Perfect Duda

Perfect Duda
Sumimasen...



Musim semi telah berakhir. Udara di Jepang mulai panas karena musim panas menyapa. Biasanya akan ada natsumatsuri (festival musim panas) dan kembang api di tepi pantai. Gadis itu akan melewatkannya lagi, tak akan seru juga jika menikmatinya sendirian.


Diantar dengan lelaki yang menjadi kekasih namun tak pernah mendapat perhatian atau cinta darinya, mereka sudah sampai di Bandara Haneda. Perasaan bersalah kembali muncul, ia merasa telah menjadi wanita yang sangat buruk karena telah menjadikan lelaki itu pelampiasannya saja.


"Sumimasen, Yasuo..." ucap Ailee lirih kepada orang yang menawarkan diri untuk mengantarkan ke bandara.


(Maaf, Yasuo)


"Sorede īdesu. Ai wa hontōni kyōsei suru koto wa dekimasen anata no shiawase o inotte imasu," sahut Yasuo.


(Tak apa. Cinta memang tak bisa dipaksakan. Semoga selalu bahagia.)


Yasuo, lelaki hebat itu merelakan Ailee untuk Binar. Lelaki itu sangatlah baik, dia mampu menepis rasa sakitnya karena wanita yang dicintainya mencintai orang lain.


Merelakan baginya adalah hal yang sudah benar, jika tetap bertahan tapi hati Ailee tak bersamanya untuk apa? Bukankah melihat orang yang kita cinta itu adalah kebahagiaan yang tiada tara? Dia hanya ingin menjadikan Ailee wanita terbahagia meskipun tak bersamanya.


Mereka pun saling memeluk, Ailee tetap saja merasa bersalah meskipun Yasuo telah berkata bahwa dirinya baik-baik saja.


*Terima kasih telah mencintaiku, maaf aku tak pernah bisa membalas cintamu. Kamu lelaki hebat, yang layak untuk wanita hebat pula. Maaf jika selama ini terus saja membuat luka dalam hatimu.


Bahagialah, Yasuo. Tuhan pasti akan memberikan seseorang yang kamu cintai dan juga mencintaimu. Aku akan selalu mendoakan untuk kebahagiaanmu*.


Semakin sesak ketika melihat Yasuo melambaikan tangan tatkala dirinya mulai naik pesawat. Lelaki itu terlihat baik-baik saja dengan senyum manis yang selalu ia tampilkan. Akan tetapi siapapun juga pasti tahu serapuh apa hatinya. Fisik memang bisa berbohong, tetapi tidak dengan hati.


Berbahagialah selalu, Yasuo. Cepat atau lambat kamu pasti akan mendapatkan cinta sejati. Seseorang yang mencintai dan kamu cintai pasti akan segera datang. Terima kasih telah mengajarkan arti merelakan yang sesungguhnya. Dirimu benar-benar hebat.


...*****...


Gadis itu telah kembali ke negara kelahirannya karena cintanya yang sangat penting. Indonesia ataupun Jepang akan sama saja, dirinya juga bisa berkarir di sini. Lupakan segala hal yang menyesakkan dada, bersiaplah untuk menyambut kebahagiaan yang telah lama menanti.


Di sana, di kedai kopi yang menjadi bukti perjuangan dan kegigihan lelaki itu selama ini, seorang gadis memberanikan masuk dan menemui sang pemilik. Bertanya kepada barista di mana keberadaan sang pemilik, ia pun langsung diminta ke ruangannya karena sang pemilik berada di sana.


Dibukanya pelan pintu ruangan khusus untuk Binar, dilihatnya seorang lelaki tengah tertidur pulas di sofa panjang. Ailee bersimpuh dan membelai wajahnya bermaksud membangunkan. Namun, terlalu pulas hingga tak terusik sama sekali.


"Pak Bin...Bangunlah..."


"Kenapa seperti mayat sih?" Ailee mulai panik karena usikan darinya tak membuat Binar bangun. Ia pun mengecek napas Binar. Huffttt...lelaki itu masih bisa bernafas dengan baik.



Lama menunggu lelaki itu bangun, Ailee malah mengantuk dan akhirnya ikut tertidur dengan posisi terduduk di lantai. Sebenarnya, lelaki itu hanya berpura-pura saja, ia sudah bangun saat pintu ruangannya terbuka tadi. Dia menatap gadis yang tidur dengan menggenggam tangannya. Terlihat lelah karena beberapa jam yang lalu baru saja menjalani penerbangan yang sangat panjang dan belum sempat beristirahat.


"Apa kamu datang hanya ingin memberitahu jika kamu memilih Yasuo yang lebih segalanya dibanding denganku?" lirih Binar bertanya-tanya. Apapun yang dipilih gadis itu, ia akan berusaha menerimanya dengan lapang dada. Apapun yang terjadi bukankah sudah menjadi kehendak-Nya? Jadi, kita harus bisa menerimanya.


Binar beranjak bangun dengan hati-hati. Tak lupa menggendong Ailee dan merebahkannya pada sofa. Gadis itu nyenyak sekali tidurnya, heran juga karena bisa semudah itu tertidur dengan posisi yang tak nyaman pula.


