membuat semuanya runyam. Padahal awalnya telah tersusun rapi dan terbayang sudah hal baik menanti. Bahkan Binar juga telah menyiapkan cincin guna melamar gadis itu.


"Aku mencintaimu, Liliku. Tapi kenapa selalu ada saja halangan? Begitu sulitkah kita bersatu?" gumamnya pelan. Tersenyum tipis menatap kotak cincin berlian yang dibelinya dengan usaha selama ini.


Bukan main rasanya. Perjuangan yang luar biasa hebatnya selalu ada rintangan dan tantangan. Kebahagiaan tak kunjung diraih. Bagaimana lagi keduanya itu harus berjuang? Apakah perjuangan mereka ini memang kurang untuk mencapai bahagia? Kalaupun iya tunjukkan bagaimana dan apa yang harus dilakukan lagi supaya kebahagiaan benar-benar berada di tangan. Sungguh, keduanya pun merasa lelah karena takdir seolah tak pernah berpihak.


Semesta pun sepertinya tak begitu yakin hingga tak kunjung memberikan mereka bahagia. Atau semesta masih meragukan cinta mereka hingga memberikan rintangan dan tantangan yang tiada hentinya? Atau semesta iri jika mereka bahagia atas cinta yang tumbuh selama ini? Kalau pun iya, tolong beritahu semesta jika mereka hanya ingin bersatu dan mengenyam kebahagiaan, tidak lebih dari itu.