Perfect Duda

Perfect Duda
Ruang Tunggu



Siang begitu terik. Mentari bersinar cerah kali ini. Cuaca sedang bagus-bagusnya. Sudah tiba waktunya menjemput Clarissa. Biasanya memang Bu Melati yang menjemput, tapi beliau sedang tak enak badan jadi harus Ailee yang menjemput.


Dengan menggunakan mobil hadiah dari papanya ketika wisuda dulu, ia menuju ke sekolahan Clarissa. Di rumah Binar memang ada beberapa mobil dan Ailee diperbolehkan menggunakannya, tapi anak itu terlalu menyayangi pemberian sang papa dan memilih untuk bermobilitas dengan mobil tersebut.


Sekolah berstandar internasional itu ramai sekali, para orang tua berbondong-bondong menjemput anaknya. Clarissa biasanya menunggu di ruang tunggu sekolahan bersama teman-temannya yang lain. Kali ini Clarissa bersama orang asing, tak jelas karena posisi wanita itu membelakangi Ailee.


Semakin dekat dan jelas, ternyata wanita yang duduk bersama Clarissa itu adalah Maya. Sontak saja Ailee langsung membawa Clarissa ke pelukannya.


"Ailee, biarkan aku bersama Clarissa sebentar..." seru Maya mengikuti langkah Ailee yang sudah berlalu hendak meninggalkan sekolahan itu.


"Maaf, Mbak. Clarissa harus segera pulang dan saya juga harus kembali bekerja."


"Mah, kata tante itu dia Mama kandungnya Clarissa. Apa itu benar?" Pertanyaan Clarissa mengejutkan Ailee. Wanita itu pun terhenti menatap anak yang berada di pelukannya. Ia menatap Maya yang berada di belakangnya sedari tadi mengikuti dirinya.


"Clarissa berhak tahu. Aku ibu kandungnya, biarkan aku bersama anakku sebentar saja..." ucap Maya mengatupkan kedua tangannya dan matanya berkaca-kaca membuat Ailee iba melihatnya.


Tapi Ailee begitu kesal dengan Maya. Belum saatnya Clarissa tahu, dia masih kecil kasihan jika terus kepikiran dengan hal itu.


...*****...


Di sana, di sebuah kafe ternama di ibukota telah duduk dua orang lelaki dewasa seumuran. Dulunya menjalin sahabat, tapi kemudian terputus karena pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu di antara mereka.


Marvel dan Binar. Marvel memang sengaja menghampiri Binar ke sekolahan tadi, dia pun meminta waktu Binar sebentar karena ada hal yang harus dibicarakan. Binar pun mengiyakan karena dia juga ingin membicarakan sesuatu, dan beruntungnya itu adalah jam istirahat jadi tak apa jika harus keluar sekolah.


"Mungkin kamu sudah tahu apa yang ingin aku bicarakan." Lelaki berpenampilan mewah nan elegan ciri khas pengacara itu menghela napas sejenak sebelum melanjutkan pembicaraannya. "Aku ingin Clarissa kembali denganku, Bin. Biarkan aku merawatnya dan membesarkannya," lanjutnya kemudian.


Binar menatap sengit mantan sahabatnya itu. Ia meneguk kopi yang baru saja disuguhkan pelayan sebelum angkat bicara.


"Clarissa sudah menjadi milikku. Kamu dan istrimu sendiri yang dulu menyetujui jika aku mangadopsinya. Lalu, kenapa sekarang kalian meminta kembali?"


"Rahim Maya diangkat karena dulu mengalami pendarahan hebat ketika hamil. Sekarang kami tak bisa memiliki keturunan lagi." Marvel berucap sendu sembari memutar cangkir kopinya sebelum diteguk. Ia tersenyum sendu mengingat kejadian itu.


Binar sedikit kasihan mendengarnya. Terkuak jelas hal apa yang menyebabkan Marvel dan Maya begitu menginginkan Clarissa kembali. Tapi menyerahkannya begitu saja itu sangatlah sulit, Binar dan Ailee terlalu menyayangi Clarissa.


"Aku turut prihatin mendengarnya. Tapi kamu tahu sendiri bukan jika aku dan istriku begitu menyayangi Clarissa. Aku juga tak yakin jika harus menyerahkan Clarissa kembali kepada kalian ketika mengingat hal apa yang telah terjadi selama ini."


Marvel mengangguk. Ia tahu betul pasti Binar tak percaya jika dirinya dan sang istri akan merawat Clarissa sebaik mungkin. Tapi Marvel dan Maya akan memastikan jika apa yang dipikirkan Binar itu salah.


