Perfect Duda

Perfect Duda
Aunty Mamaku, Kan?



IPad berada di tangan. Menyala redup memperlihatkan pesan dengan teman dan dosennya yang berada di Jepang. Dia juga masih mengurus wisudanya.


Air putih dan dessert box less sugar dari kedai kue omanya berada di meja bulat berwarna pastel itu. Di pojokan dan berbaur dengan pengunjung kedai yang lain. Rambutnya ia ikat tinggi karena angin berhembus menyibaknya dan membuat berantakan.


Seorang anak kecil yang berusia kurang lebih tujuh tahun tiba-tiba menghampirinya dengan wajah terheran-heran. Dia mendekat dan kini hanya berjarak tiga puluh sentimeter saja. Ailee pun semakin heran karena anak itu membelai wajahnya. Hidung, pipi, mata, mulut, dan bagian wajah lainnya ditelusuri anak itu dengan tangan mungilnya.


"Ada apa dengan wajahku? Apa ada yang aneh?" tanya Ailee tergelitik melihat anak itu yang sedari tadi hanya diam saja. Ia lalu berdiri menggendong anak itu dan mendudukkan di kursi kosong depannya.


"Hay, cantik? Apa kamu mau dessert box ini? Enak loh, aku ambilkan, ya?" tawar Ailee dan langsung masuk ke freezer yang berisikan berbagai jenis dessert box.


Anak itu terus saja menatap Ailee hingga duduk kembali ke tempat semula.


"Ayo makanlah, gratis untukmu." Ailee menyodorkan dessert box setelah membukanya tak lupa dengan sendoknya.


"Aunty sama seperti di foto," ucap anak itu dengan suara yang sangat lucu. Ia lalu memperlihatkan foto polaroid yang baru saja diambil dari saku seragamnya.


Terkejut bukan main mendapati foto dirinya dengan Binar yang dipegang anak berbalut seragam SD itu. Ailee terdiam menutup mulutnya. Ia menebak jika anak yang ada di depannya itu adalah Clarissa. Bayi yang dulu ia gendong, timang, tenangkan ketika menangis, nina bobokan, dilatih merangkak dan berjalan, dan lain sebagainya. Dan kini sudah besar sekali. Enam tahun tak jumpa, membuat Ailee tak mengenali rupanya. Akan tetapi sedari tadi nalurinya memang lain saat melihat anak itu.


"Dari mana kamu mendapatkannya?"


"Apa benar Aunty mamaku? Kata papa, mamaku akan segera pulang, aku belum pernah bertemu dengannya sejak kecil. Dan tadi aku melihat Aunty mirip sekali dengan yang ada di foto ini. Aunty memang mamaku, kan?" tanya anak itu melupakan pertanyaan Ailee tadi.


Dan di sini Ailee mulai paham jika Binar pasti berkata kalau Ailee adalah mamanya Clarissa.


"Kamu Clarissa?"


Anak itu mengangguk antusias, ia lalu berlari mendekati Ailee dan berhambur ke pelukannya.


"Aunty benar mamaku!" ucapnya terisak membuat Ailee ikut terisak pula. Bayi enam tahun lalu kini sudah besar dan memeluknya. Rindu akhirnya terbayarkan, Ailee begitu senang menemukan Clarissa.


"Kenapa mama baru pulang?"


Ailee belum bisa berkata apa-apa. Ia mendudukkan Clarissa di pangkuannya. Ditatapnya lekat, dicium, dan dipeluk. Hanya tangis haru yang menyuarakan isi hatinya kala itu. Dulu panggilan mama belum terlalu jelas, dan kini Clarissa memanggilnya dengan jelas. Panggilan yang sangat ia suka meskipun dirinya bukan mama kandung Clarissa, bahkan juga bukan siapa-siapanya.


"Jangan pergi lagi, Mah. Tetaplah bersama Clarissa dan papa."


"Clarissa-ku sudah besar, cantik sekali," puji Ailee membelai wajah imut nan cantik milik Clarissa.


Meski baru bertemu, Ailee dan Clarissa nampak akrab. Anak itu terus saja menempel padanya, tak mau lepas sedetik pun. Banyak hal diceritakan Clarissa, acap kali anak itu menyinggung Binar, Ailee selalu merubah pembicaraan hingga tak ada satu hal membicarakan lelaki itu.


