Perfect Duda

Perfect Duda
Panggilan Video



Ailee masih berada di sana, ia tengkurap dan terus berdo'a supaya papanya tak menyadari kehadirannya.


Aksa menarik ponselnya yang masih dicas dan tak lupa mencabut charger dari stop kontak. Ia lemparkan charger tersebut sembarang arah hingga kepala charger itu mengenai kepala Ailee, memekiklah gadis itu membuat Aksa terkejut.


"Hehe, Hello Papa..." ringis Ailee, ia pun berdiri dan memegang kepalanya yang sakit.


"Ada apa sih, Hubby? Kenapa kamu berteriak? Apa ada maling?" tanya Aza. Ia pun terbangun gara- gara mendengar suara teriakan suaminya.


Mata mengantuk dan setengah nyawa masih tertinggal di alam mimpi. Aksa dan Aza bergantian menanyai putri mereka yang tiba- tiba saja berada di kamar dan mengejutkan layaknya jailangkung.


"Ehm...itu..."


Orang tuanya menatapnya lekat membuatnya jadi salah tingkah dan sulit mencari alasan supaya tak kena marah. Tapi, bukan Ailee namanya jika tak pandai mencari alasan.


"Aku-"


"Aku mau tidur sama mama. Aku takut..." jawab Ailee sekenanya. Ia pun bergabung dengan mamanya yang masih berbaring di ranjang.


"Tumben sekali?" tanya Aza.


"Mah, aku mengantuk. Peluklah aku, aku ingin tidur," seru Ailee. Ia mendekap mamanya erat dan menelusupkan wajahnya di dada wanita itu. Tangan mamanya pun terulur mengusap kepalanya, sangat nyaman. Tak peduli lagi mama atau papanya itu masih terheran- heran dengannya atau tidak.


"Kembali ke kamarmu! Papa nggak suka kalau tidur bertiga, papa mau tidur sama mamamu saja," gerutu Aksa.


"Hey, Tuan Aksa, bukankah kamar di rumah ini masih banyak sekali? Kenapa Anda tidak pergi ke kamar lain saja? Jangan mencari gara- gara dengan Nona Ailee!" ujar Ailee yang sebenarnya bermaksud bercanda saja dan sepertinya berhasil membuat sang papa marah dengannya.


"Anak kurang ajar kamu! Hanya malam ini saja, awas kalau besok kamu masih tidur di sini!" ucap Aksa sebelum dirinya menuju sofa. Meski banyak kamar, dia tak mau tidur di kamar lain. Lebih baik tidur di sofa kamarnya saja karena yang penting masih dekat dengan istrinya.


"Aduhhh, pelukan mama benar- benar hangat dan nyaman. Pantas saja papa nggak mau tidur sendirian," sindir Ailee, ia tahu betul jika Papanya belum melanjutkan tidurnya lagi.


"Diam saja kamu itu!"


"Euhhmmm... Malam ini kayaknya ada yang nggak bisa tidur nih gara- gara nggak dipeluk Nyonya Aza Sanjaya!" Lagi - lagi Ailee menyindir Papanya membuat lelaki yang sudah berbaring di sofa itu mendengus kesal.


"Iya sayang, besok pasti ada yang matanya bengkak gara- gara nggak tidur," timpal Aza ikut menggoda suaminya.


"Tunggu besok! Aku akan membalas kalian berdua, terutama Ailee!"


"Ahh, aku menunggu pembalasanmu, Pah..."


Ketiga orang itu masih asyik berdebat membicarakan suatu hal yang sebenarnya tak penting sama sekali. Entah hal apa yang kemudian membuat tiga pasang mata itu tertutup bersiap mengarungi mimpi.


Ailee bernapas lega. Kepintarannya ternyata bisa menyelamatkan dirinya dari situasi yang mencekam tadi. Beruntung papa dan mamanya itu tak berpikiran macam-macam kepadanya.


...*****...


Rumah itu selalu ramai dengan tangis maupun tawa anak- anak yatim piatu. Anak yang masih memerlukan kasih maupun sayang dari orang tua itu berhati baja. Mereka sebenarnya remuk redam, tapi selalu berusaha setegar mungkin. Beruntung mereka masih bisa bertegur sapa dengan yang lain, tak pernah lapar, dan yang penting yaitu masih bisa mengecap pendidikan. Panti asuhan itu merupakan kehidupan bagi mereka. Jika tak ada entah apa yang akan terjadi.


