
Mereka singgah sebentar di salah satu restoran untuk menikmati santap siang. Binar masih terdiam– terngiang terus dengan perkataan papa mertuanya tadi. Tapi beruntung Ailee membela dirinya, Binar sangat bangga dengan wanita itu. Ailee memang benar-benar berbeda dengan para wanita di dunia.
"Hubby, coba minum es jerukku, masa iya rasanya pahit," ujar Ailee menyodorkan jus jeruk yang baru saja dihidangkan di depannya.
"Sama seperti biasanya? Enak loh," ucap Binar setelah mencoba jus jeruk Ailee.
"Tidak enak, Hubby. Ehm...bolehkah kita bertukar minuman?" tanya Ailee memasang puppy eyes-nya. Ia ingin sekali bertukar dengan jus alpukat yang dipesan Binar. Lelaki itu pun mengangguk membiarkan Ailee mengambil jus alpukat miliknya.
B'steak grill telah berada di hadapan mereka. Terlihat menggoda dan aromanya sudah tercium di indera penciuman. Sangat menggugah selera.
"Itadakimasu!" seru Ailee seperti biasanya. Jiwa Jepang masih melekat dalam dirinya.
Dipotonglah daging itu sesuai dengan kapasitas mulutnya nanti. Kemudian, dimasukkan ke dalam mulut. Dikunyah dan diresapi bumbunya. Daging sangat empuk, tapi bumbunya terasa aneh saat di mulut. Belum sempat tertelan, Ailee buru-buru mengambil tisu dan mengeluarkannya kembali.
Binar pun mengernyit menatap istrinya yang tiba-tiba begitu. Tak seperti biasanya, padahal Ailee selalu makan apapun yang ada meskipun rasanya tak begitu nikmat.
"Apa ada yang salah?" tanya Binar seraya mencari sesuatu yang kemungkinan membuat Ailee tak suka. Tapi steak milik Ailee tak ada suatu pun yang aneh, makanan itu sama seperti makanan yang Binar makan.
"Cuma rasa lada! Tidak enak," ucapnya seperti anak kecil. Ailee lalu meneguk jus alpukat itu hingga tandas berusaha menghilangkan rasa aneh di mulutnya tadi.
Merasa tak percaya, Binar pun mencicipi daging steak milik istrinya itu. Rasanya sama seperti miliknya–enak.
"Rasanya sama, Sayang. Enak loh, coba punyaku saja," ucap Binar sembari menyuapi sepotong daging ke mulut istrinya.
Dan benar saja, Ailee merasakan jika daging steak milik suaminya jauh lebih enak dari miliknya. Ia pun meminta bertukar steak. Binar hanya mengiyakan, hari ini banyak hal aneh yang terjadi pada istrinya. Semoga hanya hari ini saja.
...*****...
Meski pergantian tahun masih lama, mereka sudah berkumpul di rumah Kimmy dan juga Bryan sore harinya. Di taman depan rumah itu telah tertata rapi bahan-bahan untuk barbeque-an malam nanti dan juga makanan lain yang siap menemani mereka bergadang.
Aiden sudah bersama Sora dan anaknya yang masih dalam gendongan duduk di tikar yang tergelar di rumput taman itu. Bryan dan Kimmy pun bergabung dengan mereka, bercanda gurau dengan Aiden kecil. Lucu sekali sama seperti Aiden dulunya. Ada juga seorang anak 'hasil kecelakaan' yang kini dirawat Aiden dan Sora sepenuh hati. Sama-sama lucu dan menggemaskan.
Sedangkan Binar dan Ailee malah asyik memanggang daging dan sosis. Mereka masih lapar, jadi mendahului yang lain.
"Itu buat nanti malam juga loh, jangan dihabiskan," seru Kimmy memperingatkan. Ia takut jika sosis, bakso, dan beragam daging sudah habis sore itu dan malam nanti tak jadi barbeque-an.
"Santai saja!" sahut Ailee. Gadis itu senang sekali saat membakar sosis dan daging. Lama ia tak melakukan barbeque-an seperti ini. Dan ini adalah kali pertamanya melakukan barbeque dengan sang suami.
Belum sempat dipindah ke piring, Binar sudah menyumpit daging yang telah matang dan memakannya. Membuat Ailee kesal, dia belum sempat mencicipinya tapi sudah dimakan sang suami.
"Hubby!" gertak Ailee membuat Binar mendelik, lelaki itu lalu berlari sebelum sang istri memukulinya.
Ailee dan Binar pun membuat yang lain kebingungan tak tahu apa penyebab mereka berlarian ke sana kemari. Tapi yang terpenting momen itu tak lupa diabadikan. Ailee yang sedang membawa capitan dan pisau mengejar Binar dengan ganasnya membuat mereka terpingkal-pingkal melihatnya.
