
Rumah terasa sepi, tak ada lagi perdebatan kecil antara Clarissa dan Binar tiap paginya. Biasanya mereka selalu berdebat memperebutkan Ailee. Dan pagi itu tak ada lagi suara celotehan anak berumur tujuh tahun itu.
Tiga orang penghuni rumah terdiam menatap kursi kosong tempat Clarissa biasanya duduk. Anak itu pasti selalu meminta untuk disuapi Ailee atau Bu Melati ketika sarapan. Kali ini tak ada Clarissa, sarapan pun terasa tak lengkap.
"Sudahlah, kalian jangan sedih. Clarissa baik-baik saja, nanti kalau dia kangen pasti bakal main ke sini lagi kok," seru Binar kepada Ailee dan juga Bu Melati yang tak ada senyum sama sekali semenjak Clarissa pindah.
"Hm, kalian lanjutkan makannya, mama mau nyiram tanaman," ujar Bu Melati berpamitan. Baru beberapa sendok saja makanan yang masuk ke perutnya tapi wanita itu beranjak pergi karena tak ada lagi selera untuk makan. Ailee dan Binar pun jadi turut tak berselera, mereka memilih untuk meninggalkan ruangan itu.
Meski nanti malam akan ada pergantian tahun, tapi hari ini Ailee masih tetap berangkat untuk menyelesaikan pekerjaannya yang terbengkalai. Kali ini Ailee enggan untuk membawa mobil sendiri, ia memilih diantarkan oleh sang suami saja.
Mereka pun sampai di depan Sanjaya Group– sepi tak seperti biasanya karena yang hadir hanya beberapa karyawan yang masih berhutang tugas. Ailee tak kunjung turun. Ia menatap suaminya sendu, sontak saja Binar mengernyit tak paham maksud istrinya itu.
"Hubby..."
"Iya? Kenapa, Sayang?" tanya Binar membelai pipi istrinya yang akhir-akhir ini mengembang sempurna meski tak banyak makan. Tapi heran, hanya pipi saja yang besar. Tubuhnya tetap kurus ideal.
"Apa Clarissa baik-baik saja?"
"Tentu saja, bukankah tadi kita sempat menelpon dia dan dia baik-baik saja, kan?"
"Tapi aku tetap takut. Bagaimana kalau dia tadi makannya sedikit? Bagaimana jika dia tak tidur dengan baik? Bagaimana jika–"
Binar segera memotong pembicaraan istrinya, ia peluk dan tenangkan supaya Ailee tak lagi berpikiran yang aneh-aneh. Lelaki itu diminta Ailee untuk menemani bekerja. Kebetulan Binar sedang libur, kedai kopi pun ia tutup untuk dua hari ke depan– tak ada salahnya juga menemani sang istri tercinta.
Aiden, Kimmy, dan Bryan yang berpapasan dengan mereka di lift hanya bisa berdehem menatap kemesraan yang terpampang jelas. Ailee dan Binar masih saling memeluk membuat Aiden seperti cacing kepanasan. Hanya ia sendiri yang pasangannya kebetulan tak ada di sampingnya. Sedangkan Kimmy dan Bryan yang iri pun segera menirukan mereka.
"Ehemmm..." Kali ini Aiden berdehem hebat membuat empat orang yang berada di lift itu terkekeh gemas.
"Aduhh, ada yang jadi nyamuk nih," celetuk Bryan yang langsung disentil Aiden.
"Kasihan banget sih nggak ada yang meluk, haruskah kita menelpon Sora dan menyuruhnya ke sini, Sayang?" tanya Kimmy kepada Bryan bermaksud meledek Aiden.
"Sialan! Awas saja kalian nanti, akan kubalas!" seru Aiden ketika lift terbuka lebar. Ia pun melenggang terlebih dahulu meninggalkan mereka.
Bryan dan Kimmy kemudian menuju ke ruang divisi keuangan. Kali ini Bryan tak ke kantor cabang karena pekerjaannya bisa dilakukan dimana pun termasuk di kantor pusat bersamaan dengan cintanya– Kimmy.
Ailee mulai berkutat dengan pekerjaannya, sedangkan Binar menunggu di sofa seraya memainkan game di iPadnya. Senang sekali karena bisa melihat suaminya secara langsung ketika pekerjaan mulai menjenuhkan. Semangatnya kembali bertambah.