Sebersit ide untuk menjahili Ailee pun terlintas, Binar keluar dari ruangannya dan mengunci pintunya membiarkan Ailee tetap di sana dengan lampu yang telah dimatikan, ponsel Ailee pun telah diambilnya supaya benar-benar tak ada yang membantunya. Pasti akan lucu, tak lupa juga meletakkan kamera kecil untuk merekam semua aktivitas Ailee setelah bangun nanti.


"Ssttt, biarkan saja. Nanti kalau dia berteriak meminta tolong telpon saya secepatnya ya. Saya mau pulang dulu, mau mempersiapkan kejutan," pesan Binar kepada barista di kedai kopi miliknya.


Barista itu hanya mengangguk, ia lalu melanjutkan pekerjaannya. Ketika menjelang maghrib memang kedai akan sepi, jadi waktu akan dihabiskan dengan membersihkan dan membereskan tempat. Dan kedai akan kembali ramai jika sudah ba'da isya.


Saat suara adzan mulai terdengar, Ailee pun terbangun. Ia cukup terkejut karena posisinya telah berganti, dan yang paling mengejutkan adalah ruangan itu gelap. Ailee segera menuju ke saklar lampu, dinyalakanlah lampu hingga ruangan nampak terang.


...Jangan dinyalakan! Hemat listrik, tapi kalau tetap dinyalakan kamu harus membayar listrik di tempat ini selama satu bulan. Terima kasih atas kerjasamanya....


"Pelit banget jadi orang!" gerutu Ailee ketika membaca kertas bertuliskan peringatan yang tertempel di samping saklar lampu. Tapi ia tak peduli dan tetap membiarkan lampunya hidup.


Ia kemudian berkeliling ruangan tersebut mencari keberadaan Binar. Di bawah sofa, di bawah meja, dan lain tempat. Tapi tetap saja batang hidung lelaki itu tak ada.


Ailee lalu berusaha membuka pintu. Ah, sialan. Pintunya tak bisa terbuka. Apa dirinya yang tak bertenaga hingga pintu tak terbuka? Maklum, sejak tadi siang belum makan. Dan ia mencoba lagi dengan memberikan sisa tenaganya, tapi tetap tak bisa dan sepertinya memang dikunci dari luar tak mungkin juga jika rusak, soalnya pintu tersebut terlihat masih bagus.


"Pak Bin! Pak Bin!" teriaknya menggedor pintu berharap lelaki yang dicarinya mendengar.


"Pak Bin! Aku lapar, buka pintunya. Jangan main-main, atau kucekik lehermu?" teriaknya sekali lagi, tapi tetap tak ada sahutan.


Para barista yang mendengar suara pintu digedor berkali-kali hanya bisa diam dan segera menelpon Binar sesuai perintah tadi. Dan sepertinya Binar sedang sibuk hingga tak menjawab telepon dari para barista kedainya, atau jangan-jangan lelaki itu memang sengaja tak menjawab telepon?


"Gimana nih? Udah lima belas menit tapi nggak diangkat sama Pak Binar, apa kita bukain aja ya? Ada kunci cadangan, kan?" seru Vito, barista kepercayaan Binar.


Radit, temannya Vito langsung membuka laci tempat penyimpanan kunci. Ternyata Binar telah mengambil kunci cadangan. Jadi, barista itu tak bisa membantu Ailee.


"Pak Bin! Bukain dong, jangan ngerjain Ailee!" Gadis itu kembali berteriak membuat para barista khawatir dan semakin bingung karena tak tahu harus membantunya bagaimana lagi.


Dan Vito pun memutuskan untuk keluar menuju jendela ruangan Binar. Ia mengetuknya memberitahu Ailee supaya lewat jendela karena tak ada kunci yang bisa membuka pintunya.


"Hey, di mana Pak Binar? Kenapa dia mengurungku di sini?" gertak Ailee membuat Vito bergidik.


"Pak Binar tadi cuma iseng aja, Mbak. Mending Mbak Ailee lewat jendela saja," ucap Vito gemetaran.


"Bagaimana bisa lewat jendela? Jendelanya saja di-teralis besi gini nggak bisa lewat lah!" sahut Ailee menggerutu kesal. Jendela memang besar dan cukup dijadikan tempat keluar, tapi ada teralis besi supaya tak ada maling hingga tak bisa jika keluar dari sana.


Dan Ailee semakin kesal karena Vito malah pergi meninggalkannya tanpa ada sepatah kata lagi. Semakin marah dibuatnya saat mencari ponsel dan ternyata tak ada, sepertinya telah diambil oleh Binar.


"Ya Tuhan, kenapa Pak Binar isengnya kebangetan sih? Apa salahku?"


Ailee lalu mencoba mencari sumber keisengan Binar. Apa mungkin lelaki itu marah karena Ailee tak mau pulang bersamanya dulu? Ah, entahlah. Perut semakin melilit minta diisi, tak ada makanan dan minuman apapun di sana. Air minum yang selalu dibawa Ailee pun telah habis.


Tak lama kemudian, terdengar suara kunci yang sedang berusaha membuka pintu. Lalu terdengar suara Binar.


"Ailee, kuncinya patah!"