Berkat Binar dan Bu Melati, anak- anak itu tak lagi merasa sepi dan sendiri. Mereka sangat bersyukur karena dipertemukan dengan dua orang baik yang berusaha semaksimal mungkin menghidupi mereka.


"Ayo, habiskan sarapan kalian. Jangan sampai ada yang tersisa, kita harus bersyukur atas nikmat yang telah diberikan-Nya," ujar Binar ketika anak- anak panti tengah menikmati sarapan mereka.


"Siap, Pak Binar!" jawab mereka serempak.


Sembari memastikan anak- anak panti sarapan dengan baik, Binar memangku Clarissa dan mengajaknya bermain sama seperti pagi yang telah lalu.


Ting...


Suara pesan masuk terdengar, lelaki itu langsung mengambil ponselnya yang ia letakkan di sampingnya. Segeralah ia buka pesan tersebut, takut jika itu pesan penting dari sekolah atau guru lain.


"Dari siapa ya sayang, pagi- pagi kok udah ada yang nge-chat," seru Binar mengajak Clarissa berbicara.


...Selamat pagi, Pak Binar...


...❤️❤️❤️...


...Bagaimana kabarmu hari ini?...


...Matahari bersinar cerah dan terlihat ceria,...


...semoga dirimu pun sama....


Binar mengernyit membaca pesan tersebut. Dari nomor tak dikenal, tak ada foto profilnya pula, identitas WhatsApp benar- benar tak jelas. Ponsel itu ia letakkan kembali, hanya orang iseng jadi tak perlu dibalas.


"Muachhh...muachhh..." Binar kembali bermain dengan anaknya. Ia menciumi Clarissa yang sangat wangi. Aroma bayi memang tak ada yang bisa mengalahkan.


Drrttt...drrtt...


Ponsel lelaki itu kembali bergetar, bukan pesan yang diterima melainkan sebuah panggilan video. Binar masih acuh, ia mengabaikannya hingga panggilan ke-tiga. Merasa penasaran, akhirnya dia menggeser tombol hijaunya ketika panggilan ke-empat. Ia tatap ponselnya dan bersiap mengetahui pemilik nomor misterius itu.


"Allahu akbar!" pekik Binar dan langsung menjatuhkan ponselnya. Sang penelepon malah cekikikan sendiri dibuatnya.


Gadis yang sering menggoda, menemui, dan mengikutinya kemana pun ia pergi tertera di layar ponselnya. Siapa yang tidak terkejut? Ah, bagaimana anak itu bisa mendapatkan nomor ponselnya? Ini tidak bisa dibiarkan.


"Pak Binar! Pak Binar! Ayo ambil ponselmu, perlihatkan wajahmu!" seru Ailee, gadis yang pagi- pagi sudah menelpon Binar.


"Hey! Dari mana kamu mendapat nomor ponsel saya?" tanya Binar tanpa mengambil ponselnya terlebih dahulu.


"Perlihatkan wajahmu dulu, Pak. Nanti akan kuceritakan bagaimana mendapatkan nomormu," jawab Ailee.


Binar mengambil ponselnya yang terjatuh di lantai, ia mendekatkannya ke wajah anaknya, bukan dirinya. Malas sekali jika memperlihatkan wajahnya kepada anak nakal itu.


"Bukan Clarissa, tapi wajahmu, Pak!"


"Baby, suruh papamu memperlihatkan wajahnya," tambah Ailee yang justru ditertawakan Clarissa.


"Nih sudah!" Binar mendekatkan ponselnya ke hidungnya hingga Ailee pun hanya bisa melihat dua lubang saja, bukan wajah tampan Binar. Ada upil kecil pula, sungguh tidak aestethic.


"Hufftt, Dasar!"


"Cepat katakan dari mana kamu bisa mendapat nomor ponselku? Bikin emosi aku aja sih!"


"Ciyee, panggilnya Aku dan Kamu, bukan Saya lagi..." ledek Ailee, Binar jadi salah tingkah. Begitu saja dipermasalahkan.


"Berhenti bercanda atau aku blokir nomormu?"


"Jangan dong, nanti kalau Pak Binar diblokir kita nggak bisa video call lagi. Nanti kalau kangen gimana?"


Fix, sebelum Binar naik darah lebih baik ia mematikan panggilan itu. Ponselnya segera ia matikan juga supaya tak terkecoh jika Ailee kembali menelponnya. Ia simpan benda pipih itu ke dalam kantung kemeja yang tengah ia kenakan.