Dan waktu bergulir lebih cepat hari ini, tak terasa sudah saatnya makan siang. Pekerjaan Ailee pun telah selesai. Tinggal beberes dan bersiap untuk pulang.
"Hubby, aku sudah selesai. Kita bisa pulang sekarang," ujar Ailee memberitahu suaminya. Tak ada sahutan, ia pun menoleh ke arah suaminya itu. Dan ternyata lelaki itu tertidur dengan wajah yang tertutup majalah.
Usai membereskan mejanya, ia pun menghampiri suaminya. Diambil majalahnya dan diletakkan kembali ke tempat semula. Binar tidur nyenyak sekali, sampai tak terbangun meski Ailee mengecupinya berulang kali.
Semakin gemas, tak terhitung berapa kali Ailee menciumi wajah suaminya. Dan lelaki itu tak kunjung bangun juga, ia hanya menggeliat merasakan geli.
"Ehem..." dehem Aksa memasuki ruangan putrinya. Sontak saja Ailee langsung berdiri dan menghampirinya. Ia malu betul dibuatnya.
"Ailee kangen papa..." seru Ailee memeluk papanya. Mereka berpelukan cukup lama, meski kerap bertemu tapi tetap saja merindu karena kini tak lagi tinggal serumah.
"Uang dari papa sudah masuk ke rekeningmu, kan? Coba cek ponselmu," ujar Aksa ketika pelukan telah terlepas.
Ailee pun langsung mengecek ponselnya yang ternyata ada notifikasi pengiriman uang dari rekening papanya. Ia pun terkejut melihat nominalnya yang sangat besar.
"Untuk apa? Gaji Ailee kan nggak sebanyak ini, Pah. Ailee akan mengembalikannya lagi," seru Ailee.
"Untuk berjaga-jaga. Papa takut kalau uang dari Binar tak cukup memenuhi kebutuhanmu." Bukan tanpa alasan Aksa mengkhawatirkan putrinya yang sedari kecil memang tak pernah kurang suatu apapun. Melepas putrinya ke pelukan lelaki lain membuatnya berpikir keras tiap hari dan selalu mengkhawatirkan.
"Uang dari suamiku lebih dari cukup. Mentang-mentang papa lebih kaya dari dia, papa ngeremehin dia gitu aja? Pah...suamiku punya bisnis yang cukup besar dan ada beberapa cabang. Penghasilannya sangat besar, papa tak perlu mengkhawatirkanku karena aku nggak akan kekurangan apapun," ujar Ailee sungguh-sungguh. Ia begitu tak suka dengan kekhawatiran sang papa yang seakan meremehkan Binar yang dianggap tak mampu menghidupi dirinya.
"Tapi..."
"Sudah aku kembalikan uangnya. Gaji dari kantor ini sudah besar, papa nggak perlu memberi Ailee uang tambahan lagi," ucap Ailee. Ia berhasil mengirimkan kembali uang dari papanya.
"Kalau ada apa-apa kamu harus beritahu papa, mama, atau Kak Aiden," ujar Aksa sebelum meninggalkan putrinya. Sedikit kecewa karena Ailee tak mau menerima uangnya lagi. Tapi putrinya itu benar juga, Ailee kini bukanlah tanggung jawabnya lagi. Wanita itu telah menjadi tanggung jawab Binar sepenuhnya.
Tak lama kemudian, Ailee menghampiri suaminya yang ternyata sudah bangun. Binar sedari tadi memang sudah bangun, ia hanya berpura-pura saja.
Semua perbincangan antara ayah dan anak itu didengar olehnya. Sedih dan kecewa ketika mengetahui jika Aksa masih tak percaya jika Binar mampu menghidupi Ailee. Dirinya memang tak sekaya keluarga Ailee, tapi ia akan selalu memastikan jika istrinya tak akan kurang suatu apapun.
Usai berpamitan dengan teman kantornya, Ailee langsung mengajak Binar untuk pulang. Binar masih terdiam dan terngiang akan perbincangan Aksa dengan Ailee tadi. Ternyata begini menjadi menantu dari keluarga kaya yang terkadang diremehkan dan dianggap lemah.