"Kamu masih bisa memiliki keturunan, sedangkan aku dan Maya tak bisa lagi..." Marvel mengusap wajahnya seakan menahan sesuatu yang hendak keluar mewakili perasaannya.


...*****...


Duduklah seorang perempuan cantik yang sedang menyaksikan anak dan ibu kandungnya tengah beradu kehangatan. Saling suap dan bercanda ria seakan telah lama akrab, padahal baru beberapa kali bertemu saja.


Sedih dan senang melihat Clarissa yang bisa menerima kedatangan Maya. Dan ketakutan masih menjelma menjadi musuhnya saat ini. Takut betul wanita itu jika Clarissa benar-benar pergi bersama ayah dan ibu kandungnya– mencari bahagia yang memang benar patut digapai.


Permohonan dari Maya yang menginginkan untuk bersama Clarissa pun diiyakan Ailee. Ia hanya tak ingin menjadi orang jahat yang tega membuat seorang ibu jauh dengan anaknya.


"Ailee, apa aku dan suamiku boleh menemui Clarissa tiap harinya?" seru Maya. Ia berhenti sejenak menyuapi Clarissa.


Ailee hanya mengangguk. Melihat perlakuan Maya yang begitu memanjakan dan terlihat menyayangi Clarissa membuatnya tak takut jika membiarkan anak angkatnya itu bermain dengan Maya. Bagaimanapun juga Maya tetap berhak bertemu dengan Clarissa. Meski surat adopsi begitu jelas, tapi bagaimanapun juga Maya adalah ibu kandungnya sampai kapan pun.


Clarissa belum tahu betul apakah Maya adalah ibu kandungnya. Ailee dan Binar masih terus merahasiakan meski anak itu juga terus saja bertanya. Maya dan Clarissa menjadi dekat hingga kurang lebih satu bulan mereka bersama. Terkadang Maya juga tak segan mampir ke rumah Binar hanya untuk bermain dengan Clarissa. Begitu juga dengan Marvel, sepulang bekerja ia menyempatkan diri untuk mengunjungi anaknya.


Melihat kedekatan Clarissa, Maya, dan Marvel membuat Ailee, Binar, dan Bu Melati senang. Dulu mereka menyia-nyiakan Clarissa, tapi sekarang telah berubah drastis. Marvel dan Maya begitu menyayangi Clarissa dan mengharap anak itu kembali ke pangkuan mereka.


Jahat memang jika tak membiarkan keluarga itu bersatu, tapi melepaskan Clarissa adalah hal yang sangat sulit. Sejak bayi hingga berusia tujuh tahun, Binar dan Bu Melati merawatnya sebaik mungkin. Bahkan mereka juga tak pernah jauh darinya sedetik pun. Binar terlalu jauh menyayanginya dan sudah menganggapnya anak sendiri, begitu pula dengan Bu Melati yang menganggap Clarissa sebagai cucu kandungnya sendiri.


"Hidung Clarissa sama Papa Marvel kok mirip ya. Lihat ini... Kalau Papa Marvel senyum juga hampir sama kaya Clarissa," seru Clarissa yang berada di pangkuan Marvel seraya menunjuk hidung dan bibir lelaki itu yang melengkung.


"Masa sih? Wahh, Clarissa begitu jeli ya sama Papa Marvel," sahut Marvel seraya memberi kecupan begitu lama di pipi anak itu. Kebahagiaan tersendiri baginya setelah sekian lama akhirnya bisa merasakan memeluk dan memangku anaknya sendiri.


"Yah, Clarissa cuma mirip sama Papa Marvel, ya? Sama Mama Maya nggak ada nih?" celetuk Maya. Wanita itu duduk di samping suaminya dan asyik bersenda gurau dengan Clarissa juga.


"Kata temen Clarissa kita itu mirip sama papa dan mama kita. Clarissa mirip sekali dengan Papa Marvel dan Mama Maya, padahal Clarissa anaknya Papa Binar sama Mama Ailee," ujar anak itu membuat semua yang tengah berkumpul di ruang tamu rumah Binar itu terhenyak.


Marvel dan Maya memang orang tua kandungnya. Haruskah semua orang yang di sana memberitahunya saat itu juga? Sungguh, menyembunyikan ini juga sama saja menyakiti hati. Sesak rasanya ketika mendengarnya terus berbicara seperti itu.


.


.


.


Selamat hari Senin 🥰


Jangan lupa vote buat Binar & Ailee