Perfect Duda

Perfect Duda
Jiwa Keibuan



Harta yang paling berharga adalah keluarga


Istana yang paling indah adalah keluarga


Puisi yang paling bermakna adalah keluarga


Mutiara tiada tara adalah keluarga


Selamat pagi Mama


Selamat pagi Papa


Mentari hari ini berseri indah


Terima kasih Mama


Terima kasih Papa


Untuk tampil perkasa bagi kami putra putri yang siap berbakti


Lagu dilantunkan, tak merdu namun tetap bisa terdengar jelas. Aza dan Aksa sebagai orang tua hanya bisa tersenyum ketika Ailee bernyanyi Harta Berharga tiap paginya.


"Gimana? Udah mulai belajar untuk EJU, JLPT, dan ujian universitasnya sendiri, kan?" tanya Aksa membelai anaknya yang bersandar di bahunya.


EJU (Examination for Japanese University) adalah syarat masuk universitas bagi program sarjana. Adapun tes EJU sendiri dilaksanakan di Jepang dan berbagai negara di luar Jepang, salah satunya adalah Indonesia.


Sebenarnya EJU digunakan untuk mengevaluasi apakah siswa internasional yang ingin melanjutkan pendidikan di Jepang memiliki keterampilan bahasa Jepang dan kemampuan akademik dasar yang diperlukan untuk belajar di lembaga-lembaga tersebut. Nantinya hasil tes EJU akan diberikan kepada universitas yang dituju bersamaan dengan dokumen-dokumen lainnya yang menjadi persyaratan.


Sedangkan, JLPT (Japanese Languange Proficiency Test) merupakan sebuah ujian atau tes yang dilakukan untuk mengukur kemampuan berbahasa Jepang bagi yang berasal dari luar Jepang atau mahasiswa internasional. JLPT sebenarnya sama seperti TOEFL atau IELTS, hanya saja ujian ini untuk mengukur kelancaran berbahasa Jepang. Hasil tes ini hanya menjadi pertimbangan sebagai kelengkapan syarat serta rekomendasi untuk diberikan kursus bahasa Jepang dari universitas ketika liburan musim panas.


"Harus kuliah di Jepang ya, Pah?" Kini Ailee tak lagi bersandar di bahu papanya, ia lesu dan menyandarkan tubuhnya di kursi.


"Kenapa nggak di Indonesia saja, Pah? Kan sama aja, sama-sama belajar nanti juga dapat gelar," timpal Aiden seraya meneguk susunya hingga menyisakan seperempat gelas.


"Kenapa kalian berbicara seperti itu? Bukankah sejak awal kalian juga menginginkan untuk menempuh pendidikan di sana? Lalu, kenapa tiba-tiba berubah pikiran?" tanya Aksa dengan suara tegas.


"Kamu nggak mau pisah sama guru matematika itu?" Ailee tertunduk ketika papanya bertanya seperti itu. "Dan kamu juga nggak mau pisah sama Sora?" Kali ini pertanyaan dilayangkan kepada Aiden, dan pemuda itu pun tertunduk pula, menebak bagaimana papanya bisa tahu.


"Gini nih akibatnya kalau kalian sudah jatuh cinta duluan. Pendidikan mulai terganggu, maka dari itu dari dulu papa mewanti-wanti kalian supaya tak memikirkan cinta. Hal yang papa takutkan sekarang terjadi, kan?"


Ailee dan Aiden semakin merasa bersalah ketika papanya berbicara dengan nada tinggi. Mamanya yang baru saja selesai menyajikan sarapan langsung mengusap dada lelaki yang marah serta kecewa itu.


"Tenang, jangan marah-marah. Bicara baik-baik jangan dengan nada tinggi seperti itu," ucap Aza menenangkan suaminya. Namun rupanya, Aksa sangat kecewa dengan anak kembarnya. Ia langsung pergi meninggalkan ruang makan tanpa memakan sesuap makanan pagi itu.


"Kalian nggak usah takut. Nanti papa pasti baikan lagi, kalian sarapan dulu, Mama akan mengantarkan makanan buat papa..." ucap Aza seraya mengambilkan sarapan untuk sang suami.


Suasana jadi hening seketika. Aiden dan Ailee saling tatap, lalu mereka memilih untuk segera berangkat sekolah. Tak ada selera lagi untuk sarapan. Membuat papanya kecewa adalah masalah besar, sebelumnya papanya pun tak pernah marah seperti tadi. Tapi Aiden dan Ailee hanya ingin bebas dan menentukan pilihan mereka sendiri, sedangkan sang papa selalu saja mengekang. Ini cukup berat.


...*****...


Kantin baru saja dibuka, penjaganya sedang memasak makanan untuk dijual nanti. Hanya ada gorengan dan makanan kemasan yang ada sepagi itu, Ailee pun mengambil dua buah roti cokelat dan dua susu kotak untuk dirinya dan sang kakak.


"Kenapa lesu?" tanya seseorang di sampingnya yang juga tengah membayar makanan.


"Eh Pak Binar...Enggak kok, aku selalu semangat!" jawab Ailee dengan semangat menggebu seperti biasanya.


"Berapa, Bu?" tanya Binar memperlihatkan roti dan air mineral yang akan dibelinya.


"Sepuluh ribu, Pak."


"Pak Binar belum sempat sarapan atau Bu Melati belum masak?" tanya Ailee.


"Belum sempat, tadi Clarissa rewel. Badannya demam, jadi aku ngurusin dia sampai nggak sarapan," jawab Binar. Akhir-akhir ini Binar lebih terbuka kepada Ailee, dia pun tak kesal lagi jika bersamanya.


"Udah dibawa ke dokter?" Ailee panik mendengar Clarissa sakit.


"Udah kok, sana masuk kelas, udah mau bel," pinta Binar ketika sudah sampai di kelas Ailee.


"Kalau demamnya belum turun dibawa ke rumah sakit aja, Pak. Oh ya, nanti kalau gitu nggak usah les privat. Pak Binar urus Clarissa aja, aku akan ke sana sore nanti," ucap Ailee.


Binar mengangguk dan melengkungkan senyum tipis, tetap dingin. Ia lalu meninggalkan Ailee dan menuju ke ruang guru.


Sepulang sekolah, Aiden dan Sora akan langsung menuju ke kafe. Cukup lega karena Ailee bilang tak ada les privat hari ini, tapi anak kembar itu tak memberitahu orang tua mereka supaya bisa bebas pergi ke mana pun mereka mau. Seperti yang sudah direncanakan Ailee, sepulang sekolah dia langsung ke rumah Binar tanpa menunggu lelaki itu terlebih dahulu.


Clarissa sakit membuatnya cemas. Bubur bayi, susu, dan cemilan kesukaan Clarissa telah ia beli. Berharap sekali keadaan Clarissa jauh lebih baik.


"Eh Ailee, kok pulang sekolah langsung ke sini?" tanya Bu Melati saat membukakan pintu.


"Hehe iya, Bu. Mau jenguk Clarissa," jawab Ailee. Mereka langsung masuk dan menuju ke kamar Clarissa.


"Suhu tubuhnya belum turun, padahal sudah minum obat dari dokter," jelas Bu Melati.


Hati Ailee sakit seketika melihat anak itu terbaring lemah di ranjang. Biasanya jika dirinya datang, Clarissa akan sangat antusias merangkak menyambutnya. Dan kali ini anak itu pucat, lemas, tak ada keceriaan sama sekali.


"Pasti kecapekan main ya jadi sakit. Uhhh...anak Mama jangan sakit dong..."


Gadis itu menggendong Clarissa. Suhu tubuhnya panas, Ailee pun membiarkan kening Clarissa menyentuh dadanya supaya panasnya berkurang. Sama seperti yang mama atau papanya lakukan ketika dirinya demam. Dan Clarissa pun anteng di pelukan Ailee yang masih berseragam sekolah.


"Kok kamu langsung ke sini? Nanti dicariin mama papamu loh, pulang dulu sana," seru Binar memasuki rumah. Ia melepas sepatu dan juga kaos kakinya seraya duduk di kursi yang menghadap Ailee.


"Sssttt..." Jari telunjuk diletakkan di mulutnya bermaksud supaya lelaki itu menurunkan suaranya karena takut membangunkan Clarissa yang baru saja tidur.


Binar mengangguk, ia lalu mendekat dan memeriksa suhu tubuh Clarissa secara langsung. Sudah tak sama seperti tadi pagi sebelum dirinya berangkat ke sekolahan. Ia pun bernapas lega karena anaknya sudah membaik. Senang sekali melihat anaknya berada dalam pelukan Ailee, meski terlalu muda tapi jiwa keibuan Ailee patut diacungi jempol.


Lama kelamaan kantuk Ailee menyapa, ia pun tertidur bersandar di kursi dengan Clarissa yang tetap berada di pelukan. Bu Melati menghampiri dengan teh dan makanan untuk Ailee. Ia tersenyum melihat Ailee yang sampai ketiduran.


"Mah, ada makanan nggak? Itu si Ailee kasihan pasti belum makan tadi," seru Binar. Lelaki tampan itu baru saja keluar dari kamarnya dengan menggosok rambutnya yang basah karena baru saja keramas.


"Ssttt, udah Mama siapin. Pelankan suaramu, calon menantu mama lagi tidur," sahut Bu Melati memperingatkan Binar.


"Apaan sih, Mah..."


Wajahnya memerah menahan malu, tapi tak bisa dipungkiri juga Binar suka dengan perkataan perempuan yang telah melahirkannya itu.


.


.


.


Beberapa episode lagi tamat😂


gmna menurut kalian? mau berapa episode? kalau aku sih cukup 38/40 episode aja🥰😂


Jgn lupa kasih saran ya guys, makasi😍