"Jangan ngambek dong, nih aku bakarin yang banyak," ucap Binar mencubit pipi istrinya. Ailee tak bergeming, ia tetap melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya.
Tak lama kemudian, beberapa daging dan sosis yang telah dibumbui sedemikian rupa sudah matang. Disajikanlah daging dan sosis itu ke dalam piring dan disuapkan kepada Ailee yang masih merajuk.
Wanita itu menggeleng ketika Binar hendak menyuapinya lagi. Ia menutup mulutnya rapat enggan untuk menerima suapan.
"Hubby, aku sudah kenyang. Kamu saja yang habiskan ya? Sini aku suapin!" ucap Ailee membuat Binar membelalak. Tadi wanita itu menyuruh memasak daging sebanyak mungkin, dan sekarang malah tak mau memakannya.
Lelaki itu pun terpaksa menerima suapan demi suapan dari istrinya. Ailee tak sabar, ia tetap memasukkan daging maupun sosis meski mulut Binar penuh. Lelaki itu pun kewalahan mengunyah. Saus dan mayonnaise belepotan di mulutnya membuat Ailee terpingkal-pingkal.
"Sudah–" ucap Binar dengan mulut penuh. Ailee tak membiarkannya berhenti, ia terus saja mengisi mulut Binar. Dan pada akhirnya sepiring besar daging dan sosis telah habis tertelan Binar, ia pun jadi kekenyangan. Perutnya membuncit, untuk meneguk air putih saja dirasa tak sanggup lagi. Istrinya benar-benar menyebalkan.
Perlahan waktu mulai berjalan, langit telah menggelap sempurna. Mereka baru saja menunaikan solat isya berjamaah. Binar dan Ailee pun tiduran di tikar seraya menatap langit yang kebetulan penuh dengan bintang bertebaran.
Sedangkan yang lain masih asyik memanggang daging serta sosis. Binar dan Ailee sudah tak mood lagi, makanya mereka tak ikut. Berbantal tangan Binar, Ailee nyaman sekali berbaring meski hanya beralaskan tikar. Berkali-kali yang lain berdehem bermaksud mengganggu, tapi Binar dan Ailee acuh. Mereka malah semakin mesra saja.
"Hari ini kamu aneh sekali. Apa kamu baik-baik saja?" tanya Binar kepada Ailee yang masih asyik menatap bintang.
"Aneh bagaimana? Bukankah aku biasa saja hari ini?" tukas Ailee. Ia merasa tak ada yang salah dengan dirinya tapi kenapa suaminya malah begitu.
Mereka kembali terdiam, udara semakin dingin saja. Beruntung Ailee tadi membawa selimut dari rumah, jadi tak kedinginan lagi. Dan lambat laun, wanita itu terpejam sembari memeluk sang suami. Binar membiarkannya karena ia tahu pasti istrinya itu lelah sekali. Tangannya yang mulai pegal karena ditindih kepala Ailee pun segera ia gantikan dengan bantal sofa yang diambil dari rumah Kimmy.
"Hey, kenapa kamu malah tidur?" seru Kimmy menghampiri Ailee, ia pun gemas dan menendang kaki sahabatnya itu tapi tak kunjung bangun juga.
"Sudahlah, biarkan saja. Nanti kita bangunkan kalau sudah pergantian tahun," ucap Binar, ia pun segera membenarkan selimut yang berantakan karena ulah Kimmy tadi.
Kimmy, Bryan, Aiden, dan Sora pun ikut merebahkan diri di samping Ailee dan Binar. Mata mereka tertuju pada bintang yang kala itu memang cantik sekali. Sedikit obrolan ringan pun terselip dan gelak tawa pun mengiringinya.
Awalnya memang segan karena ada Binar di mana lelaki itu dahulunya adalah guru mereka, tapi kini merangkap menjadi sahabat. Dan di sini yang merasa paling aneh adalah Aiden.
"Aiden..." seru Bryan. Sang pemilik nama pun berdehem menyahut.
"Kamu memanggil Pak Binar apa sekarang? Adik ipar atau Pak Bin?" tanya Bryan penasaran.
Aiden dan Binar lalu saling pandang. Binar kini statusnya adalah adik Aiden, tapi dirinya jauh lebih tua usianya dari Aiden. Haruskah ia memanggilnya adik? Itu terkesan tak sopan, kalau memanggil Binar dengan sebutan kakak, itu juga tak baik. Aiden pun selalu masygul.
"Iya juga ya, berarti Pak Binar harus memanggil Aiden dengan sebutan kakak dong sama kaya Ailee," timpal Kimmy kebingungan juga dibuatnya.
"Suamiku selalu bingung dengan hal itu. Mari kita putuskan dia harus memanggil dengan sebutan apa. Pak Bin atau adek Binar?" ucap Sora menimpali. Ia terkekeh pula, tiap hari suaminya selalu bertanya kepadanya akan hal itu.