"Clarissa sudah mendapat raport semester satu kemarin, nilainya bagus semua. Kata papa Clarissa pintar seperti Mama Lili. Nanti kalau kita sudah sampai rumah akan Clarissa tunjukkan raportnya," ujar Clarissa dengan peluk yang belum terlepas.


"Kenapa?"


"Mama punya pekerjaan banyak, jadi harus diselesaikan dan nggak bisa pulang sama Clarissa."


Anak itu langsung tertunduk sedih, ia turun dari pangkuan Ailee dan kembali duduk di tempat semula. Ailee jadi merasa bersalah telah membuat anak itu sedih, akan tetapi dirinya juga tidak bisa berbuat hal lebih.


"Ehm, begini saja, Clarissa kalau pulang sekolah sering ke sini? Kalau iya, mama juga akan ke sini biar bisa main terus sama Clarissa."


Clarissa mengangguk, "Papa sering mengantar Clarissa ke kedai kopi kalau pulang sekolah. Soalnya di rumah nggak ada temen, karena nenek bantu papa jaga kedai."


Seorang wanita paruh baya berdiri tepat di samping Clarissa. Tersenyum lembut dan matanya berkaca-kaca. Ailee berdiri menyambut dengan mencium tangannya. Peluk kerinduan tersalurkan, keduanya larut dalam rindu yang menggelora.


"Ailee kangen Bu Melati," lirih Ailee di dekapan Bu Melati yang baru saja sampai dan hendak menjemput Clarissa.


Bu Melati pun sama rindunya seperti Ailee, ia tak bisa berkata-kata. Rindunya selama enam tahun akhirnya terbayar dengan pertemuan hari itu. Lepas sudah seluruh rindu yang tertanam.


"Apa kabar, Bu? Maaf dulu nggak pamit langsung."


"Alhamdulillah. Saya baik-baik saja apalagi saat ketemu kamu. Tambah cantik, lama tak jumpa," jawab Bu Melati.


"Nenek...aku sudah menemukan mama. Tapi tadi aku mengajaknya pulang mama nggak mau," rengek Clarissa. Bu Melati memberinya penjelasan sama seperti Ailee tadi, Clarissa terpaksa mengiyakan meskipun dalam benaknya menginginkan jika Ailee tinggal bersamanya.


Mereka berbincang cukup lama membicarakan hal yang telah dilalui selama ini. Ailee menceritakan tentang studinya dan kegiatan apa saja yang dilakukan ketika di Jepang. Sedangkan Bu Melati juga menceritakan jatuh bangunnya selama ini mengelola kedai kopi Binar dan juga panti asuhan. Sangat lama hingga Clarissa tertidur pulas di pangkuan Ailee.


Dulu anak itu juga selalu tertidur pulas ketika di pangkuannya, dan kini tetap sama meski raga tak lagi sama. Dipangkunya anak itu dengan penuh kasih sayang, dibelai ketika terusik supaya tetap lelap tertidur. Saat senja mulai menyapa, Bu Melati hendak berpamitan dan membangunkan Clarissa. Namun, kedatangan seorang lelaki yang tak lain adalah Binar membuatnya menetap dan mengurungkan niat.


Ailee terkejut bukan main, ia memalingkan pandangannya ke sembarang arah. Salah tingkah dan bingung harus bagaimana.


"Apa kabar? Lama tak berjumpa," ucap Binar menggetarkan jiwa Ailee. Rasanya campur aduk, lelaki yang sempat ia lupakan akhirnya kembali dilihatnya. Semuanya nampak berubah, dan perasaan kesal masih mendominasi.


"Baik," jawab Ailee singkat tanpa menatap orang yang diajak bicara.


"Ah, kamu pasti pegal ya, Nak? Biar Binar yang menggendong Clarissa," seru Bu Melati yang kemudian menyuruh Binar mengambil alih Clarissa.


Keduanya sempat menatap dalam waktu yang lama sebelum akhirnya Ailee mengalihkan pandangan terlebih dahulu. Dan Clarissa berhasil diambil Binar.


"Maaf, Bu. Ailee harus pulang karena tadi ada janji sama Kak Aiden," pamit Ailee. Gadis itu bergegas membereskan iPad, ponsel, dan barangnya yang lain ke dalam tas, kemudian masuk ke mobil dan pergi meninggalkan kedai kue itu.


Bu Melati dan Binar saling pandang. Menyorot mobil yang perlahan menghilang dengan tatapan sendu, terutama Binar. Dia sedih sekali karena Ailee mengacuhkan dan menghindari